tutur kata hati



KELUARGA SAKINAH DALAM MASALAH


Kita saat ini ada di tengah arus deras pergeseran nilai
sosial dalam masyarakat kita. Pergeseran nilai sosial tampak pada
kecenderungan makin permisifnya keluarga-keluarga di masyarakat kita.
Keluarga tidak lagi dilihat sebagai ikatan spiritual yang menjadi medium
ibadah kepada Sang Pencipta. Kawin-cerai hanya dilihat sebatas proses formal
sebagai kontrak sosial antara dua insan yang berbeda jenis. Perkawinan
kehilangan makna sakral dimana Allah menjadi saksi atas ijab-kabul yang
terjadi.

Ini bertolak belakang dengan adagium yang menyatakan keluarga adalah garda
terdepan dalam membangun masa depan bangsa peradaban dunia. Dari rahim
keluarga lahir berbagai gagasan perubahan dalam menata tatanan masyarakat
yang lebih baik. Tidak ada satu bangsa pun yang maju dalam kondisi sosial
keluarga yang kering spiritual, atau bahkan sama sekali sudah tidak lagi
mengindahkan makna religiusitas dalam hidupnya. Karena itu, Al-Qur?an memuat
ajaran tentang keluarga begitu komprehensif, mulai dari urusan komunikasi
antar individu dalam keluarga hingga relasi sosial antar keluarga dalam
masyarakat.

Banyak memang problema yang biasa dihadapi keluarga. Tidak sedikit keluarga
yang menyerah atas ?derita? yang sebetulnya diciptakannya sendiri. Di
antaranya memilih perceraian sebagai penyelesaian. Kasus-kasus faktual
tentang itu ada semua di masyarakat kita. Dan, masih banyak lagi kegelisahan
yang melilit keluarga-keluarga di masyarakat kita. Namun, umumnya
kegelisahan itu diakibatkan oleh menurunnya kemampuan mereka menemukan
alternatif ketika menghadapi masalah yang tidak dikehendaki. Karena itu,
menjadi penting bagi kita untuk mencari kunci yang bisa mengokohkan bangun
keluarga kita dari hempasan arus zaman yang serba menggelisahkan. Dan, kata
kunci itu adalah sakinah.

*Makna Sakinah*

Istilah ?sakinah? digunakan Al-Qur?an untuk menggambarkan kenyamanan
keluarga. Istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan ?sakanun? yang
berarti tempat tinggal. Jadi, mudah dipahami memang jika istilah itu
digunakan Al-Qur?an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota
keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga menjadi lahan subur
untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah wa rahmah) di antara sesama
anggotanya.

Di Al-Qur?an ada ayat yang memuat kata ?sakinah?. Pertama, surah Al-Baqarah
ayat 248.
������� ������ ����������� ����� ������ �������� ���� ������������
����������� ����� ��������� ���� ��������� ����������� ������ ������ ����
������ ������ �������� ���������� �������������� ����� ��� ������ ��������
������ ���� �������� ���������

*Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: **?**Sesungguhnya tanda ia akan
menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat
ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga
Harun; tabut itu dibawa oleh Malaikat.**?*

Tabut adalah peti tempat menyimpan Taurat yang membawa ketenangan bagi
mereka. ayat di atas menyebut, di dalam peti tersebut terdapat ketenangan
?yang dalam bahasa Al-Qur?an disebut sakinah. Jadi, menurut ayat itu sakinah
adalah tempat yang tenang, nyaman, aman, kondusif bagi penyimpanan sesuatu,
termasuk tempat tinggal yang tenang bagi manusia.

Kedua, al-sakinah disebut dalam surah Al-Fath ayat 4.
���� ������� �������� ������������ ��� ������� �������������� �������������
��������� ���� ������������ ��������� ������� ������������� �����������
������� ������� �������� �

*Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin
supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah
ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumidan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.*

Di ayat itu, kata sakinah diterjemahkan sebagai ketenangan yang sengaja
Allah turunkan ke dalam hati orang-orang mukmin. Ketenangan ini merupakan
suasana psikologis yang melekat pada setiap individu yang mampu
melakukannya. Ketenangan adalah suasana batin yang hanya bisa diciptakan
sendiri. Tidak ada jaminan seseorang dapat menciptakan suasana tenang bagi
orang lain.

Jadi, kata ?sakinah? yang digunakan untuk menyifati kata ?keluarga?
merupakan tata nilai yang seharusnya menjadi kekuatan penggerak dalam
membangun tatanan keluarga yang dapat memberikan kenyamanan dunia sekaligus
memberikan jaminan keselamatan akhirat. Rumah tangga seharusnya menjadi
tempat yang tenang bagi setiap anggota keluarga. Keluarga menjadi tempat
kembali ke mana pun anggotanya pergi. Mereka merasa nyaman di dalamnya, dan
penuh percaya diri ketika berinteraksi dengan keluarga yang lainnya dalam
masyarakat.

Dengan cara pandang itu, kita bisa pastikan bahwa akar kasus-kasus yang
banyak melilit kehidupan keluarga di masyarakat kita adalah karena rumah
sudah tidak lagi nyaman untuk dijadikan tempat kembali. Suami tidak lagi
menemukan suasana nyaman di dalam rumah, demikian pula istri. Bahkan,
anak-anak sekarang lebih mudah menemukan suasana nyaman di luar rumah. Maka,
sakinah menjadi hajat kita semua. Sebab, sakinah adalah konsep keluarga yang
dapat memberikan kenyamanan psikologis ?meski kadang secara fisik tampak
jauh di bawah standar nyaman.

*Membangun Kenyamanan Keluarga*

Kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama. Tidak
bisa bertepuk sebelah tangan. Melalui proses panjang, setiap anggota
keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penemuan
itulah yang harus menjadi ruang untuk saling mencari keseimbangan. Makanya,
keluarga sekolah yang tiada batas waktu. Di sama terjadi proses pembelajaran
secara terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua
belah pihak, baik suami-istri, maupun anak-orangtua.

Proses belajar itu akan mengungkap berbagai misteri keluarga. Lebih-lebih
ketika kita akan belajar tentang baik-buruk kehidupan keluarga dan rumah
tangga. Tidak banyak buku yang memberi solusi jitu atas problema keluarga.
Sebab, ilmu membina keluarga lebih banyak diperoleh dari pengalaman. Maka
tak heran jika keluarga sering diilustrasikan sebagai perahu yang berlayar
melawan badai samudra. Kita dapat belajar dari pengalaman siapa pun.
Pengalaman pribadi untuk tidak mengulangi kegagalan, atau juga pengalaman
orang lain selama tidak merugikan pelaku pengalaman itu.

Masalah demi masalah yang dilalui dalam perjalanan sejak pertama kali
menikah adalah pelajaran berharga. Kita dapat belajar dari pengalaman orang
tentang memilih pasangan ideal, menelusuri kewajiban-kewajiban yang mengikat
suami-istri, atau tentang penyelesaian masalah yang biasa dihadapi keluarga.
Semuanya sulit kita dapat dari buku. Hanya kita temukan pada buku kehidupan.
Bagaimana kita dapat memahami istri yang gemar buka rahasia, atau menghadapi
suami yang berkemampuan seksual tidak biasa. Dan masih banyak lagi masalah
keluarga yang seringkali sulit ditemukan jalan penyelesaiannya. Jadi, memang
tepat jika rumah tangga itu diibaratkan perahu, sebab tak henti-hentinya
menghadapi badai di tengah samudra luas kehidupan.

Rumah tangga juga dua sisi dari keping uang yang sama: bisa menjadi tambang
derita yang menyengsarakan, sekaligus menjadi taman surga yang mencerahkan.
Kedua sisi itu rapat berhimpitan satu sama lain. Sisi yang satu datang pada
waktu tertentu, sedang sisi lainnya datang menyusul kemudian. Yang satu
membawa petaka, yang lainnya mengajak tertawa. Tentu saja, siapa pun
berharap rumah tangga yang dijalani adalah rumah tangga yang memancarkan
pantulan cinta kasih dari setiap sudutnya. Rumah tangga yang benar-benar
menghadirkan atmosfir surga: keindahan, kedamaian, dan keagungan. Ini adalah
rumah tangga dengan seorang nakhoda yang pandai menyiasati perubahan.

Rumah menjadi panggung yang menyenangkan untuk sebuah pentas cinta kasih
yang diperankan oleh setiap penghuninya. Rumah juga menjadi tempat sentral
kembalinya setiap anggota keluarga setelah melalui pengembaraan panjang di
tempat mengadu nasibnya masing-masing. Hanya ada satu tempat kembali, baik
bagi anak, ibu, maupun bapak, yaitu rumah yang mereka rasakan sebagai surga.
Bayangkan, setiap hari jatuh cinta. Anak selalu merindukan orang tua,
demikian pula sebaliknya. Betapa indahnya taman rumah tangga itu. Sebab,
yang ada hanya cinta dan kebaikan. Kebaikan inilah yang sejatinya menjadi
pakaian sehari-hari keluarga. Dengan pakaian ini pula rumah tangga akan
melaju menempuh badai sebesar apapun. Betapa indahnya kehidupan ketika ia
hanya berwajah kebaikan. Betapa bahagianya keluarga ketika ia hanya berwajah
kebahagiaan.

Tetapi, kehidupan rumah tangga acapkali menghadirkan hal yang sebaliknya.
Bukan kebaikan yang datang berkunjung, melainkan malapetaka yang kerap
merundung. Suami menjadi bahan gunjingan istri, demikian pula sebaliknya.
Anak tidak lagi merindukan orang tua, dan orang tua pun tidak lagi peduli
akan masa depan anaknya. Bila sudah demikian halnya, bukan surga lagi yang
datang, melainkan neraka yang siap untuk membakar. Benar, orang tua tidak
punya hak membesarkan jiwa anak-anaknya, dan mereka hanya boleh membesarkan
raganya. Tapi raga adalah cermin keharmonisan komunikasi yang akan
berpengaruh pada masa depan jiwa dan kepribadian mereka.

*Lunturnya Semangat Sakinah*

Membangun sakinah dalam keluarga, memang tidak mudah. Ia merupakan bentangan
proses yang sering menemui badai. Untuk menemukan formulanya pun bukan hal
yang sederhana. Kasus-kasus keluarga yang terjadi di sekitar kita dapat
menjadi pelajaran penting dan menjadi motif bagi kita untuk berusaha keras
mewujudkan indahnya keluarga sakinah di rumah kita.

Ketika seseorang tersedu mengeluhkan sepenggal kalimat, ?Suami saya
akhir-akhir ini jarang pulang?, tidak sulit kita cerna maksud utama
kalimatnya. Sebab, kita menemukan banyak kasus yang hampir sama, atau bahkan
persis sama, dengan kasus yang menimpa wanita pengungkap penggalan kalimat
tadi.

Penggalan kalimat di atas bukan satu-satunya masalah yang banyak dikeluhkan
istri. Masih banyak. Tapi kalau ditelusuri akar masalahnya sama: ?tidak
tahan menghadapi godaan?. Godaan itu bisa datang kepada suami, bisa juga
menggedor jagat batin istri. Karena godaan itu pula, siapa pun bisa membuat
seribu satu alasan. Ada yang mengatakannya sudah tidak harmonis, tidak bisa
saling memahami, ingin mendapat keturunan, atau tidak pernah cinta.

Payahnya, semakin hari godaan akibat pergeseran nilai sosial semakin
menggelombang dan menghantam. Sementara, ketahanan keluarga semakin rapuh
karena ketidakpastian pegangan. Maka, kita dapati kasus-kasus di mana
seorang ibu kehilangan kepercayaan anak dan suaminya. Seorang bapak yang
tidak lagi berwibawa di hadapan anak dan istrinya. Anak yang lebih erat
dengan ikatan komunitas sebayanya. Bapak berebut otoritas dalam keluarga
dengan istrinya, serta istri yang tidak berhenti memperjuangkan hak
kesetaraan di hadapan suami. Semua punya argumentasi untuk membenarkan
posisinya. Semua tidak merasa ada yang salah dengan semua kenyataan yang
semakin memprihatinkan itu.

Tapi benarkah perubahan zaman menjadi sebab utama terjadinya pergeseran
nilai dalam rumah tangga? Lalu, mengapa keluarga kita tidak lagi sanggup
bertahan dengan norma-norma dan jati diri keluarga kita yang asli? Bukankah
orang tua-orang tua kita telah membuktikan bahwa norma-norma yang mereka
anut telah berhasil mengantarkan mereka membentuk keluarga normal dan
berbudaya, bahkan berhasil membentuk diri kita yang seperti sekarang ini?
Lantas, kenapa kita harus larut dengan segala riuh-gelisah perubahan zaman
yang kadang membingungkan?

Transformasi budaya memang tidak mudah, bahkan tidak mungkin, kita hindari.
Arusnya deras masuk ke rumah kita lewat media informasi dan komunikasi.
Kini, setiap sajian budaya yang kita konsumsi dari waktu ke waktu, diam-diam
telah menjadi standar nilai masyarakat kita. Ukuran baik-buruk tidak lagi
bersumber pada moralitas universal yang berlandaskan agama, tapi lebih
banyak ditentukan oleh nilai-nilai artifisial yang dibentuk untuk tujuan
pragmatis dan bahkan hedonis. Tanpa kita sadari, nilai-nilai itu kini telah
membentuk perilaku sosial dan menjadi anutan keluarga dan masyarakat kita.
Banyak problema keluarga yang muncul di sekitar kita umumnya menggambarkan
kegelisahan yang diwarnai oleh semakin lunturnya nilai-nilai agama dan
budaya masyarakat. Masyarakat kini seolah telah berubah menjadi ?masyarakat
baru? dengan wujud yang semakin kabur.

Gaya hidup remaja yang berujung pada fenomena MBA (*married by accident*)
telah jadi model terbaru yang digemari banyak pasangan. Pernikahan yang
dianjurkan Nabi menjadi jalan terakhir setelah menemukan jalan buntu.
Sementara perceraian yang dibenci Nabi justru menjadi pilihan yang banyak
ditempuh untuk menemukan solusi singkat. Kenyataan ini merupakan bagian
kecil dari proses modernisasi kehidupan yang berlangsung tanpa kendali
etika. Akibatnya, struktur fungsi yang sejatinya diperankan oleh
masing-masing anggota keluarga tampak semakin kabur.

Seorang anak kehilangan pegangan. Ibu-bapaknya terlalu sibuk untuk sekadar
menyapa anak-anaknya. Anak pun dewasa dengan harus menemukan jalan hidupnya
sendiri. Mencari sendiri ke mana harus memperoleh pengetahuan, dan harus
mendiskusikan sendiri siapa calon pendampingnya. Semuanya berjalan
sendiri-sendiri. Padahal, jika sendi-sendi keluarga itu telah kehilangan
daya perekatnya dan masing-masing telah menemukan jalan hidupnya yang
berbeda-beda, maka bangunan ?baiti jannati?, rumahku adalah surgaku, akan
semakin menjauh dari kenyataan. Itu menjadi mimpi yang semakin sulit
terwujud. Bahkan, menjadi mimpi yang tidak pernah terpikirkan. Yang ada
hanyalah ?neraka? yang tidak henti-hentinya membakar suasana rumah tangga.

