Tampilkan postingan dengan label West Java Tourist Destination. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label West Java Tourist Destination. Tampilkan semua postingan

Kampung Kuta,Kampung Adat di Ciamis


Kampung Kuta.

Kampung Kuta terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Hingga sekarang penduduk kampung yang dikelilingi bukit dan tebing tinggi dan berjarak sekitar 45 kilometer dari Ciamis ini dikenal sangat menghormati warisan leluhurnya. Adat dan tradisi menjadi salah
satu peninggalan leluhur yang tak boleh dilanggar.

Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Salah satu warisan ajaran leluhur yang mesti dipatuhi masyarakat Kuta adalah pembangunan rumah. Bila
dilanggar, warga Kuta berkeyakinan, musibah atau marabahaya bakal melanda kampung mereka. Aturan adat menyebutkan rumah harus berbentuk panggung dengan ukuran persegi panjang. Atap rumah pun harus dari bahan rumbia atau ijuk. Begitu pula pembangunan rumah yang mensyaratkan tidak boleh menggunakan bahan semen, melainkan hanya memakai bahan dari kayu dan bambu. Kendati sederhana, model bangunan seperti itu memang dapat melindungi penghuninya dari berbagai macam gangguan, seperti binatang buas. Bahkan kalau dilihat dari bentuknya, rumah panggung yang terbuat dari bambu dan kayu itu tahan dari guncangan gempa.

Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Kepercayaan terhadap larangan dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan. Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah larangan,
yakni larangan memanfaatkan dan merusak sumber hutan,
memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh. Bahkan untuk memasuki Hutan Keramat ini pun tidak boleh memakai alas kaki, Tujuannya agar hutan tersebut tidak
tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka.

Masyarakat Kampung Kuta mengenal hutan karamat. Dipandang dari sudut etimologis, Kampung Kuta berarti kampung atau dusun yang dikelilingi �kuta� atau penghalang berupa tebing. Menurut cerita yang beredar pada masyarakat setempat, dahulu kala tebing itu berfungsi sebagai penghalang serangan musuh dari luar, ketika Kampung Kuta akan dijadikan sebuah kerajaan oleh Prabu Ajar
Sukaresi. Kisah tentang sepak terjang sang Prabu yang menjadi penguasa di Kampung Kuta sangat berpengaruh kepada warganya di kemudian hari. Sikap sang Prabu yang peduli pada lingkungan itu diteruskan kemudian oleh Ki Bumi yaitu seorang utusan Kerajaan Cirebon yang ditugaskan untuk membantu masyarakat Kampung Kuta menjaga wilayah peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Konon,
semula Prabu Ajar Sukaresi bermaksud membangun istana di wilayah tersebut, akan tetapi batal karena lokasi yang ditetapkan berada di tengah-tengah perbukitan. Sementara itu bahan-bahan
material yang berupa kayu, semen, batu dan bata bahkan besi sudah terkumpul hingga akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil. Kini lokasi tersebut berubah menjadi hutan yang dipercaya warga setempat sangat keramat. (Kusumah dalam Purba, 2003: 766-767).
Di wilayah hutan itu ditabukan untuk menyelenggarakan kegiatan duniawi dan dilarang untuk memanfaatkan segala sumber daya dari hutan. Segala sesuatu dibiarkan secara alami, masyarakat dilarang menebang pohon bahkan memungut ranting pun tidak diperkenankan. Jika melanggar tabu atau larangan itu, maka orang tersebut akan mendapatkan sanksi berupa malapetaka.
Larangan-larangan lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi,
seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang
mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-
larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan �kekuatan� yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan.

Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta sangat dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air.
Larangan para leluhur mungkin ada benarnya. Ini lantaran kondisi tanah yang labil di kampung ini dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. Terutama membuat sumur dengan cara menggali atau mengebor tanah.

