Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

kebahagiaan dan Penderitaan






Bismillaahirrahmaanirrahiim
Manusia terbagi kedalam dua golongan :
Pertama, mereka yang tenteram, senang, dan bahagia, yang beramal saleh karena taat kepada Allah; kedua, mereka yang ketakutan, ragu , dan menderita karena bermaksiaat kepada Allah. Manusia memiliki potensi untuk taat maupun bermaksiaat. jika keikhlasan, ketulusan, dan kebaikan mendominasi seseorang, niscaya keangkuhan berubah menjadi  menjadi kelembutan dan sisi buruk ditahklukkan oleh sisi baiknya. Sebaliknnya, jika hawa nafsu mendominasi maka kemaksiaatan akan mengalahkan kesuciaan dan ketaatan sehingga ia gemar bermaksiaat. Jika kedua sifat ini yang saling bertentangan sama kuat, ia boleh berharap bahwa kebaikan akan menang, seperti yang dijanjikan Allah: Barangsiapa membawa amal yang baik,baginya sepuluh kali lipat amalnya...(al-an'am [8]:160)dan jika Allah menghendaki, Dia akan melipatgandakan karunia-Nya.

Namun diantara kebaikan dan dosa seimbang, seseorang harus melewati ujian yang berat dihari kiamat.berbeda halnya  dengan orang-orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya, sebab ia tidak akan dihadang ujian; tak ada perhitungan atas dirinya, Ia akan masuk surga tanpa melalui kengerian hari kiamat:

Dan adapun oarang yang berat timbangan (kebaikan)nya maka ia berada di kehidupan yang memuaskan.(al-Qari'ah[101]:6-7)

Orang yang timbangan dosannya lebih berat daripada amal baiknya , niscaya akan menghadapi azab yang setimpal. Lalu ia akan dilemparkan ke kobaran api neraka dan jika ia memiliki iman, ia akan masuk surga.

Pertentangan antara ketaatan dan kemaksiaatan adalah pertentangan  antara kebaikan dan kejahatan.
keduannya ada dalam diri manusia meskipun keadaan keduannya berubah-ubah .kebaikan dapat berubah menjadi kejahatan dan kejahatan dapat berubah menjadi kebaikan. Rasulullah saw bersabda, " Orang yang kebaikannya mengalahkan kejahatannya akan mendapatkan keselamatan ,ketentraman, dan kebahagiaan, sedangkan  orang yang kejahatannya lebih banyak daripada daripada kebaikannya, ia akan berbuat maksiat dan menjadi orang jahat: orang- orang yang mengakui kesalahannya , dan bertobat dan mengubah jalan hidupnya, niscaya keaksiaatannya akan diubah menjadi ketaatan dan ibadah."

Allah swt telah menetapkan bahwa kebaikan  dan kejahatan, kebahagiaan mu'min yang taat, dan penderitaan para pelaku maksiat merupakan bawaan keadaan masia. Rasulullah saw. bersabda, " orang yang beuntung menjadi orang baik telah ditetapkan menjadi orang baik ketika ia masih didalam rahim ibunya, dan orang jahat telah ditakdirkan mejadi jahat sejak ia berada di  rahim ibunya." itu;ah keadaanya, dan tak seorangpun yang berhak membahas persoalan ini. Ketetapan Allah bukanlah objek pemikiran yang harus dibahas. orang yang membahasnya akan terjerumus kedalam kekafiran.

Selain itu,tak seorang pun boleh mempergunakan takdir sebagai dalih untuk meninggalkan usaha, kerja keras, dan amal baik. kita tak boleh berkata,"jika aku memang ditakdirkan menjadi orang baik, tak perlu aku bersusah payah berbuat kebaikan,toh aku telah dirahmati,"atau "jika aku ditakdirkan menjadi orang jahat , apa gunanya berbuat baik ?" pandangan seperti itu jelas-jelas sesat.
tak patut kita berkata , Jika keadaanku telah ditetapkan dimasa lalu, apa untung ruginya aku berharap pada perbuatanku saat ini?." Perbedaan sikap mengenai takdir ini tergambar pada perbedaan antara Adam as., manusia dan nabi pertama, dan iblis. iblis menisbatkan kemaksiaatan kepada takdir , ia menjadi kafir sehingga terusir dari rahmat dan kehadirat Allah swt. Sebaliknya , Adam a.s mengakui kesalahan dirinya dan sebagai bentuk tanggung jawabnya , ia memohon ampunnan, menerima rahmat Allah swt, dan akhirnya menfdapatkan keselamatan.

