TAUSIYAH


HIDUPMU UNIK

Sahabat, Allah SWT yang Maha Agung, Penguasa langit dan bumi menciptakan makhluk yang luar biasa banyaknya dengan unik, manusiapun diciptakan dengan unik pula, mulai dari cap jempol, retina mata,rupa, karakter, bakat, rejeki,jodoh, dan perjalanan hidupnyapun unik dan berbeda satu sama lain walau dia adalah kakak beradik kembar.

zaman reuni sekolah misalnya, ketika bertemu kembali masing-masing menjadi berbeda jalan hidupnya dan unik.

Tapi yang harus kita yakini bahwa setiap orang adalah milik Allah, urusan setiap orang pun ada dalam genggaman Allah. Dan hanya Allah-lah yang Maha Tahu apa yang cocok dan terbaik bagi makhluk-Nya.Ini penting di fahami agar kita bisa lebih mencermati hidup dengan baik. Perjalanan hidup harus dijalani episode demi episode apakah itu episode yang menyenangkan atau terasa pahit bagi kita.

Tetapi bagi orang yang beriman, tidak ada episode hidup yang merugikan bagi dirinya,karena setiap episodenya digunakan untuk terus mengevaluasi diri, mensucikan diri �Sungguh beruntunglah orang yang telah menyucikan dirinya, dan sungguh merugilah orang yang mengotoridirinya.� (Qs. Al-Syams [91]:9-10) dan episode demi episode hidup ini digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

Dia menciptakan manusia dengan sangat sempurna, dan Dia-pun (Allah) sangat menginginkan agar kita (manusia) bisa kembali kepada-Nya dengan bersih dari gelimang dosa dan supaya kita bisa masuk ke dalam syurga-Nya nanti.

Jadi setiap episode kehidupan ini merupakan media dari Allah SWT agar kita bisa bersih dari kemusyrikan, kemunafikan dan bisa lebih mendekat kepada-Nya.Dan Allah pun membersihkan hamban-Nya dengan cara yang unik .

Kadang kita tidak faham akan cara Allah SWT membersihkan seseorang, cara Allah menuntun seseorang untuk dekat dengan-Nya.Tidak bisa kita bandingkan cara, strategi, Perencanaan Allah dalam menuntun hamba-Nya dengan persangkaan dan ilmu kita yang sangat terbatas ini.

Sering kali banyak hal yang tidak terjangkau oleh pikiran kita bahkan sering pula berburuk sangka dengan rencana Allah, tetapi setelah dijalani barulah kita sadari akan kebaikan yang ada di balik semua itu.

Maka hal pertama yang harus dilakukan pada saat menghadapi suatu hal adalah berhusnudzhan (berbaik sangka) kepada Allah, bahwa mungkin inilah cara Allah menuntun kita agar bersih dan selamat dengan memiliki Qolbun Salim. Kalau tujuan hidup seseorang itu ingin mendekat pada Allah,ingin dicintai oleh Allah maka episode-episode kehidupan unik yang kadang terasa getir dan pahit ini akan mengarahkannya kepada kesempurnaan hidup sebagai manusia.

Ingatlah garis hidup kita adalah; Allah tujuan dan makhluk adalah ujian.Timbul pertanyaan ketika ada ujian, apakah ujian ini sebagai peningkat derajat ataukah penggugur dosa ? bedanya adalah kalau ujian ini terasa pahit dan getir ke hati, maka penyebabnya adalah kesalahan dan dosa yang lalu tapi kalau terasa ringan dalam menghadapinya, insya Allah itu merupakan ujian sebagai peningkat derajat.

Sahabat , Allah SWT sangat tahu persis akan penyakit di hati kita, akan tingkat kemusyrikan dan kemunafikan kita,begitu pula Allah sangat tahu dengan apa (dengan ujian apa) kita bisa dibersihkan. Maka berhusnudzhanlah akan semua rencana Allah terhadap diri kita. Hasbunallah wani�mal wakil ni�mal maula wa ni�ma nashir.





BAGAIMANA CARA ALLAH MENGAWASI

Bagaimana dengan Yang Maha Mengetahui mengawasi kita? Allah SWT mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tidak ada lengah.