Kedekatan masyarakat kampung adat dengan alam tidak hanya itu saja setiap tahunnya masyarakat kampung Kuta mengadakan Upacara Adat nyuguh. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu
upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya. Upacara ini bertujuan sebagai persembahan bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat kampung Kuta.

Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan memegang teguh budaya, pelestarian lingkungan di kampung ini bisa menjadi contoh bagi kita semua untuk tetap
menjaga kelestarian lingkungan dengan berpegang teguh kepada budaya lokal.

''Leuweung ruksak, Cai Beak, Anak Incu Balangsak.
''
READ MORE - Kampung Kuta,Kampung Adat di Ciamis

Kampung Naga yang exotis.


Kampung Naga

Kampung Naga adalah perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari,Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi
Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di
lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga.Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang
sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.


Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26
kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

Kampung Naga merupakan kampung yang sangat unik, dengan keteguhannya dalam memegang adat istiadat para leluhurnya.
Memasuki Kampung Naga kita akan disuguhi berbagai macam pantangan yang sama sekali tidak boleh di langgar, konon bila kita melanggar pantangannya, di kemudian hari kita akan mendapatkan suatu musibah yang tidak kita sangka-sangka.

Selain sangat unik Kampung Naga juga terkenal dengan keramahan khas Sundanya dalam menerima tamu atau
pendatang yang kebetulan singgah di kampung ini. Penduduk Kampung Naga sumuanya mengaku beragama Islam, akan tetapi sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat istiadat dan kepercayaan nenek moyangnya.

Jika kita berkesempatan singgah ke Kampung Naga, kita akan disuguhi bentuk bangunan atau rumah khas Kampung Naga yang berbentuk panggung, semua bahan bahannyapun harus terbuat dari
bambu dan kayu, sementara atapnya terbuat dari daun nipah, ijuk atau alang-alang. Lantai rumah juga harus terbuat dari bambu atau papan kayu,
tidak boleh di cat kecuali menggunakan kapur.

Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga memiliki pantangan atau tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan alat musik sejenis goong. Sedangkan kesenian
yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong. Namun demikian, warga Kampung Naga diperbolehkan menyaksikan pertunjukan Wayang atau kesenian lainnya asal berada diluar
Kampung Naga.

Seperti juga adat masyarakat Baduy Banten, warga Kampung Naga tidak memperkenankan barang atau peralatan modern masuk ke Kampung Naga.Sehingga jika kita memasuki areal Kampung Naga kita tidak akan mendengar suara radio yang mengalunkan musik musik merdu, namun kita pasti akan mendengar suara-suara serangga dan katak tatkala matahari akan terbenam ke peraduaannya.

Untuk buah tangan, anda tak perlu khawatir, karena disepanjang jalan menuju Kampung Naga banyak toko-toko yang menyediakan berbagai macam souvenir hasil kerajinan tangan warga Kampung Naga dan warga Tasikmalaya pada umumnya dengan harga yang sangat murah dan dengan pilihah yang
beraneka ragam.

Di luar itu semua, Kampung Naga pasti akan menyuguhkan nuansa lain dari Wisata Budaya manapun, karena masing-masing tempat atau lokasi wisata yang ada di Nusantara tercinta ini memilliki karakter yang berbeda dalam menyajikan keunikannya,maka tak ada salahnya jika anda bersama keluarga anda bisa sesekali mengunjungi Kampung Naga untuk sekedar mencari tahu ada apa sih di Kampung Naga.

Penulis: AMGD
READ MORE - Kampung Naga yang exotis.

Cirahong Uniques Railways Bridge.


Cirahong Bridge was built in 1893 which connecting Bandung city and Yogyakarta city.Cirahong Bridge was strengthened in 1934.