Satu lagi yang sering menjadi akar bencana keluarga, yaitu anak. Dunia anak
adalah dunia yang lebih banyak diwarnai oleh proses pencarian untuk
menemukan apa-apa yang menurut perasaan dan pikirannya ideal. Dunia ideal
sendiri, baginya, adalah dunia yang ada di depan matanya, yang karenanya ia
akan melakukan pengejaran atas dasar kehendak pribadi. Akan tetapi, di sisi
lain, perkembangan psikologis yang sedang dilaluinya juga masih belum mampu
memberikan alternatif secara matang terutama berkaitan dengan standar nilai
yang dikehendakinya. Karena itu, selama proses yang dilaluinya, hampir
selalu ditemukan berbagai perubahan sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat
di mana anak itu berkembang. Di sinilah proses bimbingan itu diperlukan,
terutama dalam ikut menemukan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan.

Guru di sekolah ataupun orang tua di rumah, secara tidak sadar, seringkali
menjadi sosok yang begitu dominan dalam menentukan masa depan anak. Padahal,
guru ataupun orang tua bukanlah segala-galanya bagi perkembangan dan masa
depan anak. Proses pendidikan, dengan demikian, pada dasarnya merupakan
proses bimbingan yang memerdekakan sekaligus mencerahkan. Proses seperti itu
berlangsung alamiah dalam kehidupan yang bebas dari ikatan-ikatan yang
justru tidak mendidik. Dalam kerangka seperti inilah, maka keluarga bisa
berperan sebagai lembaga yang membimbing dan mencerahkan, atau juga
sebaliknya. Jika tidak tepat memainkan peran yang sesungguhnya, bisa saja
berfungsi sebagai penjara yang hanya mampu menanamkan disiplin semu.
Anak-anak bisa menjadi manusia yang paling shalih di rumah, tetapi menjadi
binatang liar ketika keluar dari dinding-dinding rumah dan terbebas dari
pengawasan orang tua.

Dalam situasi seperti inilah, anak mulai mencari kesempatan untuk memenuhi
kebuntuan komunikasi yang dirasakannya semakin kering dan terbatas. Sebab
berkomunikasi untuk saling menyambungkan rasa antar anggota keluarga
merupakan kebutuhan dasar yang menuntut untuk selalu dipenuhi.
Konsekuensinya, ketidaktersediaan aspek ini dalam keluarga dapat berakibat
pada munculnya ketidakseimbangan psikologi yang pada gilirannya dapat saja
mengakibatkan terjadinya penyimpangan-penyimpangan sosial seperti apa yang
terjadi di masyarakat sekitar kita. Inilah di antara kerusakan akibat
lunturnya atmosfir sakinah dalam keluarga.








"Mengetahui" Keinginan

Manusia selalu di warnai dengan keinginan, apapun bentuknya. Manusia tanpa
keinginan adalah manusia yang tidak bisa mewarnai hidup, kata seorang teman.
Mungkin ada benarnya, bahwa keinginan bisa memacu semangat untuk berusaha,
seperti keinginan untuk mendapatkan rumah, mobil, anak dan lainnya. Salah
seorang teman yang sudah cukup matang dalam usia sewaktu di masjid di tanya
tentang keinginannya, dia menjawab ingin menjadi orang yang bertaqwa. Ada lagi
seorang bapak yang hanya memiliki seorang anak, ketika di tanya tentang
keinginannya dia menjawab kalau dia ingin melihat anaknya 'semata wayang' itu
bahagia.

Memasuki tahun ajaran baru, orang tua yang memiliki anak yang baru masuk
sekolah akan mulai di sodorkan berbagai keinginan anak dalam memenuhi tuntutan
pendidikan yang cukup mahal. Sekolah memang gratis tetapi untuk pakaian seragam
dan buku sekolah orag tua harus merogoh kantong cukup dalam. Kita ingin bahkan
menuntut anak kita untuk memiliki pendidikan yang tinggi dan sebaliknya
pendidikan pun menuntut kita biaya yang cukup tinggi. Artinya keinginan sering
mengejar dan memaksa kita untuk di wujudkan. Dan pada akhirnya ada sebagian
orang yang menanggalkan keimanan untuk mewujudkan keinginannya tersebut."
Keinginan itu harus berlandaskan dengan keimanan" kata Pak Amin disela-sela
waktu sehabis maghrib. Saya tidak mengerti dengan maksudnya karena sering kali
orang mudah mengatakan sesuatu yang dinilainya secara subjektif, seperti
keinginannya merayakan sunatan cucunya secara meriah dengan mengundang panari,
entah dimana muatan keimanan dari keinginannya tersebut.

Belakangan ini muncul trend baru yaitu keinginan-keinginan tampak sholeh.
Pengajian-pengajian banyak di serbu, perlehatan-perlehatan akbarpun sering
terselenggara. Pawai kendaraan dengan " pakaian taqwa" sering kali memadati
jalan sampai susah lewat karena iring-iringan harus di beri kesempatan terlebih
dahulu, maklumlah mereka " serdadu Tuhan". Lain lagi dengan seorang penceramah
yang turun dari sebuah mobil yang bagi "orang bawah" di nilai mewah
menganjurkan hidup sederhana seperti cara Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam yang walaupun seorang khalifah atau raja untuk ukuran sekarang Beliau
tetap hidup dalam keadaan kekurangan. " Kita harus mencontoh Beliau !" kata
penceramah itu, "Kita" disitu maksudnya yang mendengarkannya. Seorang teman
melihat keadaan ini pernah berujar " Saya mau cari ustadz yang kehidupannya
sehari-harinya seperti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam untuk belajar
agama , ada gak ya di Jakarta ini ?". Mungkin ada, cuma kita tidak tahu ,
karena orang-orang seperti itu jarang pernah mau menonjolkan diri.

Keinginan-keinginan sering kali telah bercampur dengan dunia beserta atributnya
sehingga sering ayat-ayat Tuhan di sesuaikan dengan keinginan sang pelaku baik
itu mengenai sesuatu yang di hajatkan, waktu maupun tempat. Bekerja dan
berusaha jika diniatkan karena Allah adalah ibadah, lalu apa yang membedakan
bekerja pada jaman Rasulullah, atau jaman sahabat atau jaman tabi'in dengan
bekerja pada saat sekarang ? Seorang teman sering mengeluh dengan
penghasilannya perbulan yang tidak sesuai dengan pengeluarannya, " Kenapa ya,
rezeki saya pas-pasan padahal semuanya untuk menafkahi keluarga dan itukan
ibadah" katanya seperti bertanya kapada diri sendiri sambil memegang buletin
masjid bertajuk " Berserah diri Kepada Allah ". Apakah ibadah itu sesuatu yang
di dapatkan atau sesuatu yang dipersembahkan ? . Mengetahui, memahami dan
mengalami adalah sesuatu yang berbeda. Seiring dengan bertebarannya buku-buku
agama, kitab-kitab hadist, dan berbagai tafsir kita sedang mengalami uforia "
Mengetahui". Mudah-mudahan suatu saat nanti kita bisa sampai pada tahap
memaknai apa yang telah kita alami, agar bisa memahami makna berserah diri
kepada Allah.










KENAPA KITA TERHALANG MELIHAT ALLAH

Kita menyembah Allah sebaiknya dapat memandang (melihat) Allah atau kalau belum
mampu kita wajib yakin bahwa Allah melihat kita, agar amal (perbuatan) kita
sampai (wushul) ke hadhirat Allah bukan kepada selainNya. Yang dimaksud dengan
memandang (melihat) Allah disini adalah dengan mata hati (bashirah).
Sebagaimana hadits berikut ini,

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib
Al-Yamani,
"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali.
Imam Ali menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia
yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ?".

Contoh sederhana akan hadits ini, jika kita mendirikan Sholat , sholat sudah
mengikuti Al-Qur'an dan Hadits (Fikih), sholat dilakukan diniatkan karena Allah
(Ushuluddin) , namun memandang (melihat) selainNya (Tasawuf), misalkan timbul
di hati memandang (melihat) manusia agar dianggap sebagai muslim yang sholeh.
Sehingga sholatnya lalai. Maka celakalah !

Ini sebuah contoh yang memuat seluruh pokok-pokok ajaran agama Islam, Islam
(rukun Islam/ Kitab Fikih), Iman (rukun Iman, kitab Ushuluddin), Ihsan (akhlak,
kitab Tasawuf).

Rasulullah saw berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya
walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda."

Imam Qusyairi mengatakan
"Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang
membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut
senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa
yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid
(penyaksi)".

Secara sederhana kita bisa kita tangkap makna perkataan Imam Qusyairi,

sesuatu hadir dalam hati ===> selalu sadar dan ingat ==> seakan-akan senantiasa
melihat dan meyaksikanNya

Dengan selalu sadar dan ingat kepada Allah (mengingat Allah), seorang muslim
dapat mencapai tingkatan Ihsan, "seolah-olah melihat-Nya".

Penuhilah hati kita dengan selalu mengingat Allah, kita akan mencapai muslim
yang Ihsan, "seolah-olah melihat-Nya".

Sebagaimana yang dikisahkan seorang pemuda dengan kekasih wanita nya. Di mana
pemuda itu setiap akan makan, mandi, tidur dan perbuatan lainnya selalu
mengingat sang kekasih dan hatinya dipenuhi kekasihnya atau kekasihnya selalu
hadir di hati pemuda itu, maka pemuda itu akan "seolah-olah melihat
kekasihnya". Pemuda tersebut "seolah-olah" menjadi hamba sang kekasih.

Begitu pula bagi seorang muslim, yang mengingat Allah setiap melakukan
perbuatan seperti ketika makan, mandi, tidur, mengadakan perjalanan dan
perbuatan yang lain, muslim yang selalu mengingat Allah, sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi akan mencapai tingkatan ihsan, "seolah-olah melihatNya". Muslim yang
menjadi hamba Allah.

Mengingat Allah setiap melakukan perbuatan ====>> doa sebelum makan, tidur,
berjalan, berwudhu, dll. Minimal dengan

Bismillahirohmanirohim

"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang"

Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda, "Setiap perbuatan, jika tidak dimulai
dengan "Bismillah" (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan
terputus (dari keberkahan Allah)".

Perbuatan (amal) yang tidak dilakukan dengan sadar dan mengingat Allah akan
terputus atau tidak sampai (wushul) ke hadhirat Allah, perbuatan (amal) yang
sia-sia.

Amal walaupun dengan Ilmu namun tanpa Akhlak maka akan sia-sia.

Contoh sederhana lainnya, di dunia maya(internet) kita menulis (AMAL) dalam
forum diskusi , milis, jaringan sosial, email, dengan dukungan ILMU yang kita
ketahui namun disampaikan dengan AKHLAK yang buruk (terhalang memandang Allah)
maka kita dapat celaka.

Lalu, ada yang bertanya, bahwa dia sudah menulis dengan berbagai sindiran,
hujatan, olok-olok, fitnah, dengan kemarahan, namun dia yakin bahwa dia dalam
kebenaran karena dia yakin Allah setuju, dikarenakan Allah tidak memberikan
teguran,hukuman/balasan.

Kita harus yakin bahwa al-Haq (kebenaran) tidak akan bercampur dengan
kebathilan.

Kebenaran tidak disampaikan dengan hujatan, olok-olok, fitnah maupun kemarahan.

Ingatlah, bisa saja Allah mengundur teguran/hukuman/balasan kepada waktu nanti
di Akhirat, maka ini adalah sebenar-benarnya kerugian.

Jika Allah mencintai hambaNya , bisa Dia menegur seketika itu juga, agar
hambaNya mempunyai waktu untuk meminta ampunanNya. Teguran dari Allah dapat
menunjukkan kedekatan hambaNya kepada Allah.

Lalu kenapa kita terhalang melihatNya ?

* Orang kafir itu tertutup dari cahaya hidayah oleh kegelapan sesat.
* Ahli maksiat tertutup dari cahaya taqwa oleh kegelapan alpa
* Ahli Ibadah tertutup dari cahaya taufiq dan pertolongan Allah Ta'ala oleh
kegelapan memandang ibadahnya

Siapa yang memandang pada gerak dan perbuatannya ketika taat kepada Allah
ta'ala, pada saat yang sama ia telah terhalang (terhijab) dari Sang Empunya
Gerak dan Perbuatan, dan ia jadi merugi besar.

Siapa yang memandang Sang Empunya Gerak dan Tindakan, ia akan terhalang
(terhijab) dari memandang gerak dan perbuatannya sendiri, sebab ketika ia
melihat kelemahannya dalam mewujudkan tindakan dan menyempurnakannya, ia telah
tenggelam dalam anugerahNya.

Setiap dosa merupakan bintik hitam hati, sedangkan setiap kebaikan adalah
bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang
(terhijab) dari memandang Allah. Inilah yang dinamakan buta mata hati.

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti)
ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS Al
Isra 17 : 72)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi
yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (al Hajj 22 : 46)

Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita sehingga tidak dapat memandang
Allah ?

Di zaman modern ini, sebagian ulama hanya terfokus mengajarkan tentang Islam
(rukun Islam / Kitab Fikih), Iman (rukun Iman / Kitab Ushuluddin) namun
sedikit yang mengajarkan tentang Ihsan (akhlak / Kitab Tasawuf).

Bahkan sebagian ulama anti mendalami/mengajarkan kitab Tasawuf hanya karena
istilah Tasawuf atau memaknai tasawuf dengan keliru, atau melihat kepada
orang/kaum yang keliru mendalami Tasawuf dalam Islam.

Sehingga kita dapat temukan sebagian muslim yang tahu tentang sholat (ilmu) ,
menjalankan sholat dengan rajin (amal) namun terhalang memandang Allah (akhlak)
sehingga mereka berani melakukan perbuatan korupsi, zina, setengah bugil atau
bugil di depan kamera, memimpin dengan zalim, memperkaya diri sendiri dan
kelompok, dll.

Oleh karenanya para ulama harus mendalami dan mengajarkan seluruh pokok-pokok
ajaran agama Islam, termasuk tentang Ihsan (akhlak / kitab Tasawuf).

Kelirulah jika terpengaruh himbauan sebagian ulama untuk modernisasi Agama,
atau terpengaruh ulama yang mengaku sebagai pembaharu (mujaddid), karena mereka
hanya fokus mendalami dan mengajarkan kitab fikih dan kitab ushuluddin saja
dengan meninggalkan kitab Tasawuf yang menguraikan tentang akhlak, tazkiyatun
nafs, ma'rifatullah dan lain-lain.

Sehingga dengan mengabaikan salah satu pokok ajaran agama Islam, yakni tentang
Ihsan maka sesungguhnya mereka secara tidak disadari mengupayakan pendangkalan
ajaran agama Islam. Mereka menamai kitab Tasawuf sebagai kitab klasik atau
kitab tradisionil atau kolot yang bagi mereka layak untuk dilupakan karena
zaman sudah modern.