Didalam melakukan pengawasan, ada 3 cara yang dilakukan Allah SWT:

1. Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung.

Tidak tanggung-tanggung, Yang Menciptakan kita selalu bersama dengan kita dimanapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka Dia yang keempat. Bila kita berlima, maka Dia yang keenam (QS. Al Mujadilah 7). Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu lebih dekat dari urat leher kita.
�Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.� (QS. Qaaf 16)

2. Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat.

�ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.� (QS. Qaaf 17)
Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang baik maupun yang buruk; yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan kepada kita (QS. Al Kahfi 49).

3. Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri.

Ketika kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian sebenarnya.

�Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.� (QS. Yaasiin 65)

Kesimpulannya, kita hidup tidak akan bisa terlepas dimanapun dan kapanpun saja dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat maksiyat. Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT. Yakinlah bahwa perbuatan sekecil apapun akan tercatat dan akan dipertanyakan oleh Allah SWT dihari perhitungan kelak. Wallahu a�lam bish showab





MENGENAL TIGA TANDA KEMATIAN

Dikisahkan bahwa malaikat maut (Izrail) bersahabat dengan Nabi Ya'kub
AS. Suatu ketika Nabi Ya'kub berkata kepada malaikat maut. "Aku
menginginkan sesuatu yang harus kamu penuhi sebagai tanda persaudaraan
kita."

"Apakah itu?" tanya malaikat maut. "Jika ajalku telah dekat, beri tahu
aku." Malaikat maut berkata, "Baik aku akan memenuhi permintaanmu, aku
tidak hanya akan mengirim satu utusanku, namun aku akan mengirim dua
atau tiga utusanku." Setelah mereka bersepakat, mereka kemudian
berpisah.

Setelah beberapa lama, malaikat maut kembali menemui Nabi Ya'kub.
Kemudian, Nabi Ya'kub bertanya, "Wahai sahabatku, apakah engkau datang
untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"

"Aku datang untuk mencabut nyawamu." Jawab malaikat maut. "Lalu, mana
ketiga utusanmu?" tanya Nabi Ya'kub. "Sudah kukirim." Jawab malaikat,
"Putihnya rambutmu setelah hitamnya, lemahnya tubuhmu setelah
kekarnya, dan bungkuknya badanmu setelah tegapnya. Wahai Ya'kub,
itulah utusanku untuk setiap bani Adam."

Kisah tersebut mengingatkan tentang tiga tanda kematian yang akan
selalu menemui kita, yaitu memutihnya rambut; melemahnya fisik, dan
bungkuknya badan. Jika ketiga atau salah satunya sudah ada pada diri
kita, itu berarti malaikat maut telah mengirimkan utusannya. Karena
itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk
menghadapi utusan tersebut.

Kematian adalah kepastian yang akan dialami oleh setiap manusia
sebagaimana yang telah ditegaskan dalam firman Allah SWT, "Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Karena itu, kita berharap agar saat menghadapi kematian dalam keadaan
tunduk dan patuh kepada-Nya. "Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama
Islam." (QS Ali Imran [3]: 102).

Tidaklah terlalu penting kita akan mati, tapi yang terpenting adalah
sejauh mana persiapan menghadapi kematian itu. Rasulullah SAW
mengingatkan agar kita bersegera untuk menyiapkan bekal dengan beramal
saleh. "Bersegeralah kamu beramal sebelum datang tujuh perkara:
kemiskinan yang memperdaya, kekayaan yang menyombongkan, sakit yang
memayahkan, tua yang melemahkan, kematian yang memutuskan, dajjal yang
menyesatkan, dan kiamat yang sangat berat dan menyusahkan." (HR
Tirmidzi).

Bekal adalah suatu persiapan, tanpa persiapan tentu akan kesulitan
dalam mengarungi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Oleh karena
itu, "Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS
Al-Baqarah [2]: 197).