Until now,the bridge still stands sturdy. Construction materials using steel lateral plate, upper frame wall with continues lateral.Cirahong Bridge has uniqueness which is the only one bridge that has 2 functions. Upper part functioned as railway traffic. Below part is bridge that use for vehicle traffic that connecting Ciamis area and Tasikmalaya by Manonjaya.
Cirahong Bridge construction (with 202 meters length) also fascinating. Frame wall looks like braid that sweep strongly above Citanduy River. Cirahong Bridge was the only one Netherland heritage bridge in Ciamis Regency, West Java Province. These
sturdiness constructions are proven by unshakable bridge from earth quake that happen in early September 2009 West Java area.
READ MORE - Cirahong Uniques Railways Bridge.

Sejarah Pembangunan Jembatan Cirahong.


Sejarah Pembangunan Jembatan Cirahong.

Pembangunan jembatan Cirahong terjadi pada tahun 1893.berikut sejarah lengkapnya,,

PEMBANGUNAN jembatan kereta api (KA) Cirahong, yang menghubungkan antara Ciamis dan Tasikmalaya lewat jalur Manonjaya, Kab. Tasikmalaya, tidak terlepas dari peran Bupati Galuh (Ciamis-red.) R-A-A. Kusuma-diningrat.

Sebelumnya,Belanda telah membuat gambar pembangunan jalur rel kereta yang menghubungkan daerah Tasikmalaya ke Banjar/Pangandaran, tanpa melintas ke Kota Ciamis.Berdasarkan gambar yang dibuat Belanda, jalur kereta api dari Tasikmalaya-Manonjaya akan diteruskan ke daerah Cimaragas,atau sebelah selatan Sungai Citanduy. Setelah itu, masuk ke daerah Kota Banjar. Di Banjar, ada jalur menuju ke Pangandaran dan ke daerah Cilacap, Jawa Tengah.

Pertimbangannya, kalau melintas ke Kota Ciamis, berarti harus membangun dua jembatan di atas Citanduy. Tentunya, biaya
pembangunan jembatan di atas sungai tersebut, sangat besar atau mahal.Belanda membangun jalur rel tersebut, tidak hanya untuk angkutan massal. Akan tetapi, rel itu juga digunakan untuk membawa hasil bumi dari Priangan, seperti kapas, kopi, kapol,dan lainnya ke Jakarta. Apalagi waktu itu, banyak perkebunan baru didaerah Galuh, seperti perkebunan Lemah Neundeut, Bangkelung,dan lain-lain. Angkutan kereta tersebut diharapkan akan mempermudah jalur angkutan barang maupun mobilisasi orang Belanda.

Informasi tentang rencana pembangunan jalur rel kereta tersebut akhirnya sampai ke telinga Kusumadiningrat atau Kangjeng Prebu.Waktu itu, yang bersangkutan sudah pensiun dari jabatannya sebagai Bupati Galuh.Kangjeng Prebu, yang dinilai oleh para sejarawan sebagai Bupati Galuh terkemuka, akhirnya berusaha melakukan lobi kepada Belanda. Dia meminta agar jalur rel kereta melintas ke Kota Ciamis.
Caranya, dari Tasikmalaya ke Manonjaya, lalu menyeberang Sungai Citanduy untuk masuk melintas ke Kota Ciamis.

Ada beberapa pertimbangan yang disampaikan Kangjeng Prebu,kenapa sebaiknya jalur kereta melintas ke Kota Ciamis. Pertama,jumlah penduduk di Kota Ciamis sudah besar dan padat,sementara daerah Cimaragas sangat sedikit. Dengan demikian,keberadaan kereta itu akan semakin bermanfaat.Selain itu, pertimbangan lainnya ialah untuk memperkuat eksistensi Ciamis sebagai Ibu Kota Galuh. Setelah lobi panjang,akhirnya Belanda menyetujui usulan Kangjeng Prebu. Hal itu mem-buktikanbahwa dia memang masih punya pengaruh besar,
sekalipun sudah pensiun.
Belanda akhirnya membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy. Pertama, jembatan Cirahong, dan kedua
Karangpucung di dekat Kota Banjar.Biayanya pun cukup mahal.Tetapi Belanda merealisasikannya karena dorongan Kangjeng Prebu.Sosok Kangjeng Prebu pada masanya dikenal mampu memakmurkan daerah Galuh. Karyanya hingga sekarang masih terpelihara. Selain Cirahong, terdapat pula beberapa saluran irigasi untuk pengairan sawah teknis, misalnya saluran irigasi Gandawangi. Dia membangun saluran air Cikatomas,Wangundiredja, Tanjungmangu yang sekarang berubah namanya menjadi Nagawiru.