setiap muslim dan mu'min haram mempertanyakan atau menjadikan takdir sebagai dalih. tindakan  itu hanya akan melahirkan keragu-raguan, atau lebih jaunnya lagi, kakafiran. Setiap mu'min wajib percaya kepada kebijaksanaan Allah. segala keejadiaan yang disaksikan manusia dalam dirinya dan didunia ini tentu ada sebabnya . namun , karena didasarkan atas kebijaksanaan Ilahi, sebab itu tak mungkin dipahami logoka manusia. Jika kau menghadapi kekafiran, kemunafikan, dan kemsyrikan dan ragam kejahatan lainnya didunia ini, jangan sampai semua ini mengguncankan Imanmu. ketahuilah, Allah Swt. dengan kebijaksanaa-Nya yang mutlah telah menentukan segala sesuatunya. dialah yang menciptakan apa yang tampak sebagai keburukan untuk mengungkapkan kekuasaan-Nya yang takterbatas. Mungkin sebagiaan orang melihat manifestasi tersebut kejam dan buruk. Namun,ada rahasia besar dibalik semua ini yang hanya dapat diketahi oleh Rasulullah saw.

Alkisah, seotrang alim berdoa kepada Tuhannya,"wahai Yang Maha Esa, semuannya telah kau takdirkan. Nasibku berada dalam genggaman-Mu. Kehendakku ada ditangan-Mu , ilmu yang Kauberikan kepadaku adalah ciptaan-Mu,"
Tiba-tiba muncul jawaban tanpa suara dan tanpa kata , dari dalam dirinya sediri:"hai hamba-Ku, semua yang kau katakan adalah milik Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, bukan milik hamba,"
Alim itu berkata lagi, "Tuhanku aku telah menganiyaya diriku sendiri. Aku telah berbuat salah dan berdosa."
setelah pengakuan itu, ia mendengar lagi suara dalam dirinya," Aku telah melimpahkan rahmat-Ku atas dirimu. semua kesalahanmu telah Ku hapus. Kau telah Kuampuni."

Setiap mukmin harus menyadari dan bersyukur bahwa semua kebaikan mereka bukanlah dari mereka, melainkan hanya melalui mereka. Keberhasilan dari Sang Pencipta. jika bersalah , ketahiulah bahwa kesalahan dan dosa berasal dari diri mereka , agar mereka bertobat.
Kejahatan bersumber dari hasrat sesat nafsu mereka. jika kau memahami ini dan mengikutinya, kau termasuk golongan orang yang disebut Allah sebagai :

 Orang yang apabila mengerjakan perbutan keji atau menganiyaya diri sendiri, ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dsa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuata keji  itu sedang mereka mengetahui. sesungguhnya balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dansurga yang dibawahnya mengalir sungai -sungai , sedang mereka kekal didalamnya...(Al'Imran[3]:135-136).




Setiap mukmin mesti meyakini bahwa penyebab kesalahan adalah dirinya sendiri. Keyakinan ini akan menyelamatkan dirinya. Itu jauh lebih baik daripada menisbatkan kesalahannya pada Yang Maha Suci  lagi Mahakuasa,Yang Maha Esa Sang pencipta Semesta.
Rasulullah saw bersbda, apakah Seseorang menjadi baik atau jahat sudah diketahui ketika ia berada di rahim ibu."Makna"rahim ibu"dala hadis ini adalah empat unsur sumber semua kekuatan dan daya material.
dua diantaranya adalah tanah dan air, yang berfunsi menumbuhkan iman dan ilmu, menghidupkan ,d an mewujud dalam hati sebagai sikap rendah hati, karena tanah bersifat rendah. lawan keduanya adalah api dan eter, yang bersifat membakar , merusak dan membinasakan. Allah  telah menjadikan keempat unsur berlawanan ini sebuah wujud. Bagaimana api dan air dapat berdampingan? Bagaimana cahaya dan kegelapan sama-sama berada dalam awan?