HIDUP DAN KEIMANAN

Dari Abdullah bin Mas�ud r.a, ia berkata bahwa
Rasulullah saw. telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang
yang paling benar dan dibenarkan perkataannya, �Sesungguhnya sebagian
kalian dikumpulkan bahan ciptaannya di rahim ibunya 40 hari dalam
bentuk nuthfah. Kemudian menjadi �alaqah dalam masa yang sama (40
hari), kemudian menjadi mudghah dalam masa yang sama (40 hari).
Kemudian Allah mengutus malaikat kepada ciptaan itu, lalu malaikat
meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat
ketetapan; Ketetapan rezki; Amal perbuatannya; Ajal usianya; Dan
nasibnya di akhirat, sengsara (penghuni neraka) atau bahagia (penghuni
surga). Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada
salah seorang dari kalian yang melakukan perbuatan penghuni surga
hingga antara jarak antara dia dengan surga sejauh satu hasta, lalu
catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan hingga ia
melakukan perbuatan penghuni neraka dan (akhirnya) ia masuk ke dalam
neraka. Dan sesungguhnya ada orang yang melakukan perbuatan penghuni
neraka hingga jarak antara dia dengan neraka sejauh satu hasta, lalu
catatan takdirnya yang lebih dulu telah menggariskan, hingga ia
melakukan perbuatan penghuni surga dan (akhirnya) ia masuk ke dalam
surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Bunyi hadits di atas adalah:

???? ?????? ??????? ??? ??????? ????? ????? ????? ????? ??????????
??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ?????? ??????????
???????????? ????? ?????????? ???????? ???????? ??? ?????? ???????
??????????? ??????? ????? ??????? ??? ?????? ???????? ?????? ??????
????? ??????? ??? ?????? ???????? ?????? ?????? ????? ????????
????????? ?????????? ????? ???????? ?????????? ?????????? ?????????
???????? ???????? ?????????? ?????????? ????????? ???? ???????
??????????? ??? ?????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ????????
?????? ?????????? ?????? ??? ??????? ???????? ??????????? ??????
??????? ?????????? ???????? ?????????? ?????????? ???????? ??????
???????? ????????????? ??????? ?????????? ?????????? ???????? ??????
???????? ?????? ??? ??????? ???????? ??????????? ?????? ???????
?????????? ???????? ?????????? ?????????? ???????? ?????? ??????????
????????????? (???? ??????? ?????)

Tentang Hadits

Hadits ini adalah salah satu hadits yang disepakati keshahihannya oleh
Imam hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim bahwa Al-A�masy telah
menceritakan kepada Abu Bakar bin Abu Syaibah, Abu Mu�awiyah, Waki�,
Muhammad bin Abdullah bin Numair Al-Hamdani dari Zaid bin Wahab dari
Abdullah bin Mas�ud r.a.

Telah diriwayatkan bahwa Muhammad bin Yazid Al-Ashfathi bermimpi
bertemu Nabi saw, lalu ia bertanya, �Wahai Rasulullah, apakah riwayat
Abdullah bin Mas�ud yang ia ceritakan dari Engkau bahwa ia berkata,
�Rasulullah telah menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang
yang benar dan dibenarkan perkataannya, memang demikian? Rasulullah
menjawab, �Demi Zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh aku telah
menceritakan hadits itu kepadanya�. Kalimat itu diulangnya tiga kali,
lalu ia berdoa, �Semoga Allah mengampuni Al-A�masy sebagaimana ia
menceritakan hadits ini dan semoga Allah mengampuni orang sebelum
Al-A�masy yang menceritakan hadits ini dan juga orang yang
menceritakan hadits ini setelah Al-A�masy.

Seperti disebutkan dalam hadits bahwa sebaik-baik manusia adalah orang
yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka menyampaikan hadits
atau ilmu agama kepada manusia termasuk memberikan manfaat kepada
orang lain. Dengan ilmu agama, orang akan mengetahui hal-hal yang ia
perlukan dalam mengarungi kehidupan.

Perawi memberikan penekanan dengan ungkapan ?????? ??????????
???????????? (Dialah yang benar dan dibenarkan perkataannya) karena
memang yang akan disampaikan atau yang akan diriwayatkan ini adalah
perkara yang tidak atau belum diketahui manusia, terutama pada masa
setelah masa Rasulullah saw, yaitu perihal proses penciptaan manusia.

Dunia kedokteran baru-baru saja mengetahui bahwa proses penciptaan
manusia terjadi sama seperti yang diceritakan oleh Rasulullah saw, 15
abad yang lalu ketika manusia atau tabib belum mengetahui pasti proses
penciptaan manusia.