Kangjeng Prebu pada masa pemerintahannya, mencoba membangun atau mencetak sawah baru, perkebunan kelapa di daerah Ciamis selatan. Waktu itu, setiap calon mempelai yang akan menikah diwajibkan membawa dua buah kitri (bibit kelapa) untuk ditanam di halaman rumahnya. Kebijakan tersebut akhirnya
telah menjadikan Kabupaten Galuh sebagai sentra kelapa. Bahkan hingga sekarang, Galuh yang berganti nama menjadi Ciamis merupakan gudang kelapa, sentra gula kelapa, dan pemasok sapu lidi ke berbagai daerah.

Hingga sekarang, Makam Kangjeng Prebu masih terus dipelihara.Bahkan, setiap ulang tahun Ciamis, para pejabat berziarah ke makam tersebut.
Dan Jembatan sampai saat ini masih tegap berdiri,.

Bataviase.com (Undang Sudrsyat/"PR")"*
READ MORE - Sejarah Pembangunan Jembatan Cirahong.

Gunung Tangkuban Perahu yang Exotic.

Pesona Gunung Tangkuban Perahu.

Hamparan kebun teh di sekitar gunung Tangkuban Parahu . Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letus adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang.

Daerah Gunung dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17 oC pa 2 oC pada malam hari. Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.Kawah Tangkuban Perahu. Gunung tangkuban perahu mempunyai ketinggian 2.076 meter di atas permukaan laut. Gunung ini bila dilihat dari kejauhan nampak seperti perahu yang terbalik, karena itulah gunung ini disebut tangkuban perahu.

Legenda yang melekat pada gunung ini adalah Sangkuriang, yaitu kisah seorang anak yang jatuh cinta pada ibunya. Dari kota bandung dapat ditempuh dengan jarak 47 Km ke arah utara menuju Lembang atau Subang.Gunung Tangkuban Perahu atau juga sering disebut Tangkuban Parahu merupakan salah satu gunung terbesar di dataran Parahyangan .

Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu berada di utara kota Lembang , sebelah utara kota Bandung. Udara sejuk, lembah dan tingginya pohon pinus menemani perjalanan Anda menuju pintu gerbang kawasan Tangkuban Perahu. Untuk memasuki kawasan Tangkuban Perahu, Anda harus membayar tiket Rp 13.000 ,- per orang ditambah tiket untuk kendaraan.

Ada dua jalan menuju kawah-kawah yang ada di gunung ini. Jalan yang pertama atau jalan lama dengan kondisi jalan yang lebih sulit untuk dilalui dan biasanya akan ditutup sehabis hujan atau saat dirasa membahayakan untuk dilewati. Penjaga loket akan memberi petunjuk untuk melewati jalan baru yang terletak lebih ke atas jika jalan ini ditutup. Sebelum tiket pembayaran di jalan pertama ini, terdapat pondok-pondok yang disewakan untuk tempat menginap. Melewati jalan baru, jalan beraspal memudahkan perjalanan kendaraan Anda. Pada sisi jalan yang berkelok-kelok terdapat bunga-bunga terompet dan pohon lainnya yang akan menyejukkan perjalanan Anda.

Di kawasan gunung Tangkuban Perahu terdapat tiga kawah yang menarik untuk dikunjungi. Kawah tersebut adalah Kawah Domas , Kawah Ratu dan Kawah Upas . Kawah yang paling besar diantara ketiganya dan paling banyak dikunjungi adalah Kawah Ratu. Dengan beberapa jam berjalan kaki, Anda bahkan dapat mengitari Kawah Ratu yang begitu luas sambil menikmati keindahan panorama Gunung Tangkuban Perahu.
READ MORE - Gunung Tangkuban Perahu yang Exotic.