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan , dan Dia mengadakan awan mendung.
Dan guruh bertasbih memuji Allah. (begitu pun) Para malaikat karna takut Kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Ra'd[13]:12-13).

Suatu hari, seseorang bertannya kepada syeikh Yahya ibn Muaz al-Razi,"Bagaimana engkau mengenal Allah?"
"Dengan menyatukan hal-hal yang berlawanan."

SEGALA HAL yang berlawanan berkaitan dengan , bahkan menjadi syarat untuk memahami, sifat-sifat Allah.
manusia merupakan cermin yang memantulkan kebenaran Ilahi. Dalam wujudnya , manusia meliputi seluruh alam semesta.
karena itulah ia disebut penyatu yang majemuk-makrokosmos. Allah telah menciptakannya dengan tangan-Nya sendiri, tangan kasih sayang-Nya, dan tangan kekuatan serta amarah-Nya, karena itu manusia menampilkan baik sisi yang kasar dan keras maupun sisi halus dan indah.

Semua nama Ilahi diejawantahkan dalam diri manusia, sedangkan semua makhluk lainnya berisi tunggal.
Allah swt menciptan iblis dan keturunannya dari sifat amarah-Nya. Dia menciptakan malaikat dari sifat rahmat-Nya. sifat kewalian dan ketekunan ada pada malaikat, sedangkan iblis dan para pengikutnya, yang diciptaakan Allah dari sifat amarah-Nya, memiliki sifat zalim, Karena itulah iblis bersikap sombong dan enggan ketika diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam.

Karena manusia memiliki sifat mulia sekaligus tercela, dan karena Allah telah memilih rasul dan para wali-Nya dari kalangan manusia  maka utusan-Nya pun tidak terlepas dari kesalahan. Sebagai penerima risalah, para Nabi terpelihara dari dosa-dosa besar. Namun,mereka tidak luput dari dosa-dosa kecil.
berbeda dengan para nabi, para wali tidak suci dari dosa.
Namun .jika mereka telah mencapai kesempurnaandalam pendekatan diri kepada Allah maka mereka akan terpelihara dari dosa.

syaqiq al-balqi,semoga Allah mensucikan ruhnya,
berkata, ada lima tanda keshalehan: sifat yag baik dan ahti yang lembut , sering menangis karena tobat, kesederhanaan dan mengabaikan dunia,tidak serakah dan memiliki kesadaran diri. Tanda seorang pendosa pun ada lima"berhati keras, memiliki maya yang tidak pernah menangis cinta dunia dan segala urusan duniawi, serakah dan tidak memiliki kesadaran atau rasa malu."

Rasulullah menisbatkan empat sifat kepada orang saleh,yaitu:"dapat dipercaya dan menjaga serta menunaikan amanat yang disampaikan kepadanya;selalu menepati janji;jujur dantidak pernah berdusta;tidak kasar; dan melukai hati orang lain.:" Rasulullah juga menyebutkan empat ciri pendosa, yaitu"khianat, tak dapat dipercaya, dan tek menunaikan amanat,ia tidak menepati janji, ia suka berdusta ketika berbicara ia suka menyerang dan mengutuk sehingga ia sering melukai hati orang lain.disamping itu orang yang berdosa enggan memaafkan kesalahan oran lain." Inilah tanda orang yang tidak beriman, karena memaafkan ciri utama orang mukmin. Allah Swt memerintakan Rasulullah saw: "Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang bodoh"(al-A'raf[7]:199)

Perintah "jadilah pemaaf" tidajk hanya berlaku atas Rasulullah saw. Peribntah itu berlaku atas semua orag ang beriman lepada Nabi Muhammad saw. jika seorang raja menitahkan kepada gubernur untuk melakukan sesuatu maka perintah itu pun berlaku tas masyarakat yang ada di bawah pimpinan sang gubernur, meskipun hanya Raja itu mengatakan kepada dirinya.