Di Antara Pelajaran Dari Hadits

Pelajaran pertama; Matan hadits ini diawali dengan penegasan parsial
yang tidak menyeluruh, yaitu ????? ?????????? (Sesungguhnya salah
seorang kalian). Ungkapan ini adalah ungkapan yang sangat bijak dari
Rasulullah saw, dan ungkapan yang komitmen dengan ilmu yang
dimilikinya. Ungkapan ini menegaskan bahwa sebagian manusia diciptakan
Allah dengan proses yang disebutkan di dalam hadits dan sebagian
lainnya Allah sendiri yang menciptakannya.

Proses penciptaan Adam dan Hawa tidaklah sama dengan proses penciptaan
anak keturunannya. Nabi Adam diciptakan langsung oleh Allah seperti
yang diceritakan di dalam Al-Qur�an surat Al-Hijr ayat 28-29:

?????? ????? ??????? ??????????????? ?????? ??????? ??????? ????
????????? ???? ?????? ????????? ??????? ??????????? ?????????? ?????
???? ?????? ???????? ???? ??????????

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,
�Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke
dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud.

Juga di dalam surat Shad ayat 71-72, Allah menegaskan:

???? ????? ??????? ??????????????? ?????? ??????? ??????? ???? ?????
??????? ??????????? ?????????? ????? ???? ?????? ???????? ????
??????????

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, �Sesungguhnya Aku
akan menciptakan manusia dari tanah�. Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah
kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya�.

Tidak seperti proses penciptaan anak keturunan Adam, nabi Adam
diciptakan Allah dari tanah atau tanah liat atau lumpur hitam seperti
disebutkan dalam ayat-ayat di atas dan kemudian Allah
menyempurnakannya, lalu Allah juga yang meniupkan ruh ke dalam jasad
Adam a.s.

Karena itu ada beberapa ungkapan di dalam Al-Qur�an atau Hadits yang
menggunakan bentuk jamak untuk beberapa perbuatan rabb, seperti
�?????? ????????? ?????????? ??? ??????� atau �?????? ?????????
?????????? ??? ???????? ?????????�. Kata �?????????� (Kami telah
menciptakan) mengisyaratkan bentuk jamak subyek suatu perbuatan.

Jika kita teliti dengan seksama, maka secara aqidah pernyataan ini
tidak bertentangan dengan aqidah tauhid. Allah menggunakan bentuk
jamak dalam beberapa perbuatan-Nya di dalam Al-Qur�an, karena tindakan
tersebut secara proses diwakilkan kepada tentara dan pembantu Allah,
yaitu malaikat-Nya yang telah diberikan tugas khusus. Malaikat akan
melakukan apa saja sesuai perintah Allah, �Wa yaf�aluuna maa
yu-maruun�.

Dalam proses penciptaan manusia, seperti disebutkan dalam beberapa
riwayat bahwa tiap fase penciptaan 40 harian itu, Allah mewakilkannya
kepada malaikat untuk menyempurnakan proses, hingga pada 40 hari yang
ketiga Allah mengutus malaikat yang akan meniupkan ruh ke dalam jasad
manusia dan mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh,
ketetapan rezki, amal perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat. Dengan
demikian, maka ungkapan khalaqnaa sangat tepat untuk menunjukkan bahwa
dalam proses penciptaan manusia, Allah kuasa untuk mewakilkannya
kepada malaikat-Nya. Itulah kekuasaan Allah. Allah mampu menciptakan
manusia tanpa diwakilkan dan mampu pula menciptakan manusia melalui
perwakilan-Nya. Sungguh Allah Maha Berkuasa dalam segala sesuatu.

Hadits ini juga membuktikan akan kebenaran ajaran Islam, karena
sebelum dunia kedokteran mengetahui proses penciptaan manusia, Allah
telah mengabarkan manusia melalui lisan nabi Muhammad saw.

Pelajaran Kedua; Manusia tidak tahu apa-apa dengan nasib orang lain.
Ada yang sejak muda hingga dewasa dikenal masyarakat sebagai orang
baik, orang shalih, ternyata di sisi Allah dia termasuk penghuni
neraka. Ia menutup usianya dengan perbuatan penghuni neraka hingga ia
termasuk penghuni neraka.