Dalam soal kegamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i'tiqad (aqidah), soal
hakikat, soal ma'rifat maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi.
Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya,
sebagai yang diajarkan Rasulullah.

Allah telah memberikan petunjuk bahwa kita dalam pengajaran harus mengajarkan
tentang akhlak (tentang Ihsan) agar terbuka mata hati orang yang akan kita
ajarkan, sebagaimana firmanNya yang artinya,

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang
buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan
(petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat
Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami)." (QS Ar ruum
30 : 53)

"Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau
(dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada
orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?" (QS As Zukhruf 43:40)

Alhamdulillah, adanya kesadaran dari pemerintah melalui melalui Kementerian
Pendidikan Nasional yang sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk
semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi .

Namun pendidikan karakter bukanlah pendekatan melalui filsafat, psikologi,
motivasi, menurut prasangka manusia atau hubungan antar manusia semata, yang
terbaik adalah pendekatan melalui pendidikan akhlakul kharimah, menghubungkan
kembali manusia dengan Allah, mendidik manusia untuk dapat menghilangkan
hijabnya dengan Allah sehingga dapat merasakan kedekatan atau kebersamaan
dengan Allah yang memotivasi untuk mentaati perintahNya dan menjauhi
laranganNya.

Solusi pendidikan agama yang harus diselenggarakan pemerintah adalah kembali
mengajarkan apa yang diajarkan ulama-ulama kita terdahulu yang mengajarkan
kitab-kitab klasik atau kitab-kitab Tasawuf.










Bagaimanakah agar kita mencapai tingkatan muslim yang Ihsan

Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama
Rasulullah Saw.

Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam
sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari
kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua
kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya
diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

"Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam."
Lalu Rasulullah Saw menjawab, "Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan
kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu."

Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman."
Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan
buruknya."

Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan."
Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya
walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.

Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)."
Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."
Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah
menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa
sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba
membangun gedung-gedung bertingkat." Kemudian orang itu pergi menghilang dari
pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang
yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih
mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk
mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)

Dari hadits diatas kita dapat memahami pokok ajaran dari Agama Islam yakni
tentang Islam (rukun Islam), Iman (rukun Iman) dan Ihsan (seolah-olah
melihatNya).

Dimanakah kita dapat kita pelajari atau kita dalami ke tiga pokok ajaran Agama
Islam itu?

Islam (rukun Islam) bisa kita dapati dengan mendalami fiqh / hukum.

Klo tidak mempunyai kemampuan untuk berijtihad maka bolehlah kita mengikuti
ulama yang berkompetensi / ahli atau dikenal sebagai Imam Mujtahid.

Jumhur ulama sepakat ada empat Imam Besar yang kita kenal. salah satunya adalah
Imam Syafi'i.

Iman (rukum Iman) bisa kita dapati dengan mendalami ushuluddin atau tentang
i'tiqad /akidah. Imam yang telah menggali dan merumuskan dari Al-Qur'an dan
Hadist, juga disepekati oleh jumhur ulama, salah satunya adalah Imam Abu Hasan
al Asy'ari dan Imam Mansur al Maturidi yang dikenal dan disepakati sebagai
ulama Ahlussunah Wal Jam'ah yang kaumnya dinamai kaum Ahlussunnah atau kaum
Sunni.

Ihsan (seolah-olah melihatNya) bisa kita dapati dengan mendalami tentang
akhlak, tazkiyatun nafs, ma'rifatullah yang secara umumnya dinamai Tasawuf.
Banyak ulama yang telah menguraikan atau menceritakan pengalaman mereka
tentang Tasawuf , antara lain adalah Syaikh Ibnu Athoillah.

Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti "kesempurnaan" atau "terbaik."

Sebagian muslim ternyata tidak pernah mencita-citakan untuk menjadi muslim yang
terbaik, yakni yang mencapai tingkatan Ihsan (seolah-olah melihatNya). Yang
umumnya dan awamnya diketahui adalah Rukun Islam dan Rukun Iman semata.

Kenyataan yang ada, memang sebagian ulama hanya fokus pada fiqh dan ushuluddin
saja.

Mereka jarang mendalami tentang Ihsan (seolah-olah melihatNya), bahkan sebagian
menolak mendalami Tasawuf yang merupakan pendalaman tentang Ihsan , hanya
semata-mata karena alergi dengan istilah Tasawuf. Menurut mereka, tasawuf
adalah mistik, khurafat, tahakyul, kolot, tidak modern atau tidak dapat
mengikuti zaman.

Inilah yang kami sedihkan melihat kenyataan bahwa dalam zaman modern ini
sebagian muslim tanpa disadari terpengaruh dengan slogan modernisasi agama,
pembaharuan, pemahaman/ijtihad baru dengan metode pemahaman tekstual, dzahir,
harfiah atau menurut mereka secara ilmiah dan modern yang bersandarkan dalil
dan masuk akal.

Setelah kami lakukan pengkajian, ternyata apa yang dimaksud dengan
slogan-slogan diatas , secara tidak disadari adalah pendangkalan agama Islam
semata karena hanya menguraikan seputar fiqh dan ushuluddin saja. Dengan metode
pemahaman secara dzahir, tekstual atau lahiriah mereka tidak dapat mendalami
tentang Ihsan atau tasawuf, karena pendalaman Tasawuf adalah semata-mata
bergantung kepada karunia Allah dalam bentuk al-hikmah (pemahaman yang dalam).

Kita sesungguhnya tidak menolak seluruh modernisasi. Modernisasi dianjurkan
untuk bidang-bidang keduniaan yang belum ada aturannya dari Allah dan Rasul.
Namun dalam soal kegamaan, soal syariat, soal ibadah, soal i'tiqad (aqidah),
soal hakikat, soal ma'rifat maka kita menolak sekuat-kuatnya akan modernisasi.
Agama adalah dari Allah dan Rasul, kita wajib menerima bagaimana adanya,
sebagai yang diajarkan Rasulullah.

Nabi Rasulullah bersabda: "Dari Anas bin Malik Rda, beliau berkata, Rasulullah
telah bersabda: Apabila ada sesuatu urusan duniamu maka kamu yang lebih tahu,
tetapi apabila dalam urusan agamamu maka Saya yang mengaturnya". (HR Imam Ahmad
bin Hanbal).
Agama tidaklah mengikuti zaman tetapi sebaliknya zaman yang harus tunduk kepada
agama.

Slogan modernisasi agama dihembuskan dan sepertinya memang ada pihak yang
"mengangkat" atau "mengupayakan" untuk memasyarakatkan metode pemahaman secara
dzahir, tekstual atau harfiah. Mereka mengaku sebagai pembaharu (mujaddid) dan
seolah-olah mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad atau menjadi imam
mujtahid


Bagaimana proses pendalaman Tasawuf (tentang ihsan, seolah-olah melihatNya) ?

Tasawuf dalam Islam, sesungguhnya sangat mudah untuk dijalani. Tasawuf bukanlah
pemahaman namun amalan atau perbuatan. Sehingga muslim yang telah mendalami
Tasawuf bukannya mengajarkan pemahaman namun menceritakan pengalaman mereka
atau perjalanan mereka. Kadang-kadang tulisan tidak lagi sanggup mengungkapkan
pengalaman atau perjalanan mereka, oleh karenanya sebagian dari mereka
mengungkapkan dengan syair , hikmah (pernyataan yang dalam maknanya) atau
nasehat.

Tasawuf dalam Islam, prinsip dasarnya adalah melakukan perbuatan apapun di alam
dunia dalam rangka memenuhi keinginan Allah yakni beribadah atau menyembah
kepadaNya atau selalu mengingat Allah.

Keinginan Allah, sebagaimana firmanNya yang artinya
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepada-Ku" (Az Zariyat : 56)
"Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu" (al Hijr: 99)

Setelah kesadaran ini dapat dipahami maka langkah selanjutnya adalah
sebagaimana perkataan Rasulullah SAW,
"Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan
mati syahid" (HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru adalah bertobat, kemudian mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs),
akhlak yang baik, adab yang mulia dalam perjalanan hidup kita, mengantarkan
kita kembali sebenar-benarnya bersaksi (syahid) sebagaimana pada awal mula
kejadian kita (ketika bayi dalam kandungan).

Oleh karena itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti
bayi dalam kandungan, agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

Setiap manusia sudah bersaksi bahwa Allah adalah sebagai Rabbnya ketika masih
dalam alam kandungan. Sebagaimana yang disampaikan Allah dalam firman yang
artinya. "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan
kami), kami menjadi saksi". (QS- Al A'raf 7:172)

Sebagaimana yang disampaikan imam Al Qusyairi bahwa,
"Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang
membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut
senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa
yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid
(penyaksi)".

Jadi langkah selanjutnya adalah selalu mengingat Allah, apapun yang kita
lakukan di alam dunia wajib kita selalu mengingat Allah.



"Perjalanan Hidup"

Firman Allah, yang artinya,

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang
yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad
dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan
Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui" (QS al Maaidah 5 : 54).

Suatu kaum yang Allah mencintai mereka. Dan merekapun mencintaiNya.

Dari Abul Abbas ? Sahl bin Sa'ad As-Sa'idy ? radliyallahu `anhu, ia berkata:
Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan
berkata: "Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku
beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia." Maka
Rasulullah menjawab: "Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu,
dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan
mencintaimu." (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Imam Ahmad berkata, "Zuhud ada tiga macam:

* Pertama, meninggalkan perkara haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam.
* Kedua, meninggalkan perkara halal yang tidak berguna, dan ini adalah
zuhudnya orang khas / khusus.
* Ketiga, meninggalkan perkara yang menyibukkan seorang hamba sehingga
melupakan Allah atau tidak mengingat Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang
arif."

Orang-orang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya
melakukan perbuatan dengan selalu mengingat Allah sehingga mereka adalah muslim
yang mencapai tingakatan Ihsan, seolah-olah melihatNya.

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib
Al-Yamani,
"Apakah Anda pernah melihat Tuhan?"
Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?"
"Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab,
"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, (dzohir atau
"mata kepala")
tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...". (dilihat oleh hati
atau bashirah, "mata hati")

Kita harus yakin bahwa kita menyembah kepada Tuhan yang kita lihat (dengan mata
hati) agar kita tidak tersesat atau salah menyembah.

Sebagaimana firman Allah yang artinya,

"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti)
ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS Al
Isra 17 : 72)

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati
yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu
mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi
yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (al Hajj 22 : 46)

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang
buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan
(petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat
Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami)." (QS Ar ruum
30 : 53)

"Maka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau
(dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada
orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?" (QS As Zukhruf 43:40)

Dengan mengamalkan Tasawuf yang diantaranya Zuhudlah di didunia, maka kita akan
dicintai Allah.

Jika Allah mencintai kita maka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah
hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:

"Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah
pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya
(kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan
untuk-Ku"







KESENDIRIAN DAN KESEPIAN

Kesendirian adalah tidak adanya partner perkawinan. Kesepian adalah perasaan
terasing dalam pikiran seseorang. Kita dapat sendiri tanpa merasakan kesepian.
Kesepian merupakan masalah umum pagi setiap orang, laki-laki dan perempuan
dapat melanda siapapun, tidak mengenal batas usia.

Dalam abad kini kita semua bisa menjadi korban dari modernitas dari kemajuan
teknologi dan masyarakat yang semakin individu. Akibatnya sering tidak disadari
dari awal dan baru terasa setelah berjalan jauh yang berakibat merugikan
kehidupan bersama. Kesepian menjadi sumber bermacam-macam penyakit pisik dan
psikologis, seperti, sakit kepala, nyeri punggung, darah tinggi, emosional,
gampang tersinggung, bahkan depresi berat sampai bunuh diri.

Dalam pandangan pakar psikologi menyebutkan bahwa manusia di zaman modern lebih
takut kesepian daripada bahaya kelaparan. Kita pada dasarnya makhluk sosial
sehingga kita merasa takut kehilangan, takut akan ditinggalkan, memerlukan
kebersamaan dan sapaan dari orang lain. Kita takut akan perasaan kehilangan
dalam hubungan pribadi, terlebih orang yang kita cintai atau kita butuhkan
keberadaannya. Tak seorangpun mampu yang terbebas dari belenggu kesepian.
Disinilah orang kemudian melakukan aktifitas apapun agar tidak kesepian yang
malah justru makin membuat dirinya merasa sepi.

Untuk menghilangkan kesendirian dan kesepian adalah dengan menjaga hati dan
pikiran agar senantiasa tesambung dengan Allah Yang Maha Kasih. Jika hati kita
tersambung dengan yang Maha Kasih, energi KasihNya akan menyebar keseluruh sel
darah kita, kesadaran diri kita dipenuhi energi Kasih sayangNya, mulut, tangan,
kaki menjadi instrumen untuk menyebarkan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala
pada semua makhluk, baik Insan yang mulia, hewan, tumbuhan maupun benda-benda
lain akan menjadi teman bahkan serasa saudara karena semua hadir atas
kehendakNya. Semuanya bertasbih dan bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

--
'Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingar Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati kita menjadi
tenteram.' (QS. ar-Ra'd : 28).










Mengurai Belitan Kesalahan*



Bila kita pernah melakukan kesalahan, hendaknya kita bersedia mengakuinya. Bila
orang lain melakukan kesalahan hendaklah kita memaafkannya. mengakui kesalahan
tidaklah mudah bahkan teramat menyakitkan. Semakin tinggi status sosial kita
maka semakin tidak mudah. Apa lagi kalo punya banyak penggemar dan pemujanya.

Menyadari kesalahan tentunya berbeda dengan mengakui kesalahan. Mengakui
kesalahan akan menyebabkan orang yang mengakui dosanya menjadi kehilangan muka.
Kalo mengakui kesalahan diri sendiri sulit, apa lagi memaafkan kesalahan orang
lain. Bahkan lebih sulit lagi. 'Saya tidak bisa memaafkan dia. Luka hati saya
masih terasa perih bagai tersayat-sayat.' Toh, hati kecil kita mengatakan,
'sudahlah maafkan dia. sebesar apapun kesalahannya maafkanlah dia.' Mengapa
kita harus memaafkan? karena hanya dengan memaafkan, Allah berkenan mengampuni
kesalahan kita. Bila kita tidak memaafkan berarti kita menolak sifat Maha
Pengampun Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Bila kita melakukan perbuatan salah maka kita akan terbelit oleh kesalahan yang
kita lakukan. Ada perasaan berdosa yang membelit hidup kita terus menerus.
Dosa itu seolah mengejar -ngejar kita dimanapun berada. Kita dibuat tidak bisa
makan enak dan tidur nyenyak. Sampai kita mengakui perbuatan yang pernah kita
lakukan.

Demikian halnya dengan kesalahan orang lain. Bila kita tidak bisa memaafkan
kesalahannya maka hati kita tersiksa akibat rasa geram, marah, benci dan dendam
berkepanjangan. Membelit dan menyesakkan dada. Belitan itu akan akan bisa kita
lepaskan ketika kita bersedia untuk memaafkan sebagai firman Allah Subahanu Wa
Ta'ala.

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang kebaikan, serta berpalinglah
dari orang-orang yang tidak mengerti.' (QS. Al A�raf [7] : 199).