Ungkapan "jadilah pemaaf" sama dengan ucapan"Biasakanlah memaafkan dan jadikanlah pemaaf sebagai sifatmu, bagian dirimu sendiri." Rasulullah juga bersabda,"Siapa saja yang bersifat pemaaf, ia akan menerima salah satu nama Allah, yakni maha pengampun." Allah berjanji,. . . Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik,pahalanya atas (Tanggungan) Allah...(al-Asyura[42]:40)

ketahuilah kebaikan dapat berubah menjadi kemaksiaatan , dan kemksiatan dapat berubah menjadi kebaikan tidak dengan sendirinya, tetapi karena usaha dan perbuatan manusia. Rasulullah saw bersabda , " Semua anak dilahirkan sebagai muslim.orang tua nya lah yang menjadikan yahudi nasrani atau majusi." Setiap manusia punya potensi untuk menjadi baik atau jahat. Karena itu kita tak patut meghakimi seseorang tatau sesuatu sepenuhnya baik atau sepenuhnya jahat.
Pandangan yang benar adalah bahwa jika kebaikan seseorang  lebih banyak daripada keburukannya, berarti ia orang baik, dan jika keburukannya daripada kebaikannya, berarti ia orang jahat.

Dan tidak berarti orang masuk surga tanpa melakukan amal baik sedikitpun, atau bahwa ia dimasukan neraka tanpa melakukan kejahatan sedikit juga. Pandangan seperti itu bertentangan pada prinsip ajaran Islam.
Allah Swt telah menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. dan Dia mengancam pelaku maksiat, tidak beriman dan menyekutukan Allah dengan azab neraka. Allah berfirman:

Barang siapa mengerjakan amal saleh maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, itu akan menimpa dirinya sendiri kemudian kepada Tuahanmulah kamu dikembalikan.(al-Jatsiyah[45]:15).

Pada hari-hari tiap-tiap jiwa diberi balasan atas perbuatannya. tak ada yang dirugikan pada hari ini. sesngguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (al-mu'min[40:17)

Dan bahwa seseorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.(al-Najm[53]:39)

Dan Kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. (al-Baqarah[2]:110).



"Dari Buku secret of secrets oleh syekh Abdul Qadir al-jailani"
Buat sahabat yang berminat dengan bukunya dalam format Digital bisa download di link ini
http://www.ziddu.com/download/10394110/Secret_of_The_Secrets.zip.html


wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh sahabat semoga dapat dipetik hikmah dan manfaatnya ^_^
READ MORE - kebahagiaan dan Penderitaan