Green Canyon West Java Natural Attraction


Green Canyon, or often called by local people Cukang Taneuh which means the land bridge, this place is situated in the village of Kertayasa, District Cijulang, Ciamis , West Java.
The distance is approximately 31 kilometers from Pangandaran, or about 393 km from Jakarta.

Green Canyon real name was popularized by Frank and Astrid, a tourist from France and Switzerland, who in 1990 came to this place.
From the pier Cisereuh, tourists along the river that the water was greenish.
The boat can only carry a maximum of five passengers are controlled by two men on duty to operate the motor and another set the direction and keep the passenger in front.

Throughout the trip once in a while you will see a monitor lizard swimming in the river and disappeared into the bushes.
River splitting Cijulang was still dense forest which is overgrown with trees and inhabited by wild animals one animal lizards. The distance from the pier to Cukang Taneuh approximately three kilometers, or be within about 15 minutes. Although the sting of the sun during the day but the air was very cool, probably oxygen supply from the forests around providing coolness and comfort.

Arriving at Cukang Taneuh No fewer than 10 boats have been lean in the mouth of the cave. Apparently the trip was not the worst, the sight of other phenomena are still stored in it. Actually this Cijulang River divides the cliff, but there are sections where the soil is formed bridge that connects the top of the second cliff.

Therefore, local people named the area's tourism bridge Cukang Taneuh which means land. Once out of the boat and climbed the rocks to pass through the base of the land bridge, appeared natural beauty.
On both sides of towering cliffs to the green river, a few places there are stalactite and stalagmite, and the cliff wall reliefs that formed naturally over millions of years more to make tourists feel amazed.
Not only that, if tourists want to see more beautiful scenery so tourists can swim about 10 yards into using buoys.
Once there, the most amazing sights seen in front of you, the rush of water that resembles the relentless rain and wet rock cliff wall.
This area is called Eternal Rain, because although the dry, water coming out from the cliff wall was never subsided.
Still have not finished admiring and preserving the beauty of this, tourists can climb the 15- meter-high cliff into the bathing pool.
During this community believe that anyone who bathed in the place would stay young, smooth soul mate and his fortune.

Travel Tips When you decide to come to Green Canyon, should be ready for a tiring journey, because the travel time to get to the place where the tourist sites around eight hours from Jakarta.
For those who bring a personal car, preferably someone who can take turns driving.
Green Canyon open from 10 :00 until 16 :00. Prepare also a change of clothes and towel if you want to swim.
Believe it or not there are many taboos to not say dirty words and mention 'crocodile' while he was in Green Canyon.

Have a nice Travel guys,
READ MORE - Green Canyon West Java Natural Attraction

Green Canyon Fascinating Nature In JAVA.


Green Canyon.
Located in the Village Kertayasa, District Cijulang, Ciamis, West Java.
City of Ciamis own around 130 km from Pangandaran, or if the distance of about 31 km.
Objects near this tour there is a tourism object Batukaras and Flying Field Nusawiru.

Tourism object is actually an amazing flow of the river Cijulang that penetrate through a cave full of charm with beautiful stalaktif and stalakmit. In addition, this region also between two hills, with many also rocks and trees.
They formed as a natural painting so unique and so challenging to be explored.

To reach the location of this tourist must depart from the dock Ciseureuh.
Then continue the journey with a boat oar or paste a lot available there.
The distance between the location of the dock with the Green Canyon about 3 km, which can be applied within 30-45 minutes.
Throughout the trip we will pass the river with the water green tosca. Perhaps from the Green Canyon where the name originated.

Once seen rapid flow with a narrow pass the difficult means by boat up the mouth of Green Canyon, where the water is very clear bluish color. Here is the beginning of the adventure tour to explore the beauty of the object is started.
From here visitors can continue their journey to the top of the swim or crawl on the edge of stone.Tires provided for the float and choose to swim. Although I have to like this, fully guaranteed safe travel.