READ MORE - tutur kata hati

SENTUHAN HATI

[godmandala.jpg]
HUBUNGAN ORANG TUA-ANAK ADALAH UJIAN

Tidak seperti yang kita semua tahu, setiap individu manusia mempunyai dua
jenis orang tua, yaitu orang tua jasmani dan orang tua rohani. Orang tua
jasmani kita adalah orang tua yang dipakai lewatan oleh Allah untuk
mewujudkan diri kita di alam nyata sedangkan orang tua rohani kita adalah
yang dipakai lewatan Allah untuk memberikan roh suci (fitrah) di dalam diri
kita. Orang tua jasmani hanya menjadi orang tua kita pada saat kehidupan
tertentu. Artinya jika saat ini kita menjadi anak dari seorang ayah dan ibu,
bisa jadi pada kehidupan berikutnya kitalah yang menjadi orang tua, kakek,
nenek, paman, atau bibi mereka. Yang dimaksud orang tua kita sebenarnya dan
tetap kekal sampai kapan pun adalah orang tua rohani kita, yaitu Beliau
Ifrit, Khidir, Adam, dan Eva.

Kita ditakdirkan Allah menjadi orang tua jasmani atau sebagai anak jasmani
merupakan ujian. Baik sebagai orang tua maupun anak kita harus menjawab
ujian tersebut.

1.Diuji untuk mampu melaksanakan rasa ikhlas terhadap orang terdekat kita
atau darah daging kita sendiri.

2.Diuji apakah kita lebih mengutamakan urusan hubungan dengan Allah atau
hubungan dengan sesama manusia.

Dengan membaca buku panduan ini, kita akan mampu menggunakan fitrah kita
untuk menyelesaikan ujian dengan nilai yang memuaskan. Hanya dengan kendali
fitrahlah kita akan memahami hak dan kewajiban kita sebagai orang tua atau
anak sehingga kita mampu melaksanakan kebenaran. Yaitu dalam menghadapi
ujian selalu kembali ke Subyek atau dengan kata lain selalu
mendahulukan *hubungan
dengan Allah* sebelum mengurus *hubungan dengan sesama manusia*. Berbekal
nilai yang memuaskan inilah, kita bisa meningkatkan tingkat keimanan kita
serta menjadikan kehidupan kita selalu bermanfaat, baik ketika posisi kita
di bawah maupun ketika posisi kita di atas. Buku ini juga menjelaskan bahwa
yang dikatakan mulia di hadapan Allah tidak tergantung peran kita sebagai
orang tua ataupun anak, melainkan nilai kesempurnaan ikhlas kita baik
sebagai orang tua maupun anak. Semakin ikhlas kita menjalankan peran kita
sebagai anak atau orang tua, semakin mulia kita di hadapan Allah.

Sesuai dengan firman Allah surat Saba' ayat 37:

*"Dan bukanlah harta dan anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami,
melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah
yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka kerjakan,
dan mereka aman sentosa di tempat yang tinggi (mulia di hadapan Allah dan
mulia di hadapan manusia)" QS:34:37*



Surat ini mempunyai arti tersirat bahwa sebagai anak, apabila memiliki orang
tua yang mampu mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia berupa kekuasaan,
atau kekayaan janganlah terlalu dibanggakan. Begitu pula ketika diberi orang
tua yang tidak mempunyai harta, atau kehormatan di hadapan manusia,
janganlah direndahkan. Keduanya merupakan ujian dari Allah.

Sebaliknya sebagai orangtua juga sama. Apabila anaknya berhasil mendapatkan
kemuliaan di hadapan manusia, janganlah terlalu dibanggakan. Dan apabila
anak kita tidak mampu mendapatkan kemuliaan di hadapan manusia, janganlah
direndahkan. Semua itu tidak lain adalah soal ujian kita untuk mengukur
keikhlasan kita dalam menerima takdir Allah terhadap diri kita. Dengan
keikhlasan yang sempurna, maka segala perbuatan kita akan mampu kita lakukan
dengan *niat hanya karena Allah semata*. Inilah harta yang sebenarnya.








TASAWUF -- MENGAPA HARUS BERSERAH

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepada-Ku" (QS Adz Dzariyat 56)
"Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu" (QS al Hijr 99)

Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan penghambaan adalah ruhnya. Apabila
kau telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah
tidak ikut mengatur dan tidak menentang takdir Tuhan.

Penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan memilih bersama RububiyahNya.
Penghambaan sebagai kedudukan yang paling mulia hanya bisa dicapai dengan sikap
tidak ikut mengatur.

Jadi seorang hamba semestinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus
berusaha mencapai tingkatan yang paling sempurna dan paling mulia.

Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah seperti anak yang pergi bersama
ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari. Karena menyayangi anaknya, sang ayah
senantiasa mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak. Anak itu
tidak bisa melihat ayahnya karena malam yang teramat gelap. Ia meresahkan
keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ketika cahaya bulan
menyinari dan ia melihat ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu
ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus
dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya.

Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia melakukannya karena berada
dalam kegelapan ? terputus dari Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah.
Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat
Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan merasa cukup
dengan pengaturan Allah.

Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah SWT dan orang yang tidak ikut
mengatur adalah seperti dua budak milik seorang majikan.

Budak yang satu sibuk dengan perintah majikan serta tidak memikirkan masalah
pakaian dan makanan. Seluruh perhatiannya terpusat pada upaya untuk mengabdi
kepada majikannya sehingga lupa memerhatikan kepentingan dirinya. Sebaliknya,
budak yang kedua, selalu memerhatikan kebutuhan dirinya. Setiap kali sang
majikan mencarinya, ia sedang mencuci baju, memperbaiki keretanya dan menghias
pakaiannya.

Tentu saja budak yang pertama lebih layak mendapat perhatian sang majikan
daripada budak kedua yang sibuk dengan kepentingan dirinya dan melupakan
kewajibannya. Seorang budak dibeli untuk mengabdi kepada majikan, bukan untuk
memuaskan kepentingan dirinya sendiri.

Orang yang ikut mengatur untuk dirinya adalah seperti orang yang menjual sebuah
rumah. Setelah akad jual beli, si penjual mendatangi si pembeli dan berkata
"jangan membangun apa pun di dalamnya". Tentu saja si pembeli menegurnya, "Kamu
telah menjualnya, dan kini kamu tak punya hak melakukan apapun atasnya, Setelah
akad, kamu tidak boleh ikut campur."

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS At Taubah 111)

Orang beriman harus menyerahkan dirinya kepada Allah beserta segala sesuatu
yang terkait dengan dirinya. Sebab, Allah lah yang menciptakannya dan Dia pula
yang membelinya. Salah satu keniscayaan dari sikap berserah diri adalah tidak
ikut mengatur atas apa yang telah kauserahkan.

Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan
bertawakal kepada Tuhan. Ketahuilah, musuh sejatimu, yaitu setan, akan
senantiasa mengganggumu ketika kau berada dalam keadaan yang Allah tetapkan
untukmu. Kemudian setan membisikkan buruknya keadaan itu sehingga kau
menghendaki keadaan lain diluar yang telah ditetapkan Allah. Akibatnya, kau
selalu gelisah dan hatimu keruh.

Setan akan mendatangi orang bekerja dan mengatakan kepadanya, "Jika kau
meninggalkan pekerjaanmu dan khusyuk beribadah, tentu kau akan mendapatkan
cahaya dan kebeningan hati. Itulah yang dialami si fulan dan si fulan".
Sementara Allah tidak menetapkannya sebagai abid yang melulu beribadah. Ia tak
mampu melakukannya. Kebaikannya hanya ada dalam kerja. Jika ia mengikuti
bisikan setan dan meninggalkan pekerjaannya, imanya akan goyah dan keyakinannya
akan runtuh.

Pada orang yang melulu beribadah, setan mebisikan hasutan yang berbeda,"Sampai
kapan kau enggan bekerja? Jika kau tidak bekerja, kau akan mengharapkan milik
orang lain dan hatimu diliputi ketamakan. Tanpa kerja, kau tidak akan bisa
membantu dan meendahulukan kepentingan orang lain serta tidak akan mampu
menunaikan kewajibanmu. Keluarlah dari keadaanmu yang selalu menunggu pemberian
makhluk. Jika kau bekerja, orang lainlah yang akan menunggu pemberianmu."
Begitulah setan membisikan godaannya.

"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka
(manusia) tidak ada pilihan" (QS Qashash : 68 )

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar,
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS.
Ath Thalaaq [65]: 2-3 ).

Tujuan setan adalah agar manusia tidak rida atas keadaan yang Allah tetapkan
untuknya. Ia berusaha mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan
mereka sendiri.

Ketahuilah, ketika Allah memasukkanmu ke dalam suatu keadaan, Dia pasti akan
selalu membantumu. Namun, jika kau masuk ke dalamnya dengan kemauan sendiri,
Dia akan membiarkanmu.

Allah berfirman, "Katakan, "Wahai Tuhan, masukkanlah aku dengan cara masuk yang
benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah
kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong" (QS Al-Isra : 80)

Sesungguhnya engkau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan.
Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu.
Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin ada keuntungan di
balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa jadi
bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.

Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi dibalik
anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa
lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur
bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang
berbahaya bagi dirinya.

Syekh Abu Al Hasan rahimahullah berkata,
"Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari
arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami
mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang kami tidak ketahui?"

Cukuplah untukmu firman Allah,
"Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi
kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui,
sementara kalian tidak mengetahui." (QS al Baqarah : 216)

Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Tuhan memalingkannya darimu.
Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan
akibat dari apa yang kau hasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa
Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau
ketahui, dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui. Sungguh buruk
seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepadaNya.

Engkau adalah hamba yang selalu Dia pelihara. Seorang hamba tidak boleh ragu
kepada majikannya. Apalagi sang majikan selalu memberi dan tidak pernah
mengabaikan. Inti ibadah adalah percaya kepada Allah dan pasrah kepadaNya.
Sikap itu berlawanan dengan hasrat ikut mengatur dan memilih bersama Allah.
Seorang hamba harus mengabdi kepadaNya, dan Dia akan memberikan karunia
untuknya.

Pahamilah firmanNya, "Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah
atasnya. Kami tidak meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki." "[QS Thaha
: 132]

Artinya, mengabdilah kepada Kami, tentu Kami akan memberikan bagian padamu.
Ayat itu mengandung dua hal, sesuatu yang Allah jamin untukmu sehingga kau
tidak perlu mencarinya dan sesuatu yang diminta darimu sehingga tidak boleh
kamu abaikan.

Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki kepada diri dan keluargamu.

Bagaimana mungkin Kami memintamu melakukan hal semacam itu ?!
Bagaimana mungkin Kami membebani kewajiban untuk memberi rezeki kepada dirimu,
sementara kau tidak akan mampu melakukannya ?
Terpujikah Kami jika memerintahkanmu mengabdi, sementara kami tidak memberikan
bagian untukmu?

Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah
sehingga lalai dari apa yang diminta, berarti sangat bodoh dan lalai.
Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa
memikirkan apa yang telah dijamin untuknya.

Allah SWT, memberi rezeki kepada kaum yang membangkang, jadi bagaimana mungkin
Dia tidak memberi kepada kaum yang taat ?
Apabila Dia telah mengalirkan rezekiNya kepada orang kafir, bagaimana mungkin
Dia menahannya untuk orang yang beriman ?

Kau telah mengetahui bahwa dunia telah dijamin untukmu, sedang akhirat diminta
darimu. Kau memiliki akal dan mata hati, jadi kenapa kau arahkan perhatianmu
kepada sesuatu yang telah dijamin untukmu sehingga kau melalaikan kewajibanmu ?

Perumpamaan orang yang sibuk bekerja dan orang yang sibuk beribadah adalah
seperti dua budak satu tuan. Sang tuan berkata kepada salah seorang dari
mereka, "Bekerjalah, dan makanlah dari hasil usahamu."
Kemudian kepada budak satunya ia berkata, "Tetaplah bersamaku dan melayaniku.
Akan kuberikan kepadamu semua kebutuhanmu".

"Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan
yang lurus" (QS Al Imran : 101 )
"Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya" (QS Al Thalaq : 3)
Ketahuilah, sikap tawakal kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan
dengan usaha manusia

Rasulullah SAW bersabda, Karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan mintalah
(atau carilah) rezeki dengan cara yang baik."

Rasulullah SAW, membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau
bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan melarangnya.

Rasulullah SAW tidak mengatakan, "Jangan mencari rezeki," namun, "Carilah
rezeki dengan cara yang baik."

Nabi Muhammad SAW membolehkan kita mencari rezeki, karena itu merupakan bagian
dari usaha. Nabi Muhammad SAW bersabda " Makanan yang paling halal dimakan
seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri"

Ketahuilah ada beberapa perwujudan dari sikap mencari rezeki dengan baik.
Berikut beberapa cara sebagaimana yang Allah sampaikan melalui karunia Nya.

1. Cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dari Allah
Swt.
2. Cara mencari rezeki yang baik adalah mencarinya kepada Allah Swt, tanpa
menetapkan batasan, sebab, dan waktunya sehingga Dia akan memberikan kepadanya
apa yang Dia kehendaki, dan diwaktu yang Dia kehendaki. Itulah etika meminta
rezeki. Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan waktunya
berarti telah mengatur Tuhannya, dan sikap itu menunjukkan kelalaian hatinya.
3. Cara meminta rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Swt, dan
jangan jadikan apa yang kau inginkan sebagai tujuan doamu. Permintaanmu itu
sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat kepada Nya.
4. Cara mencari rezeki yang baik adalah dilakukan dengan penuh kesadaran
bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan mendatangimu, bukan permintaan dan
usahamu yang mengantarkanmu kepadanya
5. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah sesuatu yang
bisa mencukupimu bukan yang melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara
berlebihan. Nabi Muhammad SAW , mengajarkan doa yang baik " Ya Allah,
jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekedar bisa mencukupi'.
6. Cara meminta rezeki yang baik bisa dengan cara meminta bagian dunianya.
Allah berfirman "dan, diantara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami , berilah
kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab
neraka" (QS Al Baqarah : 201)
7. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang
diberikan Allah, serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.
8. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera
dikabulkan.
9. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta dan bersyukur kepada Allah
jika diberi dan menyadari pilihan terbaik Nya jika tidak diberi.
10. Cara meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada ? Nya agar kau
berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu.

Kita menerima apapun ketetapan Allah untuk kita di dunia
dan menjalankan ketetapan secara ikhlas/rido, sabar, istiqomah, profesional dan
tawakal.
Firman Allah,
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka
(manusia) tidak ada pilihan."(QS Qasas :8)

Untuk itulah kita berupaya menjadi muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul
karimah, muslim yang Ihsan (muhsin), muslim yang seolah-olah melihatNya,
minimal muslim yang yakin bahwa Allah melihat kita. Sehingga kita di dunia
dapat bertemu dengan Allah, berinteraksi dengan Allah, dapat mengetahui apa
pilihanNya untuk kita.