Hikmah Sakit



Bismillah, alhamdulilah, washshalatu wassalamu 'ala man laa nabiya ba'dah, Amma ba'du:
Sesungguhnya sakit merupakan bagian dari cobaan yang mengandung banyak faedah bagi seorang muslim, namun mayoritas manusia tidak mengetahuinya, diantara faedah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sesungguhnya sakit merupakan penebus berbagai dosa dan menghapuskan segala kesalahan, sehingga sakit menjadi sebagai balasan keburukan dari apa yang dilakukan hamba, lalu dihapus dari catatan amalnya hingga menjadi ringan dari dosa-dosa. Hal itu berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya adalah:
    1. Hadits Jabir bin Abdullah rahimahullah, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ??? ???????? ???????? ????? ?????????? ????? ???????? ??????????????? ?????? ????? ????? ??????? ?????????? ????? ????????? ??????????? ???? ?????????"
"Tidaklah sakit seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah S.W.T. menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon." HR. Ahmad 3/346.
B. Hadits Ummul 'Ala radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Rasulullah S.A.W. berkunjung kepadaku dan aku sedang sakit, lalu beliau bersabda:
" ????????? ??? ????? ??????????, ??????? ?????? ??????????? ???????? ????? ???? ?????????? ????? ???????? ???????? ????? ????????? ???????????? "
"Bergemberilah wahai Ummul 'Ala, sesungguhnya sakitnya seorang muslim dijadikan oleh Allah S.W.T. untuk menghilangkan kesalahannya dengannya, sebagaimana api menghilangkan karat emas dan perak." HR. Abu Daud no.3092.
Sebagian orang menduga bahwa keutamaan dan pahala yang terdapat dalam hadits-hadits ini dan yang semisalnya, hanya diperuntukkan bagi orang yang menderita sakit berat atau sakit parah, atau yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya saja, padahal sebenarnya berbeda dengan dugaan ini, karena seorang hamba akan mendapat pahala dari musibah yang menimpanya,  sekalipun hanya sakit ringan,  selama ia tetap sabar dan selalu meminta pahala.
Tidak disangsikan lagi bahwa setiap kali musibahnya lebih besar dan sakitnya sangat berat, maka akan bertambahlah pahalanya, akan tetapi sakit ringan juga tetap akan mendapat pahala.
  1. Sesungguhnya sakit akan mengangkat derajat dan menambah kebaikan, dalil-dalil tentang hal itu adalah sebagai berikut:
    1. Hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata,  "Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah S.A.W.bersabda:
" ??? ???? ???????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????? ?????? ???? ????? ????????? ?????????? ?????? ???? ?????????? "
"Tidak ada seorang muslimpun yang tertusuk duri, atau yang lebih dari itu, melainkan ditulis untuknya satu derajat dan dihapus darinya satu kesalahan" HR. Muslim no. 2572.
  1. Hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ??? ???? ????? ???????? ??? ????? ????? ????? ????? ?????? ?????????? ???????? ???? ???????? "
"Tidak pernah seorang mukmin mendapat perlakukan zalim melainkan Allah S.W.T. akan mengugurkan kesalahan darinya dan meninggikan derajatnya"  HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi.
Maka jelaslah dari penjelasan nash-nash ini bahwa disamping menghapuskan kesalahan, juga diperoleh peningkatan derajat dan tambahan kebaikan.  Karena alasan inilah, imam an-Nawawi rahimahullah memberikan komentar setelah memaparkan hadits-hadits ini:  (Di dalam hadits-hadits ini terdapat kabar gembira yang besar bagi kaum muslimin, bahwa tidak berkurang sedikitpun dari diri mereka, dan di dalamnya dijelaskan tentang penebus berbagai kesalahan dengan segala penyakit, segala musibah dunia dan duka citanya, sekalipun kesusahan itu hanyalah sedikit. Dan di dalamnya dijelaskan pula tentang pengangkatan derajat dengan perkara-perkara ini dan tambahan kebaikan) (Syarh an-Nawawi atas Shahih Muslim 16/193).
  1. Sesungguhnya penyakit merupakan sebab untuk mencapai kedudukan yang tinggi, hal itu diindikasikan oleh hadits Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ????? ????????? ?????????? ???? ?????? ????? ????????????? ????? ??????????? ?????????? ????? ??????? ?????? ???????????? ????? ???????? ?????? ??????????? "