Even for children over 6 years to secure enough for the river with the tires and guided by the owner who rented the boat. Seems to want to get a mate to be ageless and the water will midst of cliffs Green Canyon to face several times.
This is held some visitors, especially the domestic. Even water It also can be drunk directly, and it seems like mineral water.
READ MORE - Green Canyon Fascinating Nature In JAVA.

Wayang Golek, The Wooden Puppets from West Java.


The Wayang has a strong tradition in the world of Java and Indonesia, representing the struggle between good and evil.
The two types of plays are the Wayang Kulit and the Wayang Golek.

The Wayang Kulit are two dimensional leather puppets are often referred to as shadow puppets. These are more popular in the areas of Bali.

The Wayang Golek are three dimensional wooden puppets and come from Java and the area of Bandung. The Wayang Golek plays usually start at dusk and run to the early morning hours.
People come and go as they please.
The Wayang Golek puppet master are called Dalang's .
The plays are based on the Ramayana or Mahabharata stories. The Ramayana is usually involve Rama , Sinta , Anoman , and Rahwana The main family in the Mahabharata are the five Pandawa brothers and their clown servants.
there are also many heros like Gatot Kaca and Srikandi.
These puppets are on bases and stand from 24 " to over 48 ". Each Wayang Golek puppet can be removed from the base and both the head and arms can be moved.

These Wayang Golek puppets have very finely detailed carvings on the head and body, with vivid color and detailed paintings.
The Wayang Golek body is beautifully decorated in beads and Batik. Some Wayang Golek puppets have wings carved of either leather or wood and are painted by hand.
Each Wayang Golek puppet is individually carved by hand making each unique and a collectors item.
These Wayang Golek are carved form wood and painted by the artists ( Giri Harja III) who make the puppets for dalang Asep Sunarya (puppet master) who performs worldwide.
The artists use hair from cats to obtain the extremely fine details and lines.

These are Indonesia and the world's finest
READ MORE - Wayang Golek, The Wooden Puppets from West Java.

Exciting Parahyangan West Java.


Parahyangan (priangan) is the another name for West Java province.
West Java has the easiest access to Jakarta being merely an enclave in this province.
Stretching from the Sunda Strait to the Central Java border,a mountain range passes through the center from east to west and peaks into smoldering volcanoes.

This province has its own unique culture and language, both called Sundanese which is also used to call its people.
The ancient kingdoms of Tarumanegara, Pajajaran, Banten and Cirebon would make interesting studies for the student of archaeology- Cirebon is located on the border between West and Central Java,having a mixed culture originating from the ancient Cirebon and Banten kingdoms, resulting in similar customs and dialects of the two people, although Banten is located at the extreme western part of the province.

The Province has a great number of attractions, from the wildlife reserve of Ujung Kulon on the south-western tip of Java and the isolated communities of the mysterious Baduy to the unspoiled beaches,the royal palaces of Cirebon, the world renowned botanical garden in Bogor, and beautiful Pangandaran Beach and Nature Preservation in Ciamis.

The road from Jakarta to Bandung passes through a beautiful panorama of mountains, paddy fields, tea plantations, and various holiday resorts.
An expressway connects the crowded capital city with Bogor and the mountain areas, and onward to Bandung.
It has a number of sea resorts on its western and southern coasts which have modern hotels and are popular during the weekends.

The Sundanese people are soft-spoken. Most of them are moslem, so we can see strong islamic values in their lives.
They possess natural friendliness and politeness . They have a strong sense of helping each other when in need.