Kita akhiri tulisan kali ini dengan sebuah doa berikut,
"Ya Allah, Engkau telah menetapkan untuk kami bagian yang Engkau sampaikan
kepada kami. Maka sampaikanlah kami kepadanya dengan mudah dan tanpa kepenatan,
terjaga dari keterhijaban, diliputi cahaya hubungan dengan-Mu, yang kami
saksikan dari-Mu sehingga kami termasuk golongan yang bersyukur dan
menyandarkan bagian kami itu kepada-Mu, bukan kepada salah satu mahluk-Mu".










Pintu-Pintu Masuknya Syetan

Imam Ibnul Qayyim menyebutkan empat macam pintu masuknya syetan untuk
menjerumuskan manusia. Empat pintu tersebut adalah; lahazhat (pandangan mata),
khatharat (angan-angan), lafzhat (ucapan lisan), dan khuthuwat (langkah kaki).
Beliau rahimahullah telah menjelaskan betapa bahayanya jika kita meremeh kan dan
tidak waspada terhadap empat hal ini. Selain itu, beliau juga menjelaskan
bagaimana cara untuk menjaga diri darinya agar seseorang selamat dari tipu daya
dan gangguan syetan.


Di antaranya beliau mengatakan, "Karena sumber kemaksiatan itu dimulai dari
pandangan, maka Allah subhanahu wata�ala mendahulukan perintah menundukkan
pandangan daripada perintah menjaga kemaluan. Karena berbagai kejadian buruk itu
dimulai dari padangan, sebagaimana api yang besar berasal dari percikan yang
kecil. Maka dimulai dari pandangan, lalu menjadi angan-angan, lalu langkah kaki
dan terakhir melakukan dosa. Berikut ini penjelasan ringkas tentang empat hal di
atas, semoga bermanfaat.


Lahazhat (Pandangan Mata)

Yang dimaksudkan lahazhat adalah mengikuti hawa nafsu dan memberi kebebasan
kepadanya. Padahal menjaganya adalah pangkal terjaganya kemaluan. Maka siapa
yang dengan bebas melemparkan pandangan dan mengikuti hawa nafsunya, berarti dia
telah menjerumuskan dirinya dalam kehancuran.


Oleh karena itu Rasulullah shallallahu �alaihi wassallam telah mengingatkan
kita, sebagaimana sabdanya,

"Janganlah engkau ikuti padangan dengan padangan berikutnya, karena untukmu
adalah padangan yang pertama, sedangkan selanjutnya bukan untukmu." (HR. Ahmad)


Beliau juga melarang duduk-duduk di pinggir jalan. Maka para shahabat bertanya,
"Bagaimana jika kondisi mengharuskan untuk itu (duduk di pinggir jalan)?� Maka
beliau menjawab, "Jika engkau memang harus melakukan itu, maka berikanlah hak
jalan." Para shahabat bertanya, "Apakah hak jalan itu?� Beliau menjawab,
"Menahan pandangan, tidak mengganggu orang dan menjawab salam." (Muttafaq
'alaih)


Pandangan adalah sumber berbagai bencana yang banyak menimpa manusia, karena
pandangan akan melahirkan angan-angan, lalu angan-angan melahirkan pemikiran,
pemikiran melahirkan syahwat, dan syahwat memunculkan keinginan, lalu keinginan
itu makin menguat hingga menjadi azam (tekad), akhirnya terjadilah perbuatan,
jika tidak ada yang menghalangi. Maka dikatakan bahwa bersabar untuk menahan
pandangan lebih ringan dibanding bersabar menahan derita setelahnya.


Pandangan seperti anak panah yang meluncur terus dan tidak akan sampai pada
sasaran sebelum orang yang memandang menyediakan tempat untuknya di dalam hati.
Kemudian setelah itu pandangan tersebut menggoreskan luka dalam hati, lalu
disusul lagi dengan luka yang lain sebagai tambahan atas luka yang sebelumnya.
Akhirnya pedihnya luka pun tak dapat terhindarkan lagi karena pandangan yang
terulang terus menerus tiada henti.


Khatharat (Angan-angan)

Angan-angan urusannya lebih sulit lagi, karena ia merupakan awal terjadinya
kebaikan atau keburukan. Dari angan-angan lahir keinginan dan kemauan serta azam
(tekad). Maka siapa yang memelihara angan-angannya berarti dia telah memegang
kendali dirinya, telah menundukkan hawa nafsunya. Dan siapa yang dikalahkan oleh
angan-angannya maka hawa nafsu akan mengendalikannya. Siapa yang meremehkan
angan-angan, maka angan-angannya akan menggiring nya menuju kehancuran.


Angan-angan seseorang berkisar pada empat hal pokok, yaitu; Pertama, angan-angan
yang memberikan manfaat keduniaan; Ke dua, angan-angan yang mendatangkan
madharat keduniaan; Ke tiga, angan-angan yang memberikan maslahat akhirat; Ke
empat, angan-angan yang mendatang kan madharat akhirat.


Maka hendaknya seseorang selalu melihat kepada apa yang dia angankan, dia
pikirkan, dan dia inginkan lalu menimbangnya dengan empat hal di atas. Lalu
memilih yang terbaik, mendahulukan mana yang terpenting, mengakhirkan yang
kurang penting.


Khayalan dan angan-angan kosong adalah sesuatu yang berbahaya bagi manusia,
karena ia hanya akan melahirkan rasa lemah, malas, dan akhirnya sikap meremehkan
dan tidak perhatian terhadap waktu lalu berujung pada kerugian dan penyesalan.


Maka seorang yang berakal, angan-angannya berkisar pada hal-hal yang baik,
penting dan perlu. Dan untuk itulah syariat datang. Karena kebaikan dunia dan
akhirat tidak akan dicapai kecuali dengan mengikuti syariat itu. Pikiran dan
angan-angan yang paling mulia adalah segala yang ditujukan untuk Allah subhanahu
wata�ala dan negri akhirat, di antara contohnya adalah:


Memikirkan ayat-ayat Allah subhanahu wata�ala dan berusaha memahaminya, sebab
Allah subhanahu wata�ala menurunkan al-Qur'an bukan hanya sekedar untuk dibaca.


Memikirkan ayat-ayat yang dapat kita saksikan (ayat kauniyah) dan mengambil
pelajaran darinya.


Memikirkan pemberian Allah subhanahu wata�ala, kebaikan dan nikmat-nikmat-Nya
yang beraneka ragam kepada segenap makhluk, keluasan rahmat Allah subhanahu
wata�ala, kesantunan dan ampunan-Nya.


Memikirkan kewajiban-kewajiban kita terhadap waktu, tugas-tugas yang harus
ditunaikan dan mendata berbagai rencana kerja. Seorang yang bijak menjadi anak
dari waktunya. Jika waktu disia-siakan maka hilanglah kebaikan, karena kebaikan
itu dengan memanfaatkan waktu, kalau waktu sudah lewat maka tak mungkin untuk
diraih kembali.



Lafzhat (Ucapan Lisan)

Cara untuk memelihara ucapan adalah dengan menjaganya agar tidak berbicara yang
sia-sia, tidak berbicara kecuali yang diharapkan memberi keuntungan dan manfaat
dalam agama. Jika ingin berbicara maka hendaknya melihat, apakah ucapan itu
memberi kan keuntungan dan faidah atau tidak? Jika tidak memberi keuntungan maka
perlu ditinjau lagi.


Jika engkau ingin tahu apa yang ada dalam hati seseorang, maka perhatikanlah
gerakan mulutnya, karena mulutnya akan memperlihatkan kepadamu apa yang ada di
dalam hatinya. Yahya bin Muadz berkata, "Hati itu ibarat periuk yang sedang
mendidih, sedangkan lisan ibarat gayungnya. Maka perhatikanlah seseorang ketika
berbicara, karena lisannya sedang menciduk untukmu apa yang ada dalam hatinya,
manis atau pahit, tawar atau asin, dan lain sebagai nya. Dan cidukan lisannya
akan menje- laskan kepadamu rasa hati orang itu.�


Dalam sebuah hadits marfu' dari Anas disebutkan,
"Tidak lurus keimanan seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak lurus hati
seseorang sebelum lurus lisannya." (HR. Ahmad, dan ada penguatnya)


Rasulullah shallallahu �alaihi wassallam ketika ditanya tentang sesuatu yang
banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, maka beliau menjawab, "Mulut dan
kemaluan." (HR. at-Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih)


Khuthuwat (Langkah Kaki)

Langkah kaki, cara menjaganya adalah dengan tidak mengangkat telapak kaki,
kecuali untuk sesuatu yang diharapkan pahala dan kebaikannya. Jika sekiranya
langkah kaki tidak menambah pahala, maka duduk adalah lebih baik. Dan mungkin
juga melangkah kepada hal yang mubah (boleh), namun diniatkan untuk qurbah
(pendekatan diri) semata-mata karena Allah subhanahu wata�ala, maka langkah kaki
akan dinilai sebagai qurbah.


Dalam hal ketergelinciran langkah kaki dan lisan, maka ada ayat yang menjelaskan
bahwa antara keduanya ada saling keterkaitan, sebagaimana firman Allah subhanahu
wata�ala, artinya,

�Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.�
(QS. 25:63)


Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wata�ala menyifati ibadur Rahman di
antaranya adalah istiqamah (lurus) dalam ucapan dan langkah kaki mereka.
Sebagaimana juga Allah subhanahu wata�ala mengaitkan antara lahazhat (pandangan)
dengan khatharat (angan-angan) dalam firman-Nya, artinya,

�Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh
hati.� (QS. 40:19). Wallahu a�lam bish shawab. (Kholif)


Sumber: Madakhil asy-Syaithan li ighwa� al-Insan, min kalam al-Imam Ibnu Qayyim
al-Jauziyah dengan memotong dan meringkas, Qism Ilmi Darul Wathan.

[IMAGE037.GIF]









HATINYA TERSENYUM

Pada malam hari di Rumah Amalia ada seorang laki-laki muda. Dalam pernikahannya
yang tahun ke tiga dan telah memiliki seorang anak laki-laki yang berusia dua
tahun. Malam itu dia hadir dengan putranya. Suara anak-anak Amalia sedang
melantunkan ayat suci al-Quran mengobati hatinya.

Dia menuturkan bahwa sudah satu bulan ini istrinya pulang ke rumah orang
tuanya. Sebagai suami, dirinya diminta untuk menceraikan istrinya dengan alasan
dianggap tidak mampu mengurus keluarga. Sebagai seorang suami sudah meminta
maaf dan berjanji bertanggungjawab kepada keluarga serta berjanji tidak akan
mengulanginya lagi kesalahan yang pernah dilakukan. Permintaan maaf itu
disampaikan kepada istri dan mertuanya. 'Saya sudah berjanji untuk membina
rumah tangga kembali Mas,'

Hati istrinya luluh, istrinya masih mencintai dirinya sebagai suami dan masih
mencintai anak kesayangannya namun sangat disesalkan, istrinya tidak berdaya
mengikuti perintah orang tuanya. Dirinya dipaksa oleh mertuanya agar segera
mengurus di pengadilan agama. Itulah sebabnya dirinya berniat untuk bershodaqoh
untuk anak-anak Amalia, 'Semoga Allah berkenan menyelamatkan rumah tangga saya
yang diambang kehancuran.' tuturnya lirih, matanya sayu. air matanya menggenang
di kelopaknya.

Satu minggu kemudian Laki-laki muda itu hadir kembali ke Rumah Amalia bersama
anak dan istri mengabarkan dirinya dan putranya sudah berkumpul kembali dengan
istrinya. Mertuanya hatinya telah luluh dan memaafkan atas semua kesalahan yang
pernah dilakukannya. 'Subhanallah, kami turut berbahagia,' ucap saya padanya.

Kemudian saya berpesan padanya dan istrinya. 'Bila kia dirundung kesedihan
karena kehilangan orang yang kita cintai sepatutnya memohonlah pada Allah agar
diberikan ketenangan hati, tanamkanlah di dalam hati kita bahwa Allah adalah
Sang Pemilik Sejati telah mengambil titipanNya. Dan bila Allah percaya kepada
cara kita mencintai titipanNya maka Allah akan berkenan mengamanahkan kembali
hamba-hambaNya yang terbaik kepada kita agar kita merawat dan kita menjaganya
dengan baik.' Malam itu matanya berbinar-binar, Wajahnya nampak bahagia.
hatinya dan hati istrinya telah tersenyum kembali.

--
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau bahwa aku memohon kepada
Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahuinya dan tidak menaruh belas kasihan
kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang merugi (QS. Huud : 47).




READ MORE - SENTUHAN HATI

OBAT HATI

 [JAMEEL.GIF]
Penderitaan Mereka adalah Inspirasi Hidayah


Profesor beragama asli Yahudi ini mengaku takjub melihat kehidupan
orang Pakistan dan Afghan. Ketakjuban membawanya menuju Islam

Oleh: M. Syamsi Ali

DUA minggu lalu, selepas Jumat saya menemukan secarik kertas di atas
meja kantor saya di Islamic Cultural Center of New York . Isinya
kira-kira berbunyi, �I have been trying to reach you but never had a
good luck! Would you please call me back? Karen.�

Berhubung karena berbagai kesibukan lainnya, saya menunda menelepon
balik Karen hingga dua hari lalu. �Oh! thank you so much for getting
back to me!� jawabnya ketika saya perkenalkan diri dari Islamic Center
of New York. �I am really sorry for delaying to call you back,�
kataku, sambil menanyakan siapa dan apa latar belakang sang penelpon.

�Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at
the NYU (New York University),� katanya.

�And so what I can do for you?� tanyaku. Dia kemudian menanyakan jika
saya ada beberapa menit untuk berbicara lewat telepon. �Yes, certainly
I have, just for you, professor!" candaku. "Oh.. that is so kind of
you!� jawabnya.

Karen kemudian bercerita panjang mengenai dirinya, latar belakang
keluarganya, profesinya, dan bahkan status sosialnya.

�Saya adalah seorang professor yang mengajar sosiologi di New York
University,� demikian dia memulai. Namun menurutnya lagi, sebagai
sosiolog, dia tidak saja mengajar di universitas tapi juga melakukan
berbagai penelitian di berbagai tempat, termasuk luar negeri.

Karen sudah pernah mengunjungi banyak negara untuk tujuan
penelitiannya, termasuk dua negara yang justru disebutnya sebagai
sumber inspirasi. Yaitu Pakistan dan Afghanistan.

"Saya menghabiskan lebih dari 3 tahun di negara ini, sebagian besar di
desa-desa," katanya. "Selama tiga tahun, saya punya banyak kenangan
tentang orang-orang. Mereka sangat menakjubkan," lanjutnya.

Tidak terasa Karen berbicara di telepon hampir 20 menit. Sementara
saya hanya mendengarkan dengan serius dan tanpa menyela sekalipun.
Selain itu Karen berbicara dengan sangat menarik, informatif, dan
disampaikan dalam bahasa yang jelas, membuat saya lebih tertarik
mendengar. Mungkin karena dia adalah seorang professor, jadi dalam
berbicara dia sangat sistematis dan eloquent.