Ungkapan ?????????? ???????? ?????? ???????? ????????????? dan
?????????? ???????? ?????? ?????????? ????????????? disebutkan dalam
riwayat lain dengan ungkapan ????????? ???????? ?????? ????????
????????????? (kemudian ia tutup dengan perbuatan penghuni neraka dan
ia masuk ke dalam neraka) menunjukkan bahwa kebaikan itu akan kekal
dengan keikhlasan, sebagaimana pahala amal shalih akan langgeng, tidak
berkurang jika tetap dijaga keikhlasan, sebelum berbuat, saat berbuat
dan setelah berbuat.

Jika seseorang hanya ikhlas ketika akan berbuat, maka belum ada
jaminan pahala yang ia dapatkan akan sempurna, karena bisa saja ia
merusak keikhlasan itu dengan riya, dengan kata-kata yang menyakiti
orang lain yang kita bantu atau lain perbuatan yang bisa merusak
pahala amal.

Karena itulah ada orang yang dikenal masyarakat sebagai orang baik,
tetapi di sisi Allah ia hanyalah orang yang mengharapkan pujian
manusia.

Sebaliknya ada juga orang yang sulit berbuat baik, karena lingkungan
atau sebab lain sehingga masyarakat memvonis dan memberi cap kepadanya
sebagai orang tidak baik atau orang jahat. Tetapi siapa yang tahu
takdir orang, kalau ternyata Allah justru telah menetapkan dia sebagai
penghuni surga, maka ia pasti akan menemukan saat dan tempat yang
tepat untuk bertobat dan berbuat baik hingga Allah menjemput ajalnya.

Kekuasaan Allah tidak sama dengan kuasanya manusia, maka takdir dan
ketetapan Allah itu adalah salah satu bukti kekuasaan Allah seperti
yang ditegaskan oleh Imam Ahmad ketika salah seorang muridnya bertanya
kepadanya tentang takdir dan beliau menjawab bahwa takdir itu adalah
bukti kekuasaan Allah.

Jika manusia mengetahui sesuatu setelah kejadian, maka Allah Maha
Mengetahui tentang segala kejadian. Sebelum, saat dan setelah kejadian
Allah Maha Mengetahui. Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu. Kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh dimensi apapun. Berbeda
dengan manusia yang serba terbatas. Dibatasi dimensi waktu, sehingga
kejadian esok tidaklah diketahuinya kecuali ketika saatnya tiba.
Manusia juga dibatasi oleh dimensi ruang, kejadian di Jakarta tidak
akan diketahuinya ketika ia berada tidak pada tempat kejadian. Atau
kalau sekarang dunia sudah modern, maka masih banyak lagi kejadian
yang berdimensi ruang dan waktu yang tidak diketahui oleh manusia.
Itulah keterbatasan manusia.

Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Allah Maha Berkuasa. Kuasa
menetapkan, kuasa membagi penghuni surga dan penghuni neraka. Semua
makhluk adalah milik Allah. Dia tidak akan ditanya atas segala
tindakan-Nya. Manusialah yang akan ditanya segala perbuatannya di sisi
Allah. Meskipun Allah tidak akan ditanya segala perbuatannya, tetapi
Allah sangat menepati segala janji-Nya. Allah berjanji akan memasukkan
orang yang berbuat baik dan beramal shalih ke dalam surga. Allah
berjanji akan mengampuni orang yang bertobat sebelum ajal sampai di
tenggorokan. Allah akan menyiksa orang yang berbuat dosa, meskipun
Allah juga bisa mengampuni mereka dan memasukkannya ke dalam surga.

Pelajaran Ketiga; Hal penting yang perlu ditekankan dan ditegaskan
adalah perkara rezki. Allah berjanji akan memberikan rezki kepada
siapa saja makhluk-Nya di muka bumi. Dalam surat Hud ayat 6
disebutkan, �Wamaa min daabbatin fil ardhi illaa �alallaahi rizquhaa
wa ya�lamu mustaqqahaa wamustauda�ahaa� (Dan tidak ada makhluk hidup
di muka bumi ini, kecuali Allah yang akan memberikan rezkinya. Dan Dia
mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya).