The sundanesse have unique musical instrument called "angklung". Angklung is an instrument made from bamboo pipes which can produce a melodious tone. Another interesting thing from sundanesse art & culture is " wayang golek".
Wayang Golek is a specific art of West Java which has survived for many generations.
It is the play of figures carved and painted on wood, shaped the characters in the episodes of Mahabrata and Ramayana.
Wayang is performed not merely for entertainment but also functions as teaching religion and philosophy .
Wayang golek is performed by a "Dalang"', who relates story in the whole night, acting as narrator, operator and performer all together.
Beside that, there are still another kind of art and culture in Parahyangan such as; various traditional dance, "sisingaan", "kecapi degung", "sunda gamelan", "pencak silat",etc.

Lets guy's Visit to West java..
READ MORE - Exciting Parahyangan West Java.

Pangandaran Beach Resort, West Java Tourist Destination.


Pangandaran is located on the southern coast of Java.
Pangandaran is a small town and a subdistrict in southern Ciamis regency, West Java, Indonesia.
Pangandaran is a popular tourist destination, having a beach which is considered to be one of the finest in Java and which offers excellent surfing.

Pangandaran is an old secondary forest aged between 50 - 60 years, dominated the area of natural tourist attractions Pangandaran.
The rest is a primary forest remnants that are not widespread and scattered location, and a little coastal forest. With a wide range of flora, Pangandaran nature tourism park is a suitable habitat for the life of wild animals.

Types of wildlife that can be found in this area include: Tando (long-tailed monkeys (Macaca fascicularis), langur (Presbytis cristata), bats (Pteropus campyrus), Banteng (Bos sondaicus), Deer (Cervus timorensis) (Tragulus javanica), and porcupine ( Hystrix javanica). In addition to attractions such as natural forests and plantations, another attraction is the white sand beaches, natural caves and historical relics as well as Stone Kalde.
READ MORE - Pangandaran Beach Resort, West Java Tourist Destination.

Karang Nini Beach Resort , Tourist Destination in West Java.


Karangnini Beach Resort.

Karangnini Beach resort located in the village Emplak, District Kalipucang � 83 km from the town of Ciamis toward the South, West Java.
Along the road from the gate to the location, you'll enjoy the coolness of teak forests with wild rhythms.
Not only that, in some parts of this road would be served panorama of the beach in the distance behind Sagara seedlings.
It was an unforgettable sight when you come upon good weather.

Before reaching the beach you will find Cottage Tour, managed by state forestry Ciamis district.
You some type you choose.
Rate / night relaxing with family and enjoy the quiet natural atmosphere with stunning panoramic views of the beach.

On the beach lay the rocks one of which resembles a grandmother (nini in Sundanese) who are waiting for the grandfather, so this place called the Beach Karangnini.
READ MORE - Karang Nini Beach Resort , Tourist Destination in West Java.

Dried Banana Crisp



Sale Pisang a Unique Snack made with Bananas.
' Sale Pisang ' are food processed products from banana combed thin then dried.
Drying purpose is to reduce the water content so that the "Banana" more durable.
This "Sale Pisang" can be eaten directly or fried with flour first.in addition, the current " Sale Pisang "has a variety of flavors such as cheese flavor.

Currently, the " Sale Pisang" production has penetrated the international market.
"Sale Pisang" is a product made by drying and curing process.
"Sale Pisang" known for its distinctive flavor and aroma. Critical properties that determine the quality of bananas is the color, taste, smell, elasticity, and resistance to shelf.

This trait is heavily influenced by the way of processing, packaging, and storage products.
"Sale Pisang " made during their quality is often less well, especially when made at the time of the rainy season.
If made during the rainy season should be dried by artificial drying.

There are 3 (three) ways of making "Sale bananas", namely:
The traditional way of using wood smoke, mode using smoke sulfur fumigation, wet mode using sodium bisulfite.
Fumigation process using sulfur is useful for: bananas in order to obtain the desired color; Deadly microbes (fungi, bacteria); Prevent discoloration,

Banana chips and ''Sale Pisang'' from Ciamis.
West Java which is traditionally manufactured by craftsmen snacks in recent years has been able to penetrate foreign markets.
READ MORE - Dried Banana Crisp