"Karen, itu adalah cerita yang sangat menarik. Saya yakin apa yang
Anda lakukan seperti pengalamanku juga. Saya tinggal di Pakistan 7
tahun, dan memiliki kesempatan untuk mengunjungi banyak daerah-daerah
yang tidak Anda sebutkan, " kataku.

"Tapi apa kau ingin menceritakan cerita ini?" tanyaku Lagi

Nampaknya Karena menarik napas, lalu menjawab. Tapi kali ini dengan
suara lembut dan agak lamban.

"Sir, saya ingin tahu Islam lebih lanjut, agama orang-orang ini.
Mereka adalah orang-orang manis, dan saya pikir saya telah
terinspirasi oleh mereka dalam banyak hal, " katanya.

Tapi karena waktu yang tidak terlalu mengizinkan untuk saya banyak
berbicara lewat telepon, saya meminta Karen untuk datang ke Islamic
Center keesokan harinya, Sabtu lalu. Dia pun menyetujui dan
disepakatilah pukul 1:30 siang, persis jam ketika saya mengajar di
kelas khusus non-muslim, Islamic Forum for non-Muslims.

Keesokan harinya, Sabtu, saya tiba agak telat. Sekitar pukul 12 siang
saya tiba, dan pihak security menyampaikan bahwa dari tadi ada seorang
wanita menunggu saya. �She is the mosque.� (maksudnya di ruang shalat
wanita). Saya segera meminta security untuk memanggil wanita tersebut
ke kantor untuk menemui saya.

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita dengan pakaian ala Asia
Selatan (India Pakistan). Sepasang shalwar dan gamiz, lengkap dengan
penutup kepala ala kerudung Benazir Bhutto.

�Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the mosque, if you are
still busy with other things,� kata wanita baya umur 40-an tahun itu.
Dia jelas Amerika berkulit putih, kemungkinan keturunan Jerman.

�Not at all, professor! I am free for you,� jawabku sambil tersenyum.
�Silakan duduk dulu, aku pamit sekitar lima menit," mintaku untuk
sekedar melihat-lihat weekend school program hari itu.

Setelah selesai melihat-lihat beberapa kelas pada hari itu, saya
kembali ke kantor. �I am sorry Professor!� sapaku.

�Please do call me by name, Karen!� pintanya sambil tersenyum.

�You know, saya lebih senang memanggil seseorang penuh penghormatan.
Dan aku benar-benar tak tahu bagaimana harus memanggil Anda,� kataku.
"Di sejumlah negara, orang suka dikenal dengan gelar profesional
mereka. Tapi aku tahu, di Amerika tidak,� lanjutku sambil ketawa
kecil.

Kita kemudian hanyut dalam pembicaraan dalam berbagai hal, mulai dari
isu hangat tentang kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah komedi kartun
Amerika, hingga kepada asal usul Karen itu sendiri.

�Saya adalah seorang kelahiran Yahudi. Orangtua saya orang Yahudi,
tetapi Anda tahu, terutama ayahku, dia tidak percaya pada agama lagi,�
katanya.

Bahkan menurutnya, ayahnya itu seringkali menilai konsep tuhan sebagai
sekedar alat repression (menekan) sepanjang sejarah manusia.

Namun menurut Karen, walaupun tidak percaya agama dan mengaku tidak
percaya tuhan, ayahnya masih juga merayakan hari-hari besar Yahudi,
seperti Hanukkah, Sabbath, dll.

�Perayaan ini, sebagai orang Yahudi kebanyakan, tidak lebih dari
warisan tradisi, � jelasnya. "Yudaisme adalah saya pikir bukan agama,
dalam arti lebih tentang budaya dan keluarga, � tambahnya.

Dalam hatiku saya mengatakan bahwa semua itu bukan baru bagi saya.
Sekitar 60 persen atau lebih Yahudi di Amerika Serikat adalah dari
kalangan sekte �reform� (pembaharu). Mereka ini ternyata telah
melakukan reformasi mendasar dalam agama mereka, termasuk dalam
hal-hal akidah atau keyakinan. �Sekte reform� misalnya, sama sekali
tidak percaya lagi kepada kehidupan akhirat. Saya masih teringat dalam
sebuah diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep
kehidupan.

Pembicaranya adalah saya dan seorang Pastor dan Rabbi dari Central
Synagogue Manhattan. Ketika kita telah sampai kepada isu hari Akhirat,
Rabbi tersebut mengaku tidak percaya.

Tiba-tiba salah seorang hadirin yang juga murid muallaf saya keturunan
Rusia berdiri dan bertanya, �Jadi, jika Anda tidak percaya pada
kehidupan setelah kematian, mengapa Anda harus pergi ke rumah ibadat,
mengenakan yarmukka, memberi amal, dll? Mengapa Anda merasa perlu
untuk bersikap jujur, bermanfaat untuk orang lain? Dan mengapa kita
harus menghindari hal-hal yang harus kita hindari? " begitu
pertanyaannya kala itu.

Sang Rabbi hanya tersenyum dan menjawab singkat, �Kami melakukan semua
karena apa yang harus kita lakukan,� ujarnya. Mendengar jawaban sang
Rabbi, semua hadirin hanya tersenyum, dan bahkan banyak yang tertawa.

Kembali ke Karen, kita kemudian hanyut dalam dialog tentang konsep
kebahagiaan. Menurutnya, sebagai seorang sosiolog, dia telah melakukan
banyak penelitian dalam berbagai hal yang berkaitan dengan bidangnya.
Pernah ke Amerika Latin, Afrika, beberapa negara Eropa, dan juga Asia
, termasuk Asia Selatan."Tapi satu hal yang harus aku ceritakan
padamu, orang-orang Pakistan dan Afghan adalah orang-orang sangat
menakjubkan,� katanya mengenang.

"Apa yang membuat Anda benar-benar heran tentang mereka,� tanyaku.

�Banyak, religiusitas mereka. Antara lain komitmen mereka terhadap
agama. Tapi saya rasa yang paling menakjubkan tentang mereka adalah
kekuatan mereka, dan bertahan lama di alam dalam kehidupan
sehari-hari,� katanya.

"Aku heran bagaimana orang-orang ini begitu kuat dan tampak bahagia
meski kehidupan yang sangat menantang.�

Saya tidak pernah menyangka kalau Karen tiba-tiba meneteskan airmata
di tengah-tengah pembicaraan kami. Dia seorang professor yang senior,
walau masih belia dalam umur. Tapi juga pengalamannya yang luar biasa,
menjadikan saya lebih banyak mendengar.

Di tengah-tengah membicarakan �kesulitan hidup� orang-orang
Afghanistan dan Pakistan, khususnya di daerah pegunungan-pegunungan,
dia meneteskan airmata tapi sambil melemparkan senyum. �I am sorry,
saya sangat emosional dengan kisah ini,� katanya.

Segera saya ambil kendali. Saya bercerita tentang konsep kebahagiaan
menurut ajaran Islam. Bahkan berbicara panjang lebar tentang kehidupan
dunia sementara, dan bagaimana Islam mengajarkan kehidupan akhirat itu
sendiri.

"Tidak peduli bagaimana Anda menjalani hidup Anda di sini, itu adalah
sementara dan tidak memuaskan. Harus ada beberapa tempat, kadang di
mana kita akan hidup kekal, di mana semua mimpi dan harapan akan
terpenuhi, " jelasku. �Keyakinan ini memberi kita kekuatan besar dan
tekad untuk menjalani hidup kita sepenuhnya, tidak peduli bagaimana
situasi dapat mengelilingi kehidupan itu sendiri,� jelasku.

Tanpa terasa adzan Dhuhur dikumandangkan. Saya pun segera berhenti
berbicara. Nampaknya Karen paham bahwa ketika adzan didengarkan, maka
kita seharusnya mendengarkan dan menjawab. Mungkin dia sendiri tidak
paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya
meminta maaf berhenti berbicara.

Setelah adzan, saya melanjutkan sedikit, lalu saya tanya kepada Karen,
"Jadi, apa yang benar-benar membuat Anda menelepon saya?�

"Saya ingin memberitahu Anda bahwa pikiran saya terus-menerus
mengingat orang-orang itu. Memori saya mengingatkan saya tentang
bagaimana mereka bahagia, sementara kita, di Amerika hidup dalam
keadaan mewah, tapi penuh kekurangan kebahagiaan,� ujarnya seolah
bernada marah.

"Tapi kenapa kau harus datang dan membicarakan dengan saya?" pancingku lagi.

Karen merubah posisi duduknya, tapi nampak sangat serius lalu berkata.
"Aku sudah memikirkan ini untuk waktu yang cukup lama. Tapi aku
benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk
melanjutkan itu. Aku ingin menjadi seorang muslim,� ujarnya mantap.

Saya segera menjelaskan bahwa untuk menjadi muslim itu sebenarnya
sangat mudah. Yang susah adalah proses menemukan hidayah. Jadi
nampaknya Anda sudah melalui proses itu, dan kini sudah menuju kepada
jenjang akhir.

"Pertanyaan saya adalah apakah Anda benar-benar yakin bahwa ini adalah
agama yang Anda yakini sebagai kebenaran, � kataku.

"Ya, tentu tidak diragukan lagi!" Jawabnya tegas.

Saya segera memanggil salah seorang guru weekend school wanita untuk
mengajarkan kepada Karen mengambil wudhu. Ternyata dia sudah bisa
wudhu dan shalat, hanya belum hafal bacaan-bacaan shalat tersebut.

Selepas shalat Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan, �Asy-hadu an laa
ilaaha illa Allah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah� dengan
penuh khusyu� dan diikuti pekikan takbir ratusan jamaah yang hadir.

Hanya doa yang menyertai, semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan
dalam iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai profesor
ilmu-ilmu sosial di salah satu universitas bergengsi di AS. Amin!










Cinta Dalam Sepotong Wacana

Pengetahuan berasal dari pengalaman yang di bakukan untuk di informasikan
kepada orang lain. Belajar membuat mobil berarti merunut ulang pengalaman sang
penemu mobil, tetapi belajar tidak akan menghasilkan mobil, karena mobil itu
ada karena di buat atau karena hasil dari berkerja. Hadist adalah sunnah yang
dibukukan, jadi belajar memahami sunnah mestilah melalui hadist, tapi hadist
bukanlah sunnah. Hadist baru bermanfaat setelah di amalkan. Apa yang di
sebutkan tadi adalah gambaran sederhana antara mengetahui dan mengalami. Lalu
apa yang telah kita ketahui tentang masalah keTuhanan ? dan proses apa yang
telah kita alami dalam menanamkan keyakinan kita ? belum banyak yang bisa
menjawab selain membeberkan rentetan teori yang bersifat " tahu"

" Anak-anak, kasih sayang Allah itu kepada manusia jauh lebih besar dari pada
kasih sayang orang tua kepada anaknya" kata Pak Zaenuddin, guru agama sekolah
dasar sewaktu mengajar masalah tauhid. " Apakah kalian bisa membedakannya ?"
tanya Pak Zaenuddin lebih lanjut. Semua anak-anak dalam kelas menggelengkan
kepala. " Baiklah pertanyaannya Bapak ganti, apakah kalian bisa merasakan kasih
sayang Allah ?". " Bisa ! " teriak murid serempak. " Bagaimana caranya ? coba
kasih contohnya Mira, ?" Tanya Pak Zaenuddin kepada Mira, anak yang duduk
paling depan. " Kita telah diberikan mata untuk bisa melihat, kita juga bisa
menghirup nafas dan lainnya merupakan wujud kasih sayang Allah kan Pak " jawab
Mira setengah bertanya untuk meyakinkan jawabannya. " Benar apa yang dikatakan
Mira, anak-anak, tapi coba kalian jujur, yang mana yang lebih kalian rasakan
antara kasih sayang ayah dan ibu di rumah atau kasih sayang Allah ?" kembali
Pak Zaenuddin bertanya sambil tersenyum, karena hal ini masalah rasa dan bukan
lagi bersifat teori yang mendoktrin. Anak-anak terdiam, mereka takut untuk
mengatakan bahwa mereka lebih merasakan kasih sayang orang tua dari pada kasih
sayang Allah, sesuatu yang bukan lagi bersifat pengetahuan tapi pengalaman.

Menyatakan apa yang dirasakan jauh lebih susah dari pada menyatakan apa yang
diketahui. Kita bisa menjelaskan tentang keindahan suatu alam tapi kita susah
menjelaskan betapa senang hati kita melihat keindahan tersebut. Membandingkan
apa yang kita ketahui dengan apa yang kita rasakan bukanlah perkara mudah. Jika
rukun Islam berkenaan dengan pengetahuan maka rukun iman berkenaan dengan
perasaan. Kita bisa saja telah mengetahui banyak hal tentang keIslaman tetapi
hal itu tidak menjamin turut sertanya keimanan dalam hati kita, seperti firman
Allah dalam surah Al Hujuraat ayat 14 : Orang-orang Arab Badui itu berkata:
"Kami telah beriman." Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami
telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat
kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala
amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Kata 'kami
telah tunduk' lafaznya adalah 'aslamna yang sebagian penafsiran mengartikan
kami telah ber-Islam. Artinya ketundukan pada segala aturan yang telah di
tetapkan belum menjamin tumbuhnya sebuah keimanan, apalagi jika aturan itu
dilakukan dengan terpaksa.

Perpaduan Rukun Islam dan rukun iman atau pengetahuan dan perasaan akan
memunculkan rukun Ihsan, atau keyakinan. Rukun ini sering terlupakan dan
dianggap sebagai pelengkap semata, padahal pada rukun inilah inti ketauhidan,
Murroqobatullah, selalu marasa diawasi Allah. seperti firman Allah dalam surah
Al Hadiid " wahuwa ma'akum 'aina ma kuntum wallahu bima ta'maluna bashir " Dan
dia bersama kamu dimana saja kamu berada, Dan Allah maha melihat apa yang kamu
kerjakan." Lalu apakah setelah kita membaca ayat ini kita kemudian bisa
langsung merasakan bahwa Allah sedang melihat kita ? belum tentu.

Beberepa tahun yang lalu seorang teman yang beragama nasrani yang sedang
berusaha mendalami agama lain karena merasakan kehampaan dalam agama yang
dianutnya pernah bertanya " Kamu bersaksi bahwa Allah adalah tuhan dan Muhammad
adalah utusanNya, apakah kamu pernah menyaksikanNya ?" , saya kemudian menjawab
bahwa kita bisa menyaksikan segala kebesaranNya yang ada dimuka bumi, karena
semua itu adalah ciptaanNya. Kemudian dia bertanya lagi " Berarti kamu hanya
bersaksi atas kebesaran ciptaanNya, kamu tidak pernah bersaksi atas ZatNya ?
apakah kamu berani bersaksi bahwa Allah sedang menyaksikanmu saat ini ?". Saat
itu saya baru sadar bahwa kekuatan syahadat yang begitu besar sebagai inti
ketauhidan telah lama di tinggalkan. Bukankan Allah berkata bahwa Dia lebih
dekat dari pada urat leher kita, lalu jika sedekat itu saja kita tidak bisa
merasakan, lalu Tuhan seperti apa yang kita saksikan selama ini, apakah sudah
mendekati penyaksian Bilal dalam teriakan "ahadnya" ketika hendak siksa ?