"Sesungguhnya seseorang akan memperoleh kedudukan di sisi Allah S.W.T., ia tidaklah memperolehnya dengan amalan, Allah S.W.T. senantiasa terus mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga ia memperolehnya" HR. al-Hakim dan ia menshahihkannya 1/495.
  1. Sakit merupakan bukti bahwa Allah S.W.T.  menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya:
Hal itu ditunjukkan oleh hadits-hadits yang sangat banyak, diantaranya adalah:
  1. Hadits Shuhaib bin Sinan, ia berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ??????? ???????? ??????????? ????? ???????? ??????? ???? ??????, ???????? ???????? ?????? ????????????: ???? ??????????? ??????????? ?????? ??????? ??????? ???? ?????? ??????????? ???????????? ?????? ??????? ??????? ???? "
"Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya menjadi kebaikan, dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi seorang mukmin: jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu menjadi kebaikan baginya, dan jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya" HR. Muslim no. 2999.
  1. Hadits Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ???? ?????? ????? ???? ??????? ?????? ?????? "
"Barangsiapa yang Allah S.W.T. menghendaki kebaikan dengannya, niscaya Dia menimpakan musibah kepadanya" HR. al-Bukhari no.5645.
  1. Hadits Anas bin Malik, dari Nabi S.A.W. beliau bersabda:
" ????? ?????? ?????????? ???? ?????? ?????????? ??????? ????? ????? ??????? ??????? ????????????  ?????? ?????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ????????? "
"Sesungguhnya besarnya balasan disertai besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah S.W.T. mencintai suatu kaum, Dia S.W.T. mencoba mereka, barangsiapa yang ridha maka untuknya keridhaan dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan" HR. at-Tirmidzi no. 5645.
  1. Sesungguhnya sakit membawa kepada muhasabah (intropeksi diri) dan tidak sakit membuat orang terperdaya:
Hukum ini berdasarkan kebiasaan, pengalaman dan realita. Sesungguhnya apabila seseorang menderita sakit, ia akan kembali kepada Rabb-nya, kembali kepada petunjuk-Nya, dan memulai untuk melakukan intropeksi terhadap dirinya sendiri atas segala kekurangan dalam ketaatan, dan menyesali tenggelamnya dia dalam nafsu syahwat, perbuatan haram serta penyebab-penyebab yang mengarah kepadanya �Allah S.W.T. Yang Paling Mengetahui-:
  1. Sesungguhnya sakit membuat hamba merasakan akan dekatnya ajal dan kematian.
  2. Bisa jadi karena rasa sakit yang diderita orang yang sakit membuatnya mengadu kepada Allah S.W.T.
  3. Dan bisa jadi pula karena sesungguhnya sakit itu mematahkan nafsu syahwat, maka jadilah keinginan hamba saat sakit adalah kesembuhan darinya.
Dari Sa'id bin Wahb rahimahullah, ia berkata: Aku berjalan bersama Salman untuk mengunjungi temannya yang sedang sakit, maka ia berkata:  Sesungguhnya Allah S.W.T.  menguji seorang mukmin dengan bala, kemudian Dia S.W.T. menyembuhkannya, maka ia menjadi penebus bagi segala kesalahannya dan menjadi pelajaran bagi yang tersisa. Dan sesungguhnya Allah menimpakan bencana kepada orang fasik, kemudian Dia S.W.T.  menyembuhkannya, maka ia bagaikan unta yang diikat oleh pemiliknya, ia tidak tahu kenapa mereka mengikatnya, kemudian mereka melepaskannya maka diapun tidak mengetahui kenapa mereka melepaskannya. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10813).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Musibah yang engkau terima dengannya terhadap Allah I lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu lupa untuk berdzikir kepada-Nya. (tasliyatu ahli al-Masha`ib).
  1. Sesungguhnya sakit menjadi penyebab kembalinya hamba kepada Rabb-Nya:
Bagian ini merupakan pelengkap bagian sebelumnya, cobaan merupakan penyebab kembalinya hamba kepada Rabb mereka, yaitu pada saat Dia menghendaki kebaikan terhadap mereka. Karena inilah, Allah S.W.T. berfirman:
[ ???????? ??????????? ????? ?????? ???? ???????? ?????????????? ?????????????? ???????????? ??????????? ?????????????? ]