Kalau kita cermati, kita tidak akan cepat menyalahkan takdir atau
menyalahkan Allah, ketika kita disempitkan rezki oleh Allah. Pemberian
rezki bukanlah ukuran sayangnya Allah kepada manusia, karena semua
makhluk pasti akan diberikan rezki. Kita tidak boleh berbangga dengan
limpahan rezki dan tidak boleh berkecil hati dengan rezki yang
pas-pasan. Tiap manusia mempunyai jatah rezki yang berbeda dengan
jatah orang lain.

Orang lain tidak akan bisa merebut rezki orang lain. Inilah ungkapan
puncak ma�rifah kepada kekuasaan Allah seperti yang diungkapkan oleh
Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya oleh muridnya, �Wahai guruku, apa
rahasia zuhud baginda?� Kemudian Syeikh memberikan 4 rahasia dan salah
satu rahasianya adalah �alimtu anna rezqii laa ya-khudz ghairii
fatma-annat qalbii (aku tahu bahwa rezkiku tidak akan diambil oleh
orang lain, maka hatiku menjadi tenang).

Ketenangan mengarungi kehidupan adalah modal untuk sampai kepada
tujuan. Hati yang tenang akan banyak menyelesaikan permasalahan.
Ketenangan tidak akan datang dengan sendiri. Ketenangan adalah puncak
dari keimanan dan ingat kepada Allah. Iman yang didasari ma�rifah dan
ingat akan kehambaannya di sisi Allah Taala.

Ingatlah bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang. Wallahu a�lam









KETENTRAMAN HATI

'Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati kita menjadi
tenteram. (QS. ar-Raad : 28)

Mengingat Allah membuat hati kita menjadi tenteram. Mengingat Allah berarti
kita menyadari dan merasakan cahaya kasih sayang dan keberadaan Allah dihati
kita. Hadirkan kesadaran itu dari pikiran, mata, mulut, tangan, tubuh dan kaki
kita sebagai sebuah aktifitas penyebar kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Coba rasakan apa yang terjadi pada tubuh kita disaat kita menebarkan Kasih
SayangNya. Melempar sebuah senyuman. Bertegur sapa dengan tetangga. Membezuk
teman yang sakit. Menghadiri acara pernikahan teman. Membantu seorang nenek
menyeberangkan jalan. rasanya seluruh tubuh kita dipenuhi dengan rasa hangat
dan nyaman. Metabolisme tubuh kita terasa bugar, hati terasa tenteram dan hidup
seolah berada ditaman bunga, penuh kebahagiaan.

Coba bayangkan bila hati kita dipenuhi dengan amarah, kebencian dan kedengkian.
Ketika hati penuh kebencian, amarah dan kedengkian senantiasa kita melihat
persoalan dengan sudut pandang negatif. Ibaratnya bila kita menggunakan
kacamata hitam apapun yang kita lihat semuanya terasa gelap sekalipun di ruang
yang terang benderang. Maka membuat hati kita menjadi sakit. hati yang sakit
selalu sesungguhnya hati yang gelap. Kegelapan yang menyelimuti hati karena
dikotori oleh hawa nafsu dan ego yang tiada henti. Padahal dalam hati
senantiasa hadir cahaya kasihNya yang memberi penerangan. Maka buanglah bencimu.

Hidup dengan penuh kasih sayang Allah adalah hidup yang terindah. Menyadari dan
merasakan Kasih-Nya. Dengan demikian menyadari dan merasakan Kasih Sayang-Nya
telah membuat hati kita menjadi tenteram sehingga muncul kelapangan dan rasa
optimis di dalam hidup kita bahkan kemudian kita melanjutkan Kasih SayangNya
yang kita rasakan dengan berbagi dan peduli terhadap penderitaan sesama. Itulah
yang membuat hati kita menjadi tenteram.








MAMPUKAH KITA MENANGIS MALAM INI?

Duhai malam perlahan semakin kelam, Ketika manusia tidur, air mataku
bercucuran, jiwaku dirundung kesedihan dan penderitaan. Hilanglah kebahagiaan
dalam kegelapan Air mataku bercucuran, teringat beban dosa-dosaku yang telah
mengabaikan rahmatMu..

Itulah yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib dalam kitab 'Arwa al Asrar', Ali
Bin Abi Thalib senantiasa menunaikan sholat malamnya bersama para sahabatnya di
Kufah. Saat itu beliau sebagai Amirul Mukminin, tatkala selesai sholat beliau
duduk meneteskan air mata, penuh isak tangis dan wajahnya diselimuti dengan
kesedihan, Orang-orang yang berada disekitarnya tidak beranjak sedikitpun
sampai tiba waktu sholat subuh hingga terbit matahari.

Selesai sholat, Ali menggelengkan kepala, dengan berderai air mata dan penuh
kesedihan sambil mengucap, 'Demi Allah, aku telah melihat Rasulullah, apa yang
aku lihat hari ini adalah sama halnya yang dilakukan oleh Rasulullah, disetiap
sholat malam dimatanya basah dengan linangan air mata dan terdapat bekas-bekas
tanda sujud kepada Allah sepanjang malam, Rasulullah senantiasa membaca
al-Quran, apabila mengingat Allah sampai condong tubuhnya seperti meliuknya
pohon dihembus angin. Rasulullah juga bercucuran air mata sehingga membasahi
pakaiannya.

Itulah tangisan orang yang sholeh berharap rahmat Allah bahkan dahsyatnya
tangisan itu mampu membuat tubuhnya tersungkur karena takut akan kehilangan
rahmat Allah pada dirinya. Begitulah hamba-hamba Allah yang mampu meneteskan
air mata penuh harap atas rahmatNya. AIr mata itu tidak akan menetes bila hati
kita mengeras.

Mampukah kita menangis malam ini?








MANFAAT LUAR BIASA DARI WUDLU


Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus
neurology berkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan
terhadap wudlu. Ia mengemukakan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling
peka yaitu sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut
sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menghubungkan hikmah
wudlu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. Ia bahkan
merekomendasikan agar wudlu bukan hanya milik dan kebiasaan umat
Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan.

Dengan senantiasa membasuh air segar pada pusat-pusat syaraf tersebut,
maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat
sarafnya. Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama
menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Ulama Fikih juga menjelaskan hikmah wudlu sebagai bagian dari upaya
untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh
dalam air wudlu, seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki
memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing termasuk
kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh.

Ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudlu dengan menjelaskan bahwa
daerah-daerah yang dibasuh air wudlu memang daerah yang paling sering
berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah diraba, dipegang, dan
dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian muka.

Berapa orang yang jadi korban setiap hari dari mulut kita, berapa kali
berbohong, memaki, dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang
dimakan dan diminum. Apa saja yang baru diintip mata ini, apa yang
didengar oleh kuping ini, dan apa saja yang baru dicium hidung ini? Ke
mana saja kaki ini gentayangan setiap hari? Tegasnya, anggota badan
yang dibasuh dalam wudlu ialah daerah yang paling riskan untuk
melakukan dosa.

Organ tubuh yang menjadi anggota wudlu disebutkan dalam QS al-Maidah
[5]:6, adalah wajah, tangan sampai siku, dan kaki sampai mata kaki.
Dalam hadis riwayat Muslim juga dijelaskan bahwa, air wudlu mampu
mengalirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh mata, penciuman,
pendengaran, tangan, dan kakinya, sehingga yang bersangkutan bersih
dari dosa.

Kalangan ulama melarang mengeringkan air wudlu dengan kain karena
dalam redaksi hadis itu dikatakan bahwa proses pembersihan itu sampai
tetesan terakhir dari air wudlu itu (ma�a akhir qathr al-ma�).

Wudlu dalam Islam masuk di dalam Bab al-Thaharah (penyucian rohani),
seperti halnya tayammum, syarth, dan mandi junub. Tidak disebutkan Bab
al-Nadhafah (pembersihan secara fisik). Rasulullah SAW selalu berusaha
mempertahankan keabsahan wudlunya.

Yang paling penting dari wudlu ialah kekuatan simboliknya, yakni
memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang �bersih� dan
sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti
mendirikan shalat, menyentuh atau membaca mushaf Alquran. Wudlu
sendiri akan memproteksi diri untuk menghindari apa yang secara
spiritual merusak citra wudlu. Dosa dan kemaksiatan berkontradiksi
dengan wudlu.