Pak Zaenuddin kemudian bercerita tentang kasih sayang orang tua yang di
perolehnya dari dunia maya (internet). "Anak-anak, ketika terjadi gempa bumi di
Cina, banyak orang yang sibuk menyelamatkan diri. Seorang ibu beserta anaknya
yang berusia beberapa bulan terperangkap didalam sebuah gedung. Kemungkinan
untuk lolos dari reruntuhan bangunan sudah tidak ada. Beberapa hari kemudian
ibu tersebut di temukan dalam keadaan tertelungkup, seperti bersujud sambil
mendekap anaknya yang berada di bawah. Ibu tersebut meninggal dunia karena
kepala dan badannya remuk tetapi anak yang berada didalam dekapannya masih
hidup dan dalam keadaan sehat. Ada pesan buat sianak yang di letakan didalam
balutan baju si anak lewat sebuah handphone dari ibunya tersebut : ' Anakku,
jika pada akhirnya kamu bisa selamat, ketahuilah bahwa aku sangat
menyayangimu. ' ". Pak Zaenuddin berhenti sebentar untuk melihat respon anak
muridnya. " Apakah kalian bisa merasakan kasih sayang ibu itu kepada anaknya ?"
tanya Pak Zaenuddin. Mata anak muridnya banyak yang berkaca-kaca menahan haru
dan berteriak serempak " Bisaaaaa !". " Apakah kalian bisa merasakan kasih
sayang Allah ada disana ?" tanya Pak Zaenuddin mencoba membangkitkan nalar anak
muridnya. " Bukankah Allah yang menjaga anak itu sampai beberapa hari walaupun
ibunya telah tiada ?" lanjutnya. Para murid hanya diam dan mulai menyadari
bahwa ada cinta diatas cinta yang bermain dalam kisah itu. Cinta yang bukan
lagi sebagai wacana, tapi realita yang mengisi relung-relung hati kita hari ini
dan sampai kapanpun.

[N9.JPG]



7 Kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah SWT




Berkata
Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: "Ada tujuh kelompok yang akan
mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali
perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa
beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa
dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni
keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika
dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: "Sungguh aku
takut kepada Allah", seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas
di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat
yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata". (H.R.Bukhary - Muslim)

Hadits
ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang
akan mendapatkan perlindungan Allah swt., yaitu :
1.
Pemimpin yang adil
Menjadi
pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan,
harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun
amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas,
kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana
memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau aharam. Sebaliknya, kalau
kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan
melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah,
untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah,.
Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi
perlindungan di akhirat kelak.

2.Anak
muda yang saleh
Masa
muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa
ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada
anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan)
diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu
mengendalikan nafsu syahwatnya, Allah akan memberikan perlindungan-Nya pada hari
kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada
anak-anak muda yang saleh.

3.Orang
yang hatinya terikat pada mesjid
Kalimat
"seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid" seperti yang
disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian
pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan
tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah
di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.

4.Bersahabat
karena Allah
Poin
ini terambil dari kalimat "dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni
keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah". Bersahabat karena Allah swt.
maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta,
kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata
karena Allah swt. Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau
berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau
sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan
maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena Allah.

5.Mampu
menghadapi godaan lawan jenis
"Seorang
laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia
menjawab: "Sungguh aku takut kepada Allah." Kalimat ini menggambarkan bahwa
kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan
mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat. Di sini digambarkan seorang
laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya
bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada Allah.
Jadi, rasa takut kepada Allahlah yang menjadi benteng laki-laki tersebut,
sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan
penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Di sini
diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda
laki-laki.

6.Ihklas
dalam beramal
"Seseorang
yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya
tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya." Ini gambaran keihlasan
dalam beramal. Saking ihklasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun
tidak tahu apa yang diinfakkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya.
Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama
kita dipampang di koran?
Boleh
saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena Allah swt., bukan karena cari
popularitas. Perhatikan ayat berikut, " Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka
itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada
orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan
menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa
yang kamu kerjakan." (Q.S. Al-Baqarah 2: 271)

7.Zikir
kepada Allah dengan khusyu
"Seseorang
berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata."

Zikir
artinya mengingat Allah. Kalau seseorang berdo'a dengan khusyu hingga tak terasa
air mata menetes karena sangat nikmat berzikir dan munajat kepada-Nya, maka
Allah akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak.

Mudah-mudahan
Allah memberi kekuatan agar kita bisa menjadi orang-orang yang mendapat
pertolongan dan perlindungan-Nya. Caranya? Kerjakanlah tujuh poin di atas!

Wallahu
A'lam.







KUNCI KESELAMATAN DUNIA AKHIRAT

Berangkat dari banyaknya permasalahan yang terjadi pada zaman modern ini, pada
negeri ini, sesungguhnya pokok permasalahan ada pada masalah akhlak. Apa yang
kita dapat ambil pelajaran dari perilaku penguasa, pengusaha, artis, pekerja,
orang-orang tua, generasi muda, mahasiswa, pelajar atau rakyat pada umumnya
bermasalah karena akhlak mereka. Mereka yang dzalim, korupsi, kolusi, mafia
kasus/hukum, berzina, pornografi, narkotika, miras, berkelahi/kerusuhan, gaya
hidup berlebihan, rakus dan cinta dunia dan perbuatan buruk lainnya pada
dasarnya timbul dari akhlak yang buruk. Mereka melakukan kerusakan di muka bumi.

Untuk itu kita perlu mensosialisasikan tentang akhlakul karimah. Akhlakul
karimah adalah keadaan sadar dan perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat
Allah (zikrullah). Selain sosialisasi , wajib kita memasukkan tentang akhlakul
karimah kedalam sistem pendidikan agar dihasilkan sumber daya manusia yang
berakhlakul karimah.

Dalam tulisan kali ini, Insyaallah saya mencoba menguraikan tentang akhlakul
karimah.

Kunci Keselamatan Dunia dan Akhirat

Kita, muslim sudah paham dan sering mengucapkan doa keselamatan dunia dan
akhirat berdasarkan firman Allah yang artinya,

"Dan di antara mereka ada orang yang bendo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka" (QS Al Baqarah [2] : 201 )

Selain berdoa kita diwajibkan mengiringinya dengan ikhtiar atau upaya.

Apakah ikhtiar atau upaya kita menuju keselamatan dunia dan akhirat ?

Kuncinya adalah berupaya menjadi hamba-hamba Allah yang sholeh (`ibaadillaahish
shoolihiin), mukmin yang sholeh, mukmin yang berakhlakul karimah, mukmin yang
terbaik, mukmin yang ihsan atau muhsin, Mukmin yang seolah-olah melihatNya atau
miminal mukmin yang yakin bahwa Allah melihat kita.

Kunci keselamatan dunia dan akhirat berdasarkan doa Rasulullah Shallallahu
`alaihi wa sallam ketika mi'raj dan menghadap Allah Subhaanahu wa Ta`ala.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membaca, "Assalaamu'alaina wa'alaa
`ibaadillaahish shoolihiin" yang artinya "Keselamatan semoga bagi kami dan
hamba-hamba Allah yang sholeh". Do'a yang selalu kita baca pula setiap sholat.

Pokok-pokok ajaran dalam agama Islam adalah

Islam (rukun Islam / fikih),
Iman (rukun Iman / Usuluddin/I'tiqad),
Ihsan (akhlak / tasawuf)

Berdasarkan pokok-pokok ajaran dalam agama Islam maka tingkatan manusia sebagai
berikut:

Muslim (muslimin) => Mukmin (mukminin) => Muhsin (muhsinin)

Tingkatan pertama (paling rendah) dalam tingkatan muhsin (muhsinin) adalah
"selalu merasa dilihat Allah". Sampai disini belum muncul akhlakul karimah.

Barulah ketika merasakan seolah-olah melihat Allah (tingkatan kedua) akan
muncul akhlak tersebut sehingga mencapai muslim yang sholeh sebagaimana yang
telah dicapai pula oleh Salafush sholeh atau "`ibaadillaahish shoolihiin" ,
hamba-hamba Allah yang sholeh

Dzikir jahar dan dzikir khofi dapat kita lakukan dalam upaya untuk selalu
mengingat Allah yang merupakan sebuah latihan untuk memunculkan akhlakul
karimah karena selalu merasa dilihat Allah.

Rumusan sederhananya,

"Seolah-olah melihatNya" = Akhlakul karimah = Keadaan sadar dan
perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah.

Oleh karenanya dalam Al-Qur'an selalu diingatkan untuk orang-orang mukmin untuk
meningkatkan diri untuk mencapai tingkatan muhsin (muhsinin) dengan contoh
keadaan sadar an perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah yakni,
sabar, shalat dan zakat

"Hai orang-orang yang beriman (mukmin), jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". ( QS al Baqarah
[2] : 153 )"

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS al
Baqarah [2]: 277 )

"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang
beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah)". (QS [5] : 55 )

Sabar adalah contoh keadaan sadar (akhlak) dan mengingat Allah dalam
hubungannya dengan Allah dan Manusia.
Sholat adalah contoh perbuatan yang dilakukan secara sadar dan mengingat Allah
dalam hubungannya dengan Allah
Zakat adalah contoh perbuatan yang dilakukan secara sadar dan mengingat Allah
dalam hubungannya antar manusia.

Melihat hasil dari keyakinan

Untuk menjelaskan tentang `Seolah-olah melihatNya", marilah kita ambil hikmah
dari cerita anak dan ayah yang berjalan dalam kegelapan malam.

Syaikh ibnu Athoillah mengatakan "Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah
seperti anak yang pergi bersama ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari.
Karena menyayangi anaknya, sang ayah senantiasa mengawasi dan memperhatikannya
tanpa diketahui sang anak. Anak itu tidak bisa melihat ayahnya karena malam
yang teramat gelap. Ia meresahkan keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus
diperbuat. Ketika cahaya bulan menyinari dan ia melihat ayahnya dekat
kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia
merasa tidak perlu ikut mengurus dirinya karena segala sesuatu telah
diperhatikan oleh ayahnya. Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia
melakukannya karena berada dalam kegelapan ? terputus dari Allah. Ia tidak
merasakan kedekatan Allah. Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat
menyinarinya, tentu ia melihat Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk
mengatur dirinya dan merasa cukup dengan pengaturan Allah".

Anak itu melihat ayahnya, setelah lepas dari kegelapan malam karena cahaya
bulan ===> timbul keyakinan ===> keresahannya sirna, anak itu yakin bahwa
ayahnya begitu dekat, anak itu merasa (yakin) tidak perlu mengurus dirinya
karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya, anak itu yakin bahwa
ayahnya mengawasi (melihat) dirinya.

Intinya, Anak itu melihat ayahnya ===> maka timbul keyakinan.

Sedangkan kita terhadap Allah kebalikan dari hal ini.
Dari keyakinan yang ada ===> maka timbul (mendapatkan karuniaNya) seolah-olah
melihatNya.

Keyakinan bahwa Allah melihat/mengawasi kita. Berdasarkan firman Allah yang
artinya,
"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (QS al Hujurat [49]:18 )

Keyakinan bahwa Allah mengurus kita. Berdasarkan firman Allah yang artinya,
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal
lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya" (QS Ali Imran [3]:2 )

Keyakinan bahwa Allah itu dekat. Berdasarkan firman Allah yang artinya,
"Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat" (QS
Al-Waqi'ah [56] : 85 ).
"Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaaf [50] : 16 )

Berdasarkan keyakinan-keyakinan diatas dan keyakinan yang lainnya maka kita
dapat merasakan seolah-olah melihatNya, mengalami kebersamaan dengan Allah
(Billah) , bertemu dengan Allah di dunia.

Selanjutnya kita berupaya menjaga dan memelihara keyakinan-keyakinan (iman)
tersebut sampai akhirat kelak dimana pertemuan dengan Allah sesungguhnya dengan
wajah berseri-seri.
Firman Allah yang artinya,
"Wajah-wajah (orang-orang mu'min) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannyalah mereka melihat." (QS Al Qiyaamah [75] : 22-23 )

Upaya menjaga dan memelihara keyakinan-keyakinan (iman) itulah yang disebut
dengan taqwa kepada Allah, sedangkan kunci taqwa adalah akhlakul karimah =
Keadaan sadar atau perilaku yang sadar dan mengingat Allah. Kata Taqwa
merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang artinya adalah memelihara atau
menjaga

Akhlakul karimah, mengingat Allah (zikrullah) inilah yang memotivasi kita untuk
menjadi muslim yang sholeh (`ibaadillaahish shoolihiin), memotivasi kita
mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya sehingga kita dapat menjadi
orang-orang yang mulia di sisi Allah, pada shaf-shaf terdepan dan terdekat
dengan Allah, dekat dengan Tauladan kita Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
sallam, para Nabi dan Rasul Allah, para Salafush Sholeh, para muslim pilihan
Allah.

Terlintas di benak.

"Seolah-olah melihatNya" , kata "melihat" ini sebaiknya tidak dimaknai secara
dzahir sehingga mengharapkan akan terlintas, terbentuk, tergambar dalam benak.

Al Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Dzu an-Nun al Mishri (W. 245 H) salah
seorang murid terkemuka al Imam Malik menuturkan kaidah yang sangat bermanfaat
dalam ilmu Tauhid:
Maknanya: "Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah
tidak seperti itu". Perkataan ini dikutip dari Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu
al Fadll at-Tamimi dalam kitabnya I'tiqad al Imam al Mubajjal Ahmad ibn Hanbal
dan diriwayatkan dari Dzu an-Nun al Mishri oleh al Hafizh al Khathib al
Baghdadi dalam Tarikh Baghdad. Dan ini adalah kaidah yang merupakan Ijma'
(konsensus) para ulama. Karena tidaklah dapat dibayangkan kecuali yang
bergambar. Dan Allah adalah pencipta segala gambar dan bentuk, maka Ia tidak
ada yang menyerupai-Nya.

Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya? berkata: "Barang siapa yang
berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia
bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir.
Dan jika dia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya)
maka dia adalah mu'aththil -atheis- (orang yang meniadakan Allah).
Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya
dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa
membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim".
(Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dan lainnya)

Melihat dibalik ciptaanNya

"Seolah-olah melihatNya", mata kepala kita melihat benda/makhluk atau
ciptaanNya tapi akal dan qalbu / mata hati (bashirah) melihat siapa Pencipta
semuanya.

Mata hati (bashirah) melihat Allah di balik semuanya.

Begitulah seolah-olah melihat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah meridlainya?

"Jika berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan
tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya
maka dialah muwahhid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim"

Seolah-olah melihatNya termasuk ulil albab (orang-orang berakal), sebagaimana
firman Allah yang artinya

"yakni, orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS Ali
Imran : 191).