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri" (QS. Al-An'aam: 42)
Dan Allah S.W.T. berfirman:
[ ?????????????? ?????????????? ??????????????? ??????????? ??????????? ]
"Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)" (QS. Al-A'raaf: 168)
Yazid bin Maisarah rahimahullah berkata: Sesungguhnya hamba menderita sakit, sedangkan dia dalam keadaan tidak mempunyai amal kebaikan di sisi Allah S.W.T., lalu Allah S.W.T. mengingatkan sebagian kesalahannya di masa lalu, kemudian keluarlah air matanya yang sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah S.W.T., sehingga tatkala Allah S.W.T.  membangkitkannya dalam keadaan suci, atau Dia mengambilnya (mewafatkannya), maka Dia S.W.T. mengambilnya dalam keadaan suci. ('Iddatush Shabiri 155).
  1. Tetapnya amal ibadah orang yang sakit, selama sakit menghalanginya darinya:
Banyak sekali hadits dari Rasulullah S.A.W. yang menunjukkan bahwa amal ibadah orang yang sakit akan tetap dicatat, selama sakit itu menghalanginya dari beramal, yang kalau bukan karena sakit tentu ia tetap mengamalkannya, hal ini dijelaskan oleh hadits Abu Musa rahimahullah, ia berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda:
" ????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????? ?????? ???????? ???????? ????????? ????????? "
"Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan (safar), niscaya ditulis untuknya seperti amalan orang yang muqim (tidak bepergian) lagi sehat." HR. al-Bukhari no. 2996.
  1. Sesungguhnya sakit merupakan penyebab masuk surga dan selamat dari neraka:
Adapun keadaan sakit menjadi penyebab selamat dari neraka, sebagaimana yang disebutkan bahwa demam adalah bagian (jatah) orang yang beriman dari neraka, hal itu ditunjukkan oleh hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha, sesungguhnya Nabi S.A.W. bersabda:
" ?????????? ????? ????? ???????? ???? ???????? "
"Demam adalah bagian setiap mukmin dari neraka"
Adapun sakit menjadi penyebab masuk surga, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits bahwa orang yang kehilangan penglihatannya, lalu ia bersabar, niscaya Allah S.W.T. menggantikan surga kepadanya. Demikian pula perempuan yang terkena penyakit ayan, Nabi S.W.T.  mengabarkan kepadanya bahwa jika ia bersabar, maka untuknya surga.
Dalil-dalil ini, dalam persoalan sakit demam dan ayan menunjukkan bahwa keduanya menjadi penyebab masuk surga.
Berbagai macam penyakit menjadi penebus berbagai macam kesalahan dan menambah kebaikan, dan keduanya menjadi penyebab masuk surga, karena sakit itu meringankan kesalahan hamba dalam timbangan dan menambah daun timbangan kebaikan.
Ditambah lagi, sesungguhnya sakit termasuk musibah yang tidak disukai hamba, Nabi S.A.W. bersabda:
" ??????? ?????????? ?????????????? ????????? ???????? ?????????????? "
"Surga diliputi dengan segala yang dibenci dan neraka diliputi dengan nafsu syahwat" HR. al-Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822.
  1. Sesungguhnya sakit itu memperbaiki hati:
Al-'Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: (Hati dan ruh mengambil manfaat dengan penyakit dan penderitaan, yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang memiliki kehidupan, sehingga kesehatan hati dan ruh digantungkan atas penderitaan badan dan tekanannya) (Syifa`ul 'alil 524).
Beliau juga mengatakan: (Sebagaimana yang telah diketahui, sesungguhnya jika bukan karena berbagai cobaan dunia dan musibahnya, niscaya hamba mendapatkan berbagai penyakit sombong, bangga diri, dan keras hati, yang menjadi penyebab kebinasaannya, baik yang cepat (di dunia) maupun yang tertunda (di akhirat).
Maka kalau bukan karena Allah S.W.T. mengobati hamba-hamba-Nya dengan berbagai obat cobaan dan ujian, niscaya mereka akan berbuat zalim dan melampuai batas. Dan apabila Allah S.W.T.  menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Dia menuangi obat dari cobaan dan ujian menurut kadar kondisinya, dan mengosongkan dengannya dari penyakit-penyakit yang membinasakan, sehingga apabila Dia telah membersihkannya, Dia menempatkannya untuk martabat paling mulia di dunia, yaitu penghambaan, dan pahala tertinggi di akhirat, yaitu melihat-Nya dan dekat dengan-Nya. (Syaifaul Ghalil hal. 524).
  1. Sesungguhnya sakit mengingatkan hamba terhadap nikmat kesehatan:
Terkadang seseorang akan terlena dengan kesehatan dalam waktu yang panjang, sehingga ia melupakan bertafakkur tentang kebesaran nikmat ini dan lalai dari bersyukur kepada Allah S.W.T.  Maka ia dicoba dengan sakit, sehingga mengenal kadar yang besar tersebut, karena sakit membuatnya tidak bisa memperoleh kepentingan agama dan dunia, karena itulah, Nabi S.A.W. bersabda:
" ??????????? ?????????? ????????? ???????? ???? ????????: ?????????? ???????????? "
"Dua nikmat yang membuat manusia banyak terperdaya olehnya: nikmat sehat dan waktu luang" (HR. al-Bukhari no.6412)
Terkadang manusia mendapat kesempatan, akan tetapi ia tidak bisa memanfaatkannya karena disibukkan oleh sakitnya. Nikmat adalah kesempatan yang tidak sempurna kecuali disertai oleh adanya kesehatan. Maka akan diperoleh rasa bersyukur terhadap kesehatan yang disebabkan oleh ingatan pada saat sakit karena besarnya kenikmatan tersebut.
  1. Sesungguhnya sakit itu mengingatkan hamba terhadap kondisi saudara-saudaranya yang sakit:
Di saat sehat, seorang hamba terkadang mendapatkan penderitaan saudara-saudaranya yang sakit, baik penderitaan itu bersifat badaniyah, yang membuat penderita merintih, atau bersifat kejiwaan seperti rasa takut dari sakit dan akibatnya, ataupun penderitaan yang meliputi orang yang sakit dari keluarganya, lalu mereka terpengaruh karena sakitnya, terutama apabila penyakit yang diderita menyebabkannya berhenti bekerja, dan tidak ada pemasukan untuk keluarga serta anak-anaknya kecuali dari pekerjaannya saja, sehingga orang yang sakit menderita tekanan jiwa karena istri dan anak-anaknya yang mengelilingi, juga karena kurangnya pemasukan disertai penderitaan penyakit beserta dampaknya.
Demikian pula istri dan anak-anaknya, mereka menderita karena merasa kehilangan atas orang yang biasa membiayai hidupnya, maka bagaimana apabila ditambah kepadanya seluruh biaya pengobatan dan yang lainnya. Maksudnya adalah bila hamba mengalami penderitaan seperti itu dan persoalan menjadi bertumpuk-tumpuk atasnya, maka sesungguhnya hal ini akan membuatnya mengingat kondisi saudara-saudaranya yang sakit, yang penghasilannya lebih rendah darinya dan lebih lemah kondisinya serta lebih banyak anaknya, sehingga ia meratapi kondisi mereka dan hal itu dapat mendorongnya untuk membantu mereka dan anak-anak mereka dengan memberikan nafkah dan sedekah serta yang semisalnya.
  1. Sakit membuat hamba mendapatkan teman-teman baru:
Apabila orang yang sakit terbaring di tempat tidur putih, maka sesungguhnya ia akan mengenal sesama saudara-saudaranya yang sakit, sama saja yang berada bersamanya dalam satu kamar atau dalam satu bagian, di tempat mereka shalat bersama yaitu mushalla dan saling mengenal satu sama lain. Hal ini akan membuat dia memperoleh teman-teman baru yang mendoakannya dan diapun mendoakan mereka, terkadang hubungan bisa terus berlangsung dalam waktu yang lama hingga setelah sakit, dan diantara penyebab dikabulkannya doa adalah doa orang yang sedang sakit.
Alangkah besarnya nikmat seorang hamba jika dapat memperoleh banyak teman yang sakit, lalu mereka memohon kepada Allah S.W.T.  dengan berdoa untuknya dan menyebutnya dengan kebaikan, karena ia telah memberikan kebaikan kepada mereka. Siapakah dari kaum muslimin yang tidak menginginkan doa dari sesama saudaranya, terutama jika orang-orang yang berdoa itu adalah yang sangat dekat untuk dikabul doanya?
Aku memohon kepada Allah S.W.T.  agar menyembuhkan kaum muslimin yang sakit, memperbaiki hati dan perbuatan mereka, sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Mengabulkan.
Segala puji bagi Allah S.W.T.  Rabb semesta alam, dan semoga rahmat Allah S.W.T., kesejahteraan, dan berkah-Nya selalu tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad, keluarganya serta para sahabatnya sekalian.
Sumber      : Dar ibnu Khuzaimah
Ibrahim bin Muhammad al-Huqail
READ MORE - Hikmah Sakit