Muslim yang dapat merasakan seolah-olah melihatNya, dalam kehidupannya akan
dapat "bercengkerama" atau berinteraksi dengan Allah, berinteraksi melalui
firman-firmanNya. Muslim yang akan menikmati apa-apa yang telah diputuskan atau
dipilihkan Allah untuk kita

Keniikmatan ini sesuai dengan nasehat (diwan) Al Imam asy-Syafi'i -semoga Allah
meridlainya? bahwa
"Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf /
akhlakul karimah, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan / kenikmatan
takwa" Jadi untuk mendapatkan kenikmatan taqwa maka kita harus menjalankan
tasawuf. Ingat menjalankan tasawuf, bukan memahami tasawuf karena tasawuf
adalah keadaan, perilaku atau perbuatan.

Intinya kita wajib menjaga dan memelihara keadaan sadar atau perilaku yang
sadar dan mengingat Allah.

Muslim yang sholeh, muslim yang Ihsan, muslim yang seolah-olah melihatNya dalam
menjalankan kehidupan di dunia tidak akan khawatir dan bersedih hati karena
dapat merasakan bahwa Allah bersama kita (Billah), sebagaimana firman Allah
yang artinya,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan
shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS al
Baqarah [2]: 277 )

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram" (QS Ar Ra'd [13] : 28 )

"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang
yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan
Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah
pembalasan kepada orang-orang yang kafir" (QS at Taubah [9]: 26 ).

"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu)
kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan
kepada orang-orang mu'min dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan
adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS al Fath [48] : 26)

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS Al Baqarah [2]: 153)

"?.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya
dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS al Ankabut [29] : 45 )

Allah beserta orang-orang beriman (mukmin) yang sabar (akhlakul karimah) yang
bisa menjadikan sholat sebagai mengingat Allah.

Muslim ====> Mukmin ==== > Mukmin yang sabar = Muhsin = Muslim yang Sholeh
(`ibaadillaahish shoolihiin) = Hamba-hamba Allah yang menuju keselamatan dunia
maupun Akhirat









Siapa Bersugguh-sungguh, Ia Mendapatkannya


"Man Jadda Wa Jada.� (Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan
mendapatkannya)


Kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan,
boleh jadi, justru kemiskinanlah yang menjadi �cambuk� penyemangat
untuk menggapai cita-cita yang tinggi. Itulah yang dilakukan oleh Hadi
beberapa puluhan tahun silam. Tak pingin terpuruk terus menerus dalam
hal ekonomi, membuat Hadi nekat untuk terus melanjutkan sekolah,
seklaipun hasratnya tersebut bertentangan dengan kehendak kedua orang
tuanya. Ia menyadari, bahwa, hanya ilmulah yang mampu mengangkat
derajat keluarganya, khususnya, dirinya sendiri dari ketidakberdayaan
hidup, terutama masalah ekonomi, �Nabi kan pernah bersabda, bahwa
barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat,
maka ilmulah kuncinya� ujar Hadi menyitir salah satu hadits Nabi
Muhammad.

�Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Wong makan saja kita sulit.
Sudahlah, bantu saja bapak ngaret atau nyari kayu di hutan, ndak usah
mikirin sekolah�. Demikianlah jawaban yang diterima Hadi, ketika ia
menuturkan keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih
tinggi lagi.

Waktu itu, Hadi baru lulus SD. Sekalipun dapat balasan yang negatif
dari orangtua, tidak membuat Hadi uring-uringan. Dia faham, bahwa
kondisilah yang menyebabkan mereka memiliki pemikiran demikian. sebab
itu, dia menjelaskan kepada kedua orang tuanya, soal biaya sekolah,
dia tidak akan membebani mereka, �Saya akan mencari uang sendiri untuk
biaya sekolah. Yang terpenting, ibu dan bapak mengizinkan saya
sekolah,� tegas Hadi waktu itu, yang kemudian dikabulkan oleh ibu dan
bapaknya.

Dari segi finansial, memang, waktu itu, keluarga Hadi tergolong
keluarga papa. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan saja, mereka
masih kelepotan. Hampir setiap hari, yang menjadi menu utama mereka
adalah nasih putih dan sepotong tempe atau ikan asin, �kalau lauknya
ikan asin, semuanya harus habis, hatta kepala dan tulang-tulangnya.
Kalau tidak, ibu akan marah. Dibilang mubadzir� kenang Hadi.

Karena itu, nyaris masa kanak-kanaknya digunakan untuk membantu orang
tua menyari kayu atau merumput di hutan. Setiap sepulang sekolah, dia
langsung tancap gas untuk menunaikan tugas-tugas tersebut, tak peduli
panasnya terik sinar matahari atau derasnya guyuran hujan. Jadi, bisa
dibilang, sejak dini, Hadi telah terlatih untuk hidup mandiri. Sebab
itu, senyum sumringah nampak di wajahnya, ketika orang tuanya
mengabulkan permohonannya untuk melanjutkan studi, sekalipun harus
berjuang sendiri.

Merantau

Tidak lama setelah itu, Hadi kecilpun mulai menyusun rencana. Dia
putuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu sekolah Islam yang
berlokasi di kota Surabaya. Padahal, daerah kelahirannya itu Lamongan.
Jarak antar keduanya (Lamongan-Surabaya) � 90 km.

Tidak berapa lama setibanya di kota pahlawan tersebut, Hadi langsung
bergerak untuk mencari biaya hidup. Berbagai macam pekerjaan pernah
dilakoni, salah satunya adalah sebagai sales roti. Jangan dibayangkan,
dalam mengedarkan barang-barangnya, Hadi menggunakan sepedah motor,
sehingga mempermudah jarak tempuh. Tidak sama sekali. Dia menggunakan
sepedah pancal. Hampir setiap hari, Hadi harus menempuh berkilo-kilo
meter perjalanan dengan mengayuh sepedah untuk menjajakan jualannya.

Selain tekun bekerja, ada kelebihan lain yang dimiliki Hadi. Dia mampu
membaca peluang bisnis. Dan keistimewaan inilah yang kemudian hari,
menyebabkannya menjadi orang sukses. Pernah suatu hari, kenangnya, dia
menghadap kepala sekolah, untuk mengajukan diri menjadi fasilitator
dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekolah/guru. �misal- pembuatan
seragam guru. Bagai kejatuhan buah duren, sang-kepala sekolah pun
mengabulkan. Dan dari sini, penghasilan Hadi mulai bertambah. Bahkan,
meskipun tidak banyak, dia mampu mengirimi keluarganya uang, untuk
belanja atau sebagai tambahan biaya sekolah adik-adiknya.

Siswa Berprestasi

Hadi bukanlah tipe anak yang hanya piawai dalam mencari ma�isyah
(kehidupan). Dalam hal intelektualitas, dia juga tidak ketinggalan.
Terbukti, hampir setiap semesteran, nilainya selalu yang terbaik,
sehingga berhak mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Terang saja,
kondisi demikian sedikit-banyak telah meringankan biaya hidupnya.

Selesai mengetaskan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Hadi langsung
melanjutkan sutidanya (SMA) di almamater yang sama. Prestasi-prestasi
akademis, terus dia peroleh, sehingga nyaris dia tidak pernah membayar
uang sekolah.

Terakhir beasiswa dia dapatkan ketika dirinya dinyatakan lulus di
salah satu Universitas Negeri ternama di kota yang sama, Surabaya. Hal
ni diberikan pihak sekolah untuk jangka waktu satu semester kepadanya,
sebagai bentuk apresiasi, karena Hadi merupakan alumnus pertama
sekolah tersebut yang mampu lulus di universitas negeri,�sebelumnya
tidak pernah ada yang lulus�, paparnya.

Ada kenangan yang tak terlupakan oleh Hadi, ketika dia dinyatakan
lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasis Baru) di universitas tersebut.
Perasaan senang dan bingung, bahagia dan sedih bercampur aduk
mengiringi kesuksesannya. Betapa tidak, sebagai calon mahasiswa, tentu
dia bangga dengan kekeberhasilannya. Akan tetapi, di lain pihak, dia
juga dibingungkan dengan biaya kuliah yang pastinya tidak sedikit.

Di tengah kekalutannya tersebut, Hadi memutuskan untuk berkonsultasi
dengan pihak keluarga, terutama kepada sang-ayah dan ibu. Mendengar
tuturan dari buah hatinya, air mata sang-ibu tak terbendung, membasahi
kedua pipinya. Dengan suara agak tertahan oleh isakan tangis bahagia,
perempuan tersebut menyerahkan sesuatu pada Hadi, �Ini maskawin ibu.
Ambillah untuk biaya kuliahmu,� tuturnya yang membuat Hadi agak
merinding mendengarnya, yang kemudian juga mencucurkan air mata. Pada
awalnya, pemberian tersebut ditolak oleh Hadi, namun, karena melihat
begitu kerasnya keinginan bundanya tersebut, Hadipun mengambilnya
sebagai bekal untuk kuliah.

Emas tersebut kemudia dijual oleh Hadi. Sebagian untuk biaya kuliah
dan biaya hidupnya, sebagian lagi, untuk membuka bisnis warung
kecil-kecilan. Setelah menyelesaikan studinya, yang memang fokus
mengambil jurusan ekonomi, Hadi langsung terjun kelapangan untuk
mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.

Bisnis di area pelabuhan adalah incarannya. Hal itu dipilih, karena
dia yakin bahwa pelabuhan merupakan pusat dari kegiatan ekonomi, �Di
sinilah (pelabuhan), seluruh barang-barang ekspor/impor mangkal untuk
pertama kali, sebelum diedarkan ke seluruh daerah/negara. Peluang ini
yang saya tangkap�. terangnya menuturkan alasannya. Berkat keuletan
Hadi, tak ayal, dari tahun ke tahun bisnisnya terus berkembang.
Bahkan, kini Hadi telah menjadi salah satu milioder. Dia telah
memiliki ratusan kayawan/karyawati. Bisnisnyapun telah melebar ke
penyewaan villa, butik, apotik, dan lain-lain. Bahkan, relasi
bisnisnya pun tidak lagi seputar Indonesia, namun, telah melebar ke
beberapa negara, salah satunya adalah China.

Memang benar apa yang dikatakan pepatah Arab, "Man Jadda Wa Jada.�
(Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkannya).








Empat Kunci Sukses Individu dalam Bertugas



Dalam ranah Pengembangan Sumber Daya Insani, dikenal istilah TASK.
Bahwa seorang staf (pekerja) di perusahaan dinilai dari empat (empat)
kualitas diri yang dimilikinya. Yaitu, talent (bakat), attitude
(sikap), skills (keterampilan), dan knowledge (pengetahuan). Keempat
kualitas itu secara signifikan akan menentukan keberhasilannya selaku
individu dalam menjalankan tugas-tugas perusahaan.

Dan, secara lebih luas, akan mampu menarik kereta organisasi menuju
pencapaian target dan tujuan yang diharapkan. Keempat kualitas di atas
bisa diringkas menjadi dua (dua) kategori besar: yaitu Keterampilan
(termaktub di dalamnya kualitas skills dan knowledge) dan Karakter
(mencakup talent dan attitude).

Bagi perusahaan, keahlian atau keterampilan yang dimiliki setiap
karyawannya akan menentukan kontribusi yang dapat diberikan. Itulah
sebabnya, menjadi wajar bila kebutuhan perusahaan akan karyawan
dimulai dari penilaian terhadap keahlian yang dimilikinya.

Khalifah Ali bin Abi Thalib RA pernah memerintahkan Asytar al-Nukhai,
gubernur Mesir untuk mendapatkan pekerja-pekerja yang andal. Dalam
perintahnya, ia mengatakan, "Jika engkau ingin mengangkat karyawan,
maka pilihlah secara selektif. Janganlah engkau mengangkatnya karena
ada unsur kecintaan dan kemuliaan (baca: nepotisme), karena hal ini
akan menciptakan golongan durhaka dan khianat. Pilihlah karyawan
karena pengalaman dan kompetensi yang dimiliki ...."

Begitupun, karakter memegang peran penting. Karena menjadi fondasi
nilai bagi keterampilan yang dimiliki setiap individu karyawan.
Karakter inilah yang menjadi benteng kokoh dari serangan-serangan
berbagai nilai yang merusak.

Itulah sebabnya, Ali bin Abi Thalib ra melanjutkan perintahnya kepada
Gubernur Mesir Asytar al-Nukhai untuk memperhatikan karakter sebagai
faktor penentu dalam merekrut pegawai. Berikut nukilan perintah
beliau, ".... Pilihlah karyawan karena memiliki tingkat ketakwaannya
dan keturunan orang shaleh, serta orang yang memiliki akhlak mulia,
argumen yang shahih, tidak mengejar kemuliaan (pangkat) dan memiliki
pandangan yang luas atas suatu persoalan."

Kompetensi atau keterampilan menjadi ranah pengembangan SDI.
Sebaliknya karakter sepatutnya berada pada ranah penarikan SDI.
Mengapa demikian? Karena kompetensi atau keterampilan lebih mudah
untuk diasah dan dikembangkan di masa depan dibanding karakter.

Tanpa memperhatikan keduanya, atau lebih mengedepankan keterampilan
yang dimiliki saat ini tanpa memedulikan karakternya, akan
mengakibatkan preseden buruk bagi perusahaan. Alih-alih mecapai tujuan
bisnis, justru semua kerja yang dilakukan akan semakin mengerdilkan
eksistensi perusahaan.

"Ketika engkau menyia-nyiakan amanah, maka tunggulah kehancuran.
Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, apa yang membuatnya sia-sia?' Rasul
bersabda, 'Ketika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan
ahlinya, maka tunggulah kehancurannya." (HR Bukhari).










Membersihkan Diri



Dosa apapun yang kita lakukan pasti meninggalkan kotoran dan kegelapan dalam
hati kita dan selanjutnya akan melemahkan motivasi dan semangat berbuat
kebaikan. Sebaliknya keinginan berbuat keburukan dan kejahatan yang akan
menguat di dalam diri kita, Jika kesadaran iman, ibadah dan dzikir kepada Allah
sudah tumbuh dan tertanam di dalam diri kita maka semangat dan motivasi berbuat
baik akan berlipat ganda. Dorongan untuk berbuat keburukan dan kejahatan
semakin menyusut. Kesadaran itu mengikis kotoran akibat berbuat dosa, kemudian
kita akan melakukan amal dan perbuatan baik.

Dalam kitab 'Nahj al Balaghah' Sayidina Ali Bin Abi Thalib menyerukan kepada
kita agar kita mendirikan sholat, menunaikan zakat dan puasa di bulan suci
Ramadhan. Setelah menunaikan ketiga ibadah itu beliau berpesan.

'Dengan sholat, zakat dan puasa di bulan suci Ramadhan , dosa-dosa berguguran
seperti daun-daun yang berguguran, melepaskan seperti anak panah yang
dilepaskan. Rasulullah mengumpamakan sholat dengan mata air yang memancar di
rumah seseorang. Lima kali sehari ia mencuci diri dengan mata air itu sehingga
tak sedikit pun kotoran pada dirinya. Zakat mensucikan harta, puasa di bulan
suci Ramadhan mensucikan jiwa dari segala kotoran hawa nafsu.'

'Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya (QS. Asy- Syams (91) : 9-10).




READ MORE - OBAT